"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

2,5 Tahun Terjeda: Cariu Tetap Sama, Rindu Kian Bertambah

Perjalanan yang Mengingatkan Kembali pada Diri Sendiri



Perjalanan sore itu terasa seperti membuka kembali halaman lama dari sebuah buku yang sempat kutinggalkan terbuka. Langit belum sepenuhnya condong ke jingga, tapi hawa senja sudah merambat pelan, seperti mengajak siapa pun untuk memulai perjalanan dengan hati yang lebih tenang.

Kurang lebih sudah dua setengah tahun aku tidak menjejakkan kaki kembali ke Cariu – sebuah rentang waktu yang cukup panjang untuk membuat ingatan memudar, tapi cukup pendek untuk menyisakan rindu yang tak pernah benar-benar pergi.

Seperti biasa, perjalanan ke Cariu merupakan perjalanan hati dan batin bersama Abah, sosok panutan yang sudah kuanggap sebagai orang tua dan keluarga. Kami berangkat dari rumah Abah. Dua jam perjalanan menembus jalanan yang kadang lengang, kadang penuh kejutan kecil khas daerah pinggiran: motor yang tiba-tiba belok tanpa lampu sein, warung-warung sederhana yang masih setia pada bentuk lama, serta ladang hijau yang tak pernah gagal membuat hati terasa lapang.

Dan entah kenapa, setiap kali Abah mengajak, diriku selalu merasa seperti anak kecil yang akan pergi piknik – padahal tujuannya tetap sama, menemani beliau berdakwah. Sebagai pekerja di pabrik, dan hidup sering kali berjalan seperti mesin: ritmis, terprediksi, dan melelahkan. Maka perjalanan bersama Abah selalu menjadi jeda yang kurindukan – jeda yang membuat kepalaku kembali bernapas, membuat hatiku kembali ingat bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar target dan menghitung waktu.

Di dekat Abah, semuanya terasa hangat dan diterima. Ada semacam kedamaian yang susah dijelaskan. Mungkin karena keteduhan beliau, mungkin karena cara beliau mendengar tanpa menghakimi, atau mungkin karena aku merasa selama di samping beliau, aku akan selalu berada di tempat yang benar.

Jalan yang Masih Sama, Tapi Hatiku Tidak

Motor berjalan pelan, seolah memberi waktu untuk meresapi kembali setiap sudut yang dulu kukenal. Cariu ternyata hampir tidak berubah. Bangunan-bangunannya masih sederhana, jalanannya masih setia pada lekuk yang sama, dan hawa pedesaan masih terasa akrab seperti dulu. Ya, yang berubah itu diriku. Dulu, setiap perjalanan hanya dianggap sebagai rutinitas. Sekarang, setiap menitnya terasa seperti hadiah. Jika dulu hanya sekadar menemani Abah. Kini aku merasa sedang pulang pada sebuah versi diri yang sempat hilang di antara tumpukan pekerjaan dan rutinitas.

Kupandangi panorama sekitar dengan bebas, ku biarkan angin membelai dan menerpa wajah dengan lembut. Ada aroma tanah, sedikit wangi rumput, dan suara lalu-lalang kendaraan. Semua terasa biasa saja, tapi entah mengapa, semuanya justru semakin menusuk rindu. Aku tersenyum kecil. Cariu tidak berubah, tapi justru di sanalah aku melihat jejak perubahan dalam diriku sendiri.

Majelis yang Menunggu dalam Sunyi Malam

Kami tiba saat matahari sudah tenggelam, sementara majelis baru dimulai ketika malam benar-benar jatuh. Di antara keduanya ada jeda panjang – jeda yang lama-lama menjadi rumah kecil untuk hati yang lelah. Di situlah aku diam, menenangkan diri, dan menggantungkan telinga pada suara Abah yang selalu punya cara menurunkan segala resahku pelan-pelan.

Mendampingi Abah berdakwah bukan hanya menemani perjalanan. Ini tentang merawat warisan hati – tentang belajar mencintai sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Tentang menundukkan ego dan menyadari bahwa di balik kesibukan, kita selalu butuh tempat untuk kembali. Dan bagiku, tempat itu bukan hanya Cariu – tetapi kebersamaan dengan beliau; Abah.

Sesampainya kami di majelis, seperti biasa kami disambut oleh Pak Obay – tuan rumah sekaligus sahabat Abah yang selalu membuat suasana terasa akrab sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Cariu. Meski dua setengah tahun berlalu tanpa perjumpaan, komunikasi kami sebenarnya tidak pernah benar-benar putus. Kadang beliau mengirim kabar singkat, menanyakan kesehatan, atau sekadar mengingatkan agar tetap jaga diri.

Saat aku mengabari bahwa aku sudah kembali ke Bogor, beliau langsung menyambut dengan riang, ajakan untuk segera bersilaturahmi ke rumahnya. Dan benar saja, malam itu kami duduk bertiga seperti dulu: aku, Abah, dan Pak Obay. Di antara uap kopi hitam tanpa gula, obrolan kecil beliau berdua mengalir begitu hangat – perihal jamaah, tentang kehidupan, dan hal-hal sederhana yang entah kenapa selalu berhasil menenangkan.

Di momen itu, aku tersadar: mungkin salah satu alasan Cariu terasa begitu dekat di hati adalah karena beliau – keramahannya, ketulusannya, dan cara beliau membuat orang jauh seperti aku merasa seolah-olah punya keluarga baru di sini.

Tak Banyak Berubah, Tapi Rinduku Selalu Pulang

Saat perjalanan pulang, malam semakin pekat. Lampu motor membelah gelap jalanan yang mulai sepi. Angin malam terasa lebih dingin, menampar lembut wajahku, sementara deru mesin motor menjadi irama yang menenangkan – seperti latar musik bagi pikiran yang perlahan penuh. Aku sadar sesuatu: ternyata yang membuatku rindu bukan hanya tempatnya, tetapi seluruh perjalanannya.

Cariu tidak banyak berubah dalam dua setengah tahun. Tapi rindu, rupanya, tidak butuh perubahan untuk tumbuh. Ia hanya butuh waktu. Dan waktu sudah memberiku cukup alasan untuk kembali. Malam itu, ketika kendaraan kami mulai menepi, aku merasakan sesuatu yang sederhana tapi pasti: selama Abah masih mengajak, aku akan selalu siap berangkat. Kembali ke Cariu, kembali ke perjalanan-perjalanan kecil yang menenangkan itu, dan kembali menjadi diriku yang lebih jernih setiap kali berada di dekat beliau.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *