"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Kisah Warga Kampung Cahaya Bertahan 30 Tahun di Area Pemakaman



JAKARTA,

Kampung Cahaya yang dulu lebih dikenal sebagai Kampung Gasong menyimpan kisah tiga dekade warga yang hidup di tengah area Pemakaman TPU Menteng Pulo.

Kampung ini berdiri di atas lahan yang dulunya rawa di kawasan kuburan. Beberapa bagian masih bersinggungan langsung dengan area TPU Menteng Pulo.

Hanya berjarak beberapa ratus meter dari Mal Kota Kasablanka, kampung ini bagai ruang lain dalam peta Jakarta.

Gemerlap kaca tinggi perkantoran beradu kontras dengan tumpukan karung plastik dan seng berkarat yang jadi dinding rumah.

Di sinilah, sejak akhir 1980-an, para warga yang tergusur dari kawasan lain mencari tempat untuk bertahan hidup.

Sejarah Awal Kampung Cahaya

“Saya sudah tinggal di sini 30 tahun lebih. Dulu cuma ada tiga rumah. Tetangga saya bukan orang, malah ikan sama kambing,” ujar Nuria (60), warga tertua yang ditemui, Rabu (12/11/2025).

Nuria masih ingat betul masa ketika kampung ini belum bernama, belum padat, dan belum dikenal siapa pun.

“Awalnya susah banget. Gak punya air sendiri, listrik juga patungan. Tapi karena ada gotong royong, lama-lama betah,” kata Nuria sambil tersenyum kecil.

Nuria termasuk generasi pertama yang menempati lahan kosong di sisi timur TPU Menteng Pulo.

Dari sinilah, lambat laun, hunian semi permanen mulai bermunculan hasil dari keputusasaan orang-orang kota yang kehilangan rumah karena penggusuran.

Kehidupan Warga di Tengah Sampah

Warga lain Cipto (75), pemulung, mengaku pindah ke kawasan itu setelah tak sanggup lagi membayar kontrakan di Manggarai.

“Waktu itu rumah saya kena gusur buat pembangunan terminal besar. Akhirnya nyari tempat di sini,” ucap dia.

Ia tahu betul bahwa tanah yang dipijak bukan miliknya.

“Katanya tanah TPU, tapi ya gak ada pilihan. Kalau nanti dipakai lagi buat makam, saya cuma bisa bilang terima kasih. Selama ini udah dikasih tempat tinggal aja udah syukur,” ujar dia.

Meski begitu, kekhawatiran soal penggusuran tak pernah benar-benar hilang.

“Dulu dua kali digusur, tahun 2010 dan 2016. Tapi warga tetap balik lagi. Karena mau ke mana lagi?” katanya lirih.

Sebagian besar warga di kampung ini memang bukan penduduk Menteng Asli. Mereka datang dari berbagai daerah di Jakarta bahkan luar kota.

Ada yang eks-penghuni kolong jembatan, ada juga bekas warga Pasar Rumput dan Kampung Melayu yang rumahnya tergusur proyek.

Kini, menurut warga, terdapat sekitar 130 kepala keluarga (KK) yang menetap di Kampung Cahaya.

“Dulu sempat sampai 450 KK,” kata Asmonah (48), pengurus warga sekaligus pemilik warung kecil di tengah kampung.

Hidup di Antara Tumpukan Sampah

Bau plastik terbakar dan udara lembap adalah aroma harian Kampung Cahaya. Dari kejauhan, tumpukan karung berisi botol dan kardus tampak bersanding dengan nisan-nisan tua.

Di bawah bayangan gedung pencakar langit, para pemulung memilah barang sambil bercanda ringan.

“Kalau pagi saya bantu istri ngumpulin botol. Pendapatan gak seberapa, paling lima puluh ribu sehari,” kata Cipto.

“Tapi ya disyukuri. Namanya hidup dari mulung, gak bisa ngeluh,” lanjut dia.

Sekitar 20 persen warga masih menggantungkan hidup dari aktivitas pemulung. Sebagian lainnya bekerja di proyek, menjadi ART, atau ojek.

Namun tumpukan sampah di sekitar kampung tetap jadi masalah menahun.

“Sekarang sampah numpuk dua meter. Deponya belum selesai dibangun, jadi buangnya susah,” ujar Cipto.

Pengelolaan Sampah

Dihubungi terpisah, Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhsan, menjelaskan, pengelolaan sampah di wilayah Menteng Atas sedang ditingkatkan.

“DLH sedang membangun TPS3R Menteng Atas, prosesnya sudah tahap konstruksi,” kata Yogi.

Terkait pembinaan warga pemulung, DLH DKI sudah tiga kali melakukan sosialisasi bersama anggota DPRD.

“Kami juga menyiapkan program edukasi dan pemberdayaan bagi warga sekitar agar pengelolaan sampah lebih tertata,” ujar dia.

Namun, ketika ditanya soal penataan atau rencana khusus bagi komunitas Kampung Cahaya, Yogi menyebut belum ada kebijakan spesifik.

“Fokus utama kami masih pada peningkatan fasilitas pengelolaan sampah secara menyeluruh,” katanya.

Hidup Dibayang-Bayang Penggusuran

“Dulu kami digusur dari samping kelurahan. Cuma dikasih bantuan sejuta, habis itu disuruh cari tempat sendiri,” kata Asmonah dengan mata berkaca-kaca.

Ia datang ke Kampung Gasong pada 2007, setelah tak lagi mampu membayar kontrakan.

“Banyak yang ke sini karena kepepet. Waktu itu tempat ini masih rawa, penuh pohon, ular pun gak takut,” ucap dia.

Menurut dia, warga tak menolak bila harus pindah, asalkan disiapkan tempat yang layak.

“Kami bukan minta rumah mewah. Cuma tempat yang manusiawi dan bisa cari nafkah. Kalau cuma disuruh pindah tapi gak ada kerjaan, ya sama aja kelaparan,” ungkap dia.

Asmonah mengenang, pada 2016 sempat ada tawaran dari pemerintah untuk pindah ke rumah susun di Pondok Kopi dan Rawa Bebek.

“Tapi saya pikir, kalau saya mungkin bisa, tapi pemulung lain gimana? Mereka makan dari hasil mulung di sini. Kalau jauh, bisa gak makan,” ucap dia.

Akhirnya, warga tetap bertahan. Camat kala itu memberi izin lisan agar mereka menempati lahan selama belum digunakan.

“Katanya boleh tinggal, tapi jangan kumuh. Harus rapi, biar tamu-tamu juga layak lihatnya,” kata Asmonah.

Sekolah di Tengah Sampah

Di tengah gang kecil kampung, berdiri sebuah bangunan berukuran delapan meter dengan nuansa coklat, YOI School (Yayasan Obama Indonesia), dulu dikenal sebagai Bilik Pintar.

Tempat belajar nonformal ini didirikan oleh Teguh Suprobo (58), atau akrab disapa Bowo, bersama istrinya, Asmonah.

“Awalnya sekitar tahun 2012 kami bikin homeschooling kecil. Muridnya cuma lima orang. Kami ajarin baca, tulis, berhitung,” kata Bowo kepada.

“Dulu namanya Obama Edu Care. Kami pakai nama ‘Obama’ karena semangatnya: perubahan dan pendidikan,” lanjut dia.

Sekolah ini tumbuh dari garasi rumah di antara gunungan sampah. Kini, di bawah naungan Yayasan Obama Indonesia Bermartabat, sekolah itu menjadi tempat belajar bagi puluhan anak-anak pemulung.

“YOI School itu simbol cahaya. Makanya kami lebih suka kampung ini dikenal jadi Kampung Cahaya,” kata Bowo.

Bantuan datang dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, yang sejak 2019 membantu membangun fasilitas belajar, alat permainan, dan MCK.

“Dulu anak-anak kami dibilang enggak boleh main ayunan di kompleks sebelah, katanya ‘anak Gasong’. Sekarang kami punya ayunan sendiri,” ujar Asmonah sambil tersenyum.

Beberapa anak binaan YOI School kini bahkan melanjutkan kuliah.

“Sejak 2022, kami kerja sama dengan Universitas Al Azhar Indonesia. Setiap tahun ada satu anak lanjut kuliah lewat MOU,” kata Bowo.

Salah satunya, seorang pemuda bernama Bora, kini sudah semester tujuh di Fakultas Hukum.

“Dulu anak pemulung, sekarang mahasiswa. Itu pencapaian luar biasa buat kami,” ujar dia.

Tanpa RT dan Surat Tanah

Secara administratif, Kampung Cahaya memang unik. Warganya tersebar di di berbagai RT berbeda karena tidak memiliki struktur resmi.

“Saya RT 14, ada yang RT 16, ada RT 5. Tapi kita saling jaga. Kalau ada acara RT luar, ya ikut aja,” kata Nuria.

Warga tak punya sertifikat tanah, bahkan surat sewa resmi pun tidak ada. Hanya izin lisan dari kelurahan atau pengelola makam.

Namun, mereka tetap membayar listrik, membangun jalan semen hasil swadaya, dan memperbaiki saluran air secara mandiri.

“Kelurahan bantu semen buat akses TPU, pernah juga mau diaspal. Kami bersyukur masih diperhatikan,” kata Asmonah.

Untuk urusan sosial, Asmonah sering jadi penghubung antara warga dan pemerintah. Ia membantu mengurus KTP, KK, bahkan pernikahan warga yang tak tercatat.

“Banyak yang dulu anaknya gak bisa sekolah karena gak punya dokumen. Sekarang pelan-pelan bisa sekolah, bahkan ada yang SMA,” ujarnya.

Meski hidup di bawah bayang-bayang penggusuran, warga Kampung Cahaya enggan menyerah.

Mereka menamai kampungnya “Cahaya” karena ingin dikenal bukan sebagai pemulung, tapi sebagai warga yang berjuang.

“Kami boleh tinggal di atas tanah kuburan, tapi kami punya cita-cita seperti orang lain di Menteng,” kata Asmonah.

Kompleksitas Jakarta

Sementara di sisi lain, para ahli tata kota menilai fenomena kampung seperti ini menunjukkan kompleksitas wajah Jakarta.

Pengamat tata kota Denny Zulkaidi menilai, kampung dalam kota bisa dilestarikan bila memiliki karakter khas atau nilai sosial yang kuat.

“Kalau ada nilai luar biasa, kampung seperti itu seharusnya bisa jadi bagian dari sejarah kota,” ujarnya.

Nilai itu tampak jelas di Kampung Cahaya semangat saling bantu, gotong royong, dan tekad memperjuangkan pendidikan meski di tengah keterbatasan.

Sebuah wajah lain dari Jakarta yang mungkin luput dari peta pembangunan, tapi nyata dalam denyut kehidupan.

Menatap Masa Depan

Senja tiba di Kampung Cahaya. Dari sela rumah, terlihat matahari tenggelam di balik gedung kaca Kota Kasablanka.

Anak-anak berlarian di depan YOI School sambil membawa buku tulis. Dari dalam warung, aroma gorengan buatan Asmonah merebak, bercampur dengan bau tanah dan plastik.

“Harapan saya sederhana,” kata Nuria, menatap jalan sempit di depan rumahnya.

“Bisa tinggal di sini sampai akhir hayat. Anak saya kerja di sini juga. Kalau disuruh pindah, mau makan dari mana?,” lanjutnya.

Sementara Cipto, yang rambutnya sudah memutih, menatap tumpukan kardus di samping rumah.

“Saya cuma ingin pemerintah lihat kami bukan sampah. Kami juga manusia,” ujarnya perlahan.

Tiga dekade sudah warga Kampung Cahaya bertahan di tanah yang bukan milik mereka. Di tengah ketidakpastian, mereka menyalakan cahaya kecil dari tumpukan sampah cahaya tentang ketekunan, pendidikan, dan hak untuk hidup layak di jantung Ibu Kota.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *