"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Rekomendasi wedangan legendaris di Solo, dari Mbah Wiryo hingga Pak Senen yang bertahan 60 tahun

Wedangan, Ruang Budaya yang Menyatukan Semua Kalangan di Solo

Jika Anda berada di Kota Surakarta atau Solo, jangan lewatkan untuk mampir ke wedangan alias angkringan. Tempat ini bukan sekadar warung makan, wedangan telah menjadi ikon budaya lokal yang memikat banyak orang. Wedangan memang dikenal sebagai tempat makan atau sekadar nongkrong. Khususnya bagi warga Solo, dan secara umum masyarakat Solo Raya, mulai dari Klaten, Boyolali, Sragen, hingga Karanganyar, keberadaannya sudah begitu melekat di kehidupan sehari-hari.

Dari sudut kota hingga gang-gang kecil, wedangan seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat. Yang menarik, wedangan kini bukan hanya sekadar tempat makan dan nongkrong. Lebih dari itu, wedangan telah menjelma menjadi ruang publik yang egaliter. Di tengah derasnya arus modernisasi, wedangan mampu bertahan sebagai simbol budaya sekaligus menjadi ruang yang menghapus sekat antara “Wong Gedhe” dan “Wong Cilik”.

Tidak peduli status ekonomi maupun sosial seseorang, semua orang bisa berkumpul, bercengkrama, dan melebur menjadi satu di wedangan. Di sinilah nilai egaliter dan kehangatan sosial terasa paling nyata, menjadikan wedangan lebih dari sekadar tempat makan, melainkan bagian dari identitas budaya Solo yang hidup dan dinamis.

Sajian menu yang khas dan sederhana, pun kian menambah syahdunya suasana di tempat wedangan. Apalagi di Solo, menu andalan semacam teh oplosan yang punya keistimewaan rasa yang Nasgitel (Panas, Legi, Kentel). Ditambah hidangan menu nasi kucing yang bikin ketagihan, membuat wedangan makin dirindukan oleh para pelanggannya.

Berikut rekomendasi wedangan yang patut kamu coba ketika berkunjung ke Solo alias Surakarta:

1. Wedangan Mbah Wiryo

Spot yang satu ini layak dianggap sebagai salah satu wedangan yang legendaris di Kota Bengawan. Bagaimana tidak, wedangan yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan No.25, Purwosari, Laweyan, Surakarta ini sudah ada sejak tahun 1958. Alias hampir 68 tahun lalu. Warung yang buka setiap hari mulai jam 16.00 WIB s/d 01.00 WIB ini bahkan mengklaim sebagai pioner menu jahe dan jadah wedangan Solo. Ialah Wiryo Soemarto yang menjadi pendiri sekaligus pioner dua menu tersebut.

Bagi kamu yang berpergian ke Solo dan kebetulan turun di Stasiun Purwosari, patut dicoba tempat wedangan yang satu ini, kebetulan lokasinya tidak jauh dari tempat tersebut. Untuk minuman, favoritnya di sini ialah tehnya yang khas wedangan ala Solo dan jahe dengan berbagai variasinya. Untuk makanan, nasi bandeng yang dijual wedangan ini menjadi salah satu best seller-nya. Sambalnya yang pedes menjadi salah satu kesan yang akan kamu dapat ketika menyantap nasi kucing di sini. Adapula jadah alias apollo dan pisang owolnya yang menjadi menu favorit lain para pelanggan wedangan di sini.

2. Wedangan Yo Kemin

Lokasi wedangan ini cocok jadi tujuanmu yang sedang berada di pusat Kota Solo. Ataupun bagi kamu yang berada tidak jauh dari Stasiun Balapan atau Monumen Pers. Terletak tepat di Jl. Yosodipuro No.53, Punggawan, Banjarsari, Surakarta. Wedangan ini juga termasuk salah satu yang legend, bahkan disebut-sebut sebagai pioner utama wedangan di Kota Bengawan. Berdiri lebih dari 50 tahun, wedangan Pak Yo Kemin buka mulai jam 16.00 WIB s/d 23.00 WIB.

