"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Jejak Rempah VOC yang Kini Berubah Jadi Permukiman di Jakarta Utara

Sejarah dan Kondisi Bangunan Gudang Kayu Westzidjche Zeeburg/Pakhuis

Di tengah perkembangan kota Jakarta, masih tersisa bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu dari masa kolonial. Komplek Gudang Kayu Westzidjche Zeeburg/Pakhuis, yang dulunya merupakan gudang penyimpanan rempah oleh Vareenidge Oostindische Compagnie (VOC), kini difungsikan sebagai tempat tinggal warga di Jalan Tongkol, RT 02 RW 04, Penjaringan, Jakarta Utara.

Bangunan ini dibangun pada abad ke-17 dan awalnya terdiri dari delapan gudang. Hingga saat ini, tujuh di antaranya masih berdiri dan menjadi aset PT Texmaco. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menyebutkan bahwa kompleks tersebut pernah digunakan sebagai gudang tekstil oleh P.N. Sandhang dan juga sebagai asrama tentara. Namun, seiring waktu, fungsi bangunan tersebut berubah, dan beberapa bagian kini ditempati oleh warga.

Penghuni dan Perubahan Fungsi Bangunan

Salah satu penghuni, Halima (51 tahun), mengatakan ia menempati bangunan bekas asrama polisi karena merupakan cucu dari seorang veteran. Awalnya, gudang tersebut terbagi menjadi 12 kamar, tetapi seiring waktu, banyak penghuni pindah, sehingga kamar-kamar kosong dirapikan dan diberi pintu masing-masing hingga membentuk delapan rumah.

Kondisi struktur bangunan masih mempertahankan bahan kayu ulin yang mulai memudar. Lantainya pun masih menggunakan kayu bawaan dari masa kolonial. Meski bagian atas bangunan bisa ditinggali, Halima lebih memilih tinggal di lantai dasar agar dapat menjaga kondisinya tetap baik. Ia berharap pemerintah dapat memperbaiki area komplek yang kini tampak gelap dan kurang terawat.

Masalah Struktur dan Keamanan

Warga lain, Nisa (17 tahun), mengeluhkan kondisi lantai rumahnya yang sudah miring akibat tanah yang menurun dan sering terkena banjir. Kayu-kayu di bangunan itu juga mulai keropos karena umur dan paparan air. Nisa berharap bangunan tersebut dapat direnovasi untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan.

Meskipun kondisinya memprihatinkan, bangunan ini masih dihuni oleh 10 anggota keluarga dari tiga generasi. Mereka tidak diperbolehkan mengubah bangunan menjadi permanen atau mengambil bagian-bagian asli. Jika ada warga yang ketahuan mengambil besi dari bangunan tersebut, maka akan dilaporkan ke polisi.

Perspektif Sejarawan tentang Keberlanjutan

Sejarawan Asep Kambali menilai bahwa bangunan bersejarah ini seharusnya tidak dijadikan hunian. Menurutnya, dari sisi cagar budaya, idealnya bangunan tersebut tidak digunakan sebagai tempat tinggal. Struktur bangunan yang rentan karena lama tak terurus dapat mempercepat kerusakan jika dipaksakan sebagai hunian tanpa standar konservasi.

Asep mengingatkan risiko seperti korsleting, kebocoran, dan kebakaran yang bisa terjadi. Ia menyarankan agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan sisa gudang kayu warisan VOC tersebut. Jika diperlukan, penghuni harus disediakan tempat tinggal layak.

Langkah yang Harus Dilakukan Pemerintah

Asep juga mendorong pemerintah DKI Jakarta untuk segera memberikan kepastian status cagar budaya bagi komplek Gudang Kayu Westzidjche Zeeburg/Pakhuis. Ia menegaskan bahwa ini adalah kewenangan gubernur dan harapannya Pramono Anung dapat bergerak cepat.

Selain itu, Asep mengusulkan agar komplek tersebut digabung dengan kawasan Museum Bahari dalam satu konsep kawasan pelabuhan bersejarah seperti Sunda Kelapa. Pendanaan dapat berasal dari APBD, CSR BUMN/BUMD, serta dukungan publik dan komunitas pecinta sejarah.

Partisipasi Publik dalam Pelestarian

Asep menekankan pentingnya partisipasi publik dan komunitas dalam pelestarian kawasan tersebut. Ia menyebutkan bahwa sejak 25 tahun lalu, Komunitas Historia Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk melestarikannya. Bahkan, mereka yang pertama kali mengenalkan gudang kayu ini ke publik melalui kegiatan-kegiatan heritage atau wisata kampung tua.

Menurut Asep, gudang kayu ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi juga memori kolektif bangsa. Ia berharap gedung ini dapat dimanfaatkan untuk pengetahuan, pendidikan, dan pariwisata supaya Jakarta sebagai kota global terus diangkat.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *