Momen Bersejarah di Dapur
Kulihat kedua bola mataku mampu memintai, ada masa depan berkeliling suatu saat nanti hanya dengan melihatnya. Empat sehat lima sempurna. Suatu ketika aku pernah berazam pada diriku sendiri. Jika gajiku nanti mencapai 5 juta sebulan, rencananya akan kumasak sarapan selama sebulan penuh makanan yang bergizi setiap pagi. Namun, kalau dipikir-pikir nggak tahu waktunya kapan itu akan terjadi. Entah kenapa, sejak aku menuju jenjang lebih serius (persiapan pernikahan), minatku bukan lagi tentang Bakery and Cake, tetapi makanan Nusantara Indonesia. Ingin kucoba berbagai jenis resep masakan khas dari Sabang sampai Merauke, mencicipi citra rasa yang autentik.
Hari yang Bersejarah
Sabtu, 8 November 2025. Hari itu adalah hari yang bersejarah bagiku. Padahal sebelumnya aku belum memiliki perencanaan yang matang dikarenakan tugas menulis masih sangat banyak. Biasanya, setiap kali aku selesai mengerjakan beberapa bab bagian menulis, akan kuhadiahi diriku dengan bereksperimen di dapur membuat makanan. Meskipun berakhir gagal, seperti Bika Ambon tak bersarang. Aku sangat suka sekali memasak, hanya saja tak cukup modal memumpuni yang sesuai dengan versiku. Itulah mengapa, aku sangat suka sekali menyicil bahan-bahan pertepungan di saat aku sudah mendapatkan sedikit finansial.
Sudah lama ibu mengomel karena dandang barunya belum digunakan. Padahal, aku pernah mengatakan ingin berencana membuat Nasi Liwet, sehingga ibu pun membelikan dandang yang berukuran cukup untuk masakan 2 kg. Namun aku sendiri tak tahu kapan tepatnya akan membuat masakan itu. Maka kupilih pada hari itu, kejutan sederhana untuk calon menantu ibuku. Sudah lama kami tidak bertemu, sekitar dua bulanan. Bahkan tetangga kiri-kanan pada penasaran, “ke manakah lelaki yang menaklukkan hati ibu untuk anak gadisnya yang selama ini belum pernah membawa lelaki mana pun ke rumah, kecuali lelaki itu?”
Aku berusaha menenangkan bahwa diriku baik-baik saja, “enggak apa-apa Bu jarang ketemu. Asal langkahnya pasti saja.” Sembari berharap semoga hubunganku dengannya memang benar-benar lancar ke jenjang pernikahan. Meskipun aku sendiri tidak tahu kapan tepatnya. Sebab perempuan butuh kepastian, sedangkan lelaki butuh persiapan. Apalagi ia merupakan orang perantauan di kota Medan. Berjuang sendirian memang tidaklah mudah.
Persiapan dan Eksperimen Masakan
Hari sebelumnya aku mengatakan padanya kalau hari Sabtu ini akan membuat Nasi Liwet untuk tidak meninggalkan rasa curiga. Kupilih menu itu, karena kalau nasi kuning sungguh sangat kentara momennya orang yang sedang berulang tahun. Jadi, seolah itu adalah sebuah eksperimen, hati mantap dan bahagia dalam membuatnya. Resep perdana, memasak makanan berat yang nikmat dinikmati makan bersama keluarga. Setelah paginya berbelanja di pajak pasar 5 Marelan. Aku segera menuliskan resep di buku catatan dari video Youtube.
Resep Nasi Liwet
Bahan A
– 5 bawang merah
– 3 bawang putih
– 5 cabe rawit utuh
– 1 papan petai kupas
– 2 batang serai
– 4 daun jeruk
– 4 daun salam
Bahan B
– 3 sdm teri goreng
– 400 gram beras
– 400 ml air matang
– 60 ml santan instan
Bahan C
– 1 sdm kaldu ayam
– 1 sdt gula
– 1/2 sdt garam
Cara Membuat
1. Masak bahan A dengan menumisnya hingga harum
2. Masukkan bahan B dan C hingga airnya menyusut
3. Kemudian kukus di dalam dandang hingga matang
Ada bahan yang tidak kugunakan di resep itu, yaitu petai. Ibuku tak percaya kalau nasi liwet pakai petai. Namun kupikir juga tidak menjadi masalah. Hanya saja, sepertinya bagiku rasanya sedikit asin. Mungkin kalau di resep selanjutnya tidak perlu pakai garam hanya kaldu ayam saja rasanya sudah sangat cukup sekali.
Kejutan yang Tidak Terduga
Kupikir, usahaku akan sia-sia pada waktu itu. Telah kupersiapkan semuanya dengan sepenuh hati dan ia sebelumnya menolak untuk datang ke rumah. Namun ketika ia kubilang Nasinya sudah selesai dibuat dan itu untuknya. Akhirnya ia datang juga ke rumah menikmati Nasi Liwet yang kubuat meskipun hanya sebentar.
Apresiasi Jerih Payah
Aku bahagia sekali dia menjadi orang pertama yang menikmati Nasi Liwet ini selain Ibu. Momen itu membuat kedekatan paling hangat. Kami saling berbincang masing-masing tentang dunia Pertanian. Ia mengungkapkan aktivitas Ibunya yang menanam Padi di sawah dan ibuku curhat tentang hasil panen ubinya yang lumayan karena keberhasilan dalam Pupuk Mutiara (NPK).
“Maaf hanya ini yang bisa kuhadiahkan di hari ulang tahunmu,” ucapku sebelum ia pulang ke rumah karena langit sudah mendung.
“Enggak enak jadi ngerepotin deh.”
Aku malah tersenyum. “Enggak apa-apa loh, kan senang gitu rasanya. Akhirnya bisa masak juga.” Kalau nggak ya enggak masak-masak karena kurang motivasi dalam membuatnya. Ingin kusampaikan dengan narasi detail sebenarnya pada artikel ini. Singkat saja, ingin kukatakan pada dunia bahwa malam itu aku sangat bahagia.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