Minuman favorit pelanggan masih didominasi oleh teh hangat dan jahe termasuk jahe tape yang paling banyak dicari. Untuk menu tambahan, kikil atau koyor menjadi salah satu favorit utama wedangan ini, di samping nasi bandeng dan nasi osengnya. Salah satu ciri khas yang menarik dari wedangan ini ialah keberadaan Teplok yang menjadi salah satu cahaya penerangan wedangan ini.

3. Wedangan Pak No Mojosongo

Wedangan ini menjadi salah satu opsi bagi kamu yang sedang berkunjung ke wilayah Solo bagian utara. Terletak di Mojosongo, wedangan Pak No menjadi salah satu wedangan dengan menu terlengkap di Kota Solo. Aneka sate-satean hingga gorengan yang super lengkap berpotensi membuatmu kalap untuk mengambilnya. Perlu diketahui, wedangan ini sudah berdiri sejak tahun 1970, termasuk salah satu yang legend juga di Solo bagian utara.

Untuk alamat lengkapnya berada di Jalan Jaya Wiyaja, Mojosongo, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah. Jam bukanya antara pukul 16.00 WIB s/d 00.00 WIB. Selain menjual menu khas angkringan seperti nasi kucing, wedangan ini juga menyediakan menu Soto dan Kare jika kamu ingin menyantap makanan berkuah. Tidak jauh dari Wedangan Pak No, ada satu rekomendasi tempat wedangan yang patut kamu coba, meskipun areanya sudah masuk Karanganyar, tepatnya Ceplukan, Wonorejo, Yakni wedangan Pak Koco spesial teh poci.

Sesuai namanya, wedangan yang dimiliki oleh Hadri Sukoco alias Pak Koco ini mengandalkan Teh Poci sebagai ujung tombak utamanya. Penyajian teh hangat yang masih menggunakan Poci jelas menjadi salah satu pemandangan langka di wedangan Solo.

4. Wedangan Pasar Gedhe

Bagi kamu yang sering main ke Pasar Gedhe malam hari, wedangan ini menjadi salah satu tempat tujuanmu. Entah untuk sekadar makan atau melepas dahaga, maupun hanya nongkrong menikmati lalu lalang jalan kota Solo. Untuk lokasinya, Wedangan Pasar Gedhe terletak di Jl. Suryopranoto No. 41, Kepatihan Wetan, Jebres, Surakarta. Terkait jam bukanya antara pukul 18.00 WIB s/d 01.00 WIB, setiap hari buka kecuali Senin.

Yang menarik dari wedangan ini tidak hanya soal menu makanan dan minumannya yang sangat bervariasi. Melainkan juga menu khasnya seperti minuman es tape kolang-kaling, pisang owol, trancam hingga menu nasi sayurnya yang tidak sedikit variasinya.

5. Wedangan “Pikulan” Pak Senen

Di antara sekian banyaknya tempat wedangan, barangkali Wedangan Pak Senen menjadi yang paling unik. Bayangkan saja, Wedangan Pak Senen menjadi satu-satunya wedangan yang barangkali masih pakai konsep lama yakni dipikul. Jika kamu ingin mencicipi nikmatnya hidangan yang dijajakan Wedangan Pak Senen, kamu bisa mlipir ke area Rumah Sakit Brayat (setiap jam 5 sore), dan Stasiun Tirtonadi Solo (setelah magrib s/d jam 24.00 WIB).

Ketika ditemui Tribunnews, Pak Senen mengatakan dirinya sudah hampir 68 tahun berjualan wedangan. “Saya sudah lama banget mas jualan beginian, lebih dari 60 tahunan,” kata Pak Senen. “Saya asalnya Sragen, setiap jam 5 sore saya di sekitar RS Brayat, setelah Magrib sampai tengah malam, saya ada di Terminal Tirtonadi,” “Saya jualannya makanan saja, kalau minuman tidak, karena tidak kuat mikulnya,” tukasnya.

Itulah beberapa rekomendasi tempat wedangan yang patut kamu coba ketika sedang berkunjung ke Solo.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *