
Dunia saat ini sedang menghadapi tantangan ekonomi yang sangat besar, dengan biaya hidup yang terus meningkat dan angka pengangguran yang semakin bertambah setiap harinya. Perang dagang antar negara serta perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) mulai mengikis keyakinan masyarakat terhadap masa depan yang pasti. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam: Apakah anak-anak dan cucu kita akan memiliki tempat di tahun-tahun mendatang?
Untuk menghadapi tantangan global ini, para pemimpin dunia melalui Resolusi PBB tahun 2015 telah merumuskan Sustainable Development Goals (SDGs), yang terdiri dari 17 tujuan utama. Tujuan-tujuan ini bertujuan untuk menciptakan dunia yang adil secara sosial, sehat secara ekologis, dan makmur secara ekonomi. Konsep keseimbangan tiga aspek kehidupan ini dikenal sebagai Triple Bottom Line. Meskipun telah berjalan selama sepuluh tahun, laporan Sustainable Development Goals Report 2025 menyebutkan bahwa saat ini masih ada 1 dari 12 orang yang mengalami kelaparan, sementara miliaran orang lainnya belum memiliki akses layak terhadap air minum dan sanitasi.

Di tingkat global, masih banyak negara yang kesulitan dalam mengurangi kemiskinan, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, serta mempercepat transisi menuju ekonomi yang berkelanjutan. Sementara dunia terus mencari solusi untuk mengatasi krisis yang berkepanjangan, masyarakat Indonesia memiliki nilai-nilai yang telah melekat dalam kehidupan sejak lama. Nilai-nilai ini menempatkan manusia, alam, dan kemakmuran sebagai dasar dari kehidupan yang berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah falsafah “Huma Betang” yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak. Falsafah ini membuktikan bahwa keseimbangan antara manusia dan alam bukanlah gagasan baru, melainkan warisan yang telah hidup selama ribuan tahun di Indonesia.
Huma Betang sendiri berasal dari nama rumah adat tradisional suku Dayak yang memiliki bentuk memanjang dan menjadi tempat tinggal bagi puluhan kepala keluarga. Penghuni Huma Betang bisa berasal dari latar belakang agama, keluarga, atau cara pandang yang berbeda, dengan jumlah mencapai 100 hingga 200 jiwa di bawah satu atap.

Struktur Huma Betang juga didesain untuk memfasilitasi interaksi intensif antar penghuninya, sehingga tercipta nilai sosial berbasis komunal yang menjadi prinsip hidup masyarakat Dayak. Nilai ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari mereka, terutama dalam hal gotong royong. Misalnya, dalam aspek ekonomi, masyarakat Dayak saling bekerja sama dalam kegiatan berladang. Tradisi ini dikenal sebagai Manugal, yaitu kegiatan berladang bersama-sama dengan semangat handep hapakat (gotong royong). Dalam Manugal, setiap keluarga memiliki perannya masing-masing; ketika satu keluarga membuka ladang, keluarga lain akan datang membantu menggarapnya.

Saat masa panen tiba, hasil pertanian dibagi sesuai kontribusi tenaga dan kebutuhan rumah tangga. Tidak berarti individu dengan tenaga paling kuat mendapatkan hasil panen terbanyak, tetapi pembagian dilakukan secara adil dan memperhatikan keluarga mana yang paling membutuhkan. Kesejahteraan bersama menjadi prinsip utama dalam Huma Betang, sehingga semua keluarga dipastikan akan berkecukupan. Tidak ada yang berlebih dan tidak ada yang kekurangan. Prinsip ini sejalan dengan pepatah masyarakat Dayak, “sama keme, sama mangat, sama susah,” yang berarti suka dan duka ditanggung bersama.
Sebelum membuka lahan baru untuk berladang, masyarakat Dayak terlebih dahulu melakukan upacara Manyanggar sebagai bentuk permohonan izin kepada roh penjaga hutan. Mereka sadar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari ekosistem yang lebih besar, sehingga perlu memberikan penghormatan kepada alam. Setelah itu, lahan dibersihkan dan ditanami berbagai jenis pangan seperti padi, jagung, umbi-umbian, dan sayuran.

Meski kebutuhan sehari-hari masyarakat Dayak bergantung pada kegiatan berladang, mereka meyakini bahwa pemanfaatan hutan dan lahan harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Masyarakat Dayak memiliki pemahaman spiritual bahwa hutan, tanah, sungai, dan seluruh ekosistem adalah bagian dari tatanan hidup yang sakral, sehingga hubungan manusia dengan alam harus harmonis. Ketika musim panen berakhir dan kebutuhan tercukupi, masyarakat Dayak menerapkan sistem ladang berpindah atau shifting cultivation. Mereka tidak langsung kembali menggunakan lahan yang sama, tetapi memberikan waktu jeda selama beberapa tahun agar alam dapat memulihkan diri secara alami.
Praktik-praktik seperti tradisi Manugal, upacara Manyanggar, dan sistem ladang berpindah menunjukkan bahwa keseimbangan antara manusia, alam, dan kesejahteraan telah lama menjadi landasan kehidupan masyarakat Dayak. Falsafah hidup mereka adalah perwujudan dari Triple Bottom Line yang sering kita dengar, jauh sebelum istilah itu lahir. Barangkali, untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan, kita tidak perlu mencari terlalu jauh. Cukup kembali ke nilai-nilai Huma Betang yang telah hidup dan berakar di tanah kita sendiri.











