“Mi, ayo makan nasi gorengnya pakai piring biru ceper. Mas kangen makan nasi goreng bareng pakai piring besar itu.”
Tiba-tiba saya teringat dengan piring yang saya beli ketika usia si sulung 1 tahun. Piring yang mengingatkan saya pada sebuah kisah masa lalu yang sering kami lakukan. Sepiring cerita dari nasi goreng di atas piring biru ceper.
Piring Biru Ceper
Piring ini memiliki warna biru muda polos, ukuran diameternya 32 cm, terbuat dari melamin, tebal, dan sedikit datar. Ketika terbentur, bunyi khasnya langsung bisa ditebak. Sebuah tempat yang sering kami gunakan ketika di Ranau dulu. Loh kok baru di Ranau menggunakannya? Pengen tahu ceritanya?
Empat belas tahun sudah, dia ada di antara perabotan dapur saya. Tak ada corak apa pun padanya, tetapi kami menikmati sekali nasi goreng yang terhidang di sana. Ya, sepiring cerita nasi goreng di piring ceper biru bikin hari mengharu biru.
Piring itu saya perkenalkan ketika anak saya mulai bisa makan makanan seperti kami. Saya memperkenalkan makanan keluarga nasi goreng. Ternyata, dia lahap sekali memakannya.
Melihat kondisi tersebut, saya pun mencobanya menggunakan kembali piring itu saat makan makanan keluarga (bukan nasi goreng), sama lahapnya. Hingga akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa piring ceper itu bisa membuat si sulung berselera makan. Namun, apa sih rahasia kok bisa seperti itu?
Setelah kembali ke kampung halaman, piring ceper itu tersimpan di deretan barang-barang yang belum dibongkar. Tiba-tiba si tengah dan si bungsu nyeletuk, “Mi, ayo makan nasi gorengnya pakai piring biru besar. Mas kangen makan nasi gorengnya pakai piring besar itu.”
Bergegaslah saya membongkar-bongkar barang yang belum disenggol setelah pindah. Aha! Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Buru-buru saya taruh nasi goreng sayur dan telur di atasnya.
“Tuh, kan, ada!” seru si tengah. Ya, pastinya piring ceper biru itu, tetapi saya belum sempat saja memberesi semua barang.
Nasi Goreng Kebahagiaan
Setelah melebari nasi goreng itu di piring agar dingin, mereka makan dengan lahap disertai celoteh ringan, sedang, atau pun tinggi. Setiap orang mendapatkan tempatnya 1/5 saja. Setiap orang tidak boleh keluar dari bagiannya, kecuali orang lain membolehkannya masuk.
“Enak banget, Mi! Nasi goreng sayur dan telur buatan Ummi memang mantap!” puji si tengah yang memang paling suka dengan nasi goreng. Sebenarnya si tengah ini paling rewel kalau nasi goreng ditambahi sayur-mayur. Namun, saya selalu memasukkan ke dalam nasi goreng itu bukan hanya satu jenis sayur.
Sayur yang biasa saya masukan ke dalam nasi goreng di antaranya kubis, kecambah, wortel, labu siam, sawi putih, tomat, jamur, dan sayuran tersedia di rumah. Selain sayur, biasa saya tambahkan telur, suiran ayam goreng, irisan tipis dan kecil tempe. Bagi saya menu nasi goreng itu menu yang paling sederhana dan seimbang.
Dalam sepiring nasi goreng ada karbohidrat, lauk, sayuran, dan tambahan buah setelah makan. Buah yang paling sering adalah pepaya, jeruk, dan pisang. Saya sering berkata kepada anak-anak bahwa makanan apa pun yang kita konsumsi harusnya baik untuk tubuh. Artinya makanan itu harus memenuhi kriteria menu makanan seimbang.
Dalam laman Konimex.com, menu makan seimbang adalah menu yang terdiri dari beranekaragam makanan dalam jumlah dan porsi yang sesuai. Setiap kali makan, 50 persen piring diisi dengan sayur dan buah, sedangkan 50 persen lainnya diisi dengan makanan pokok dan lauk pauk.
Jadi, seimbang itu bukan lauknya yang banyak atau sayuran yang banyak. Seimbang porsinya itu lauk, sayur, buah, dan makanan pokoknya sehingga dapat pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan perkembangan.
Sepiring cerita nasi goreng di piring ceper bukan hanya tentang gizi seimbang, tetapi juga tentang kebersamaan dan kehangatan yang membuat setiap orang menikmatinya. Setiap suapan darinya menjadikan anak-anak tumbuh sehat dan bahagia.











