"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Mengharukan, 5 Cerita Pelanggan Warung Makan Tanpa Harga Tetap Milik Mantan Drummer Radja

Perjalanan Seno Aji Wibowo dalam Berbisnis Kuliner

Eks drummer band Radja, Seno Aji Wibowo, kini memilih untuk fokus pada bisnis kuliner serta sewa studio. Ia mengubah ruko empat lantai di Jalan Boulevard Timur Blok NB 1, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara menjadi empat lokasi bisnis yang berbeda setiap lantainya.

Lantai pertama adalah warung makan dengan konsep bayar seikhlasnya, sedangkan lantai kedua merupakan studio dance dan balet hasil kerja sama dengan On Point Ballet School. Lantai ketiga dijadikan sebagai studio musik yang disewakan, dan lantai keempat menjadi ruang biliar. Setiap lantai memiliki ciri khas tersendiri, membuat tempat ini menjadi pusat aktivitas yang menarik bagi berbagai kalangan.

Konsep Bayar Seikhlasnya yang Unik

Warung makan di lantai pertama menjadi bisnis yang penuh cerita. Seno dan istri, Femia, benar-benar membiarkan siapa pun untuk membayar seikhlasnya ketika makan di warungnya. Ide tersebut muncul dari pengalaman saat dirinya dan keluarga sering berkunjung ke Yogyakarta.

“Kita sering makan di satu tempat namanya Kopi Lali. Konsepnya makan rumahan, makan sepuasnya bayar seikhlasnya. Kita punya cita-cita, someday kalau punya bisnis ingin berbagi seperti itu,” ujar Seno saat berbincang.

Menurutnya, konsep berbagi menjadi nilai utama yang ingin dihadirkan di warung makan tersebut. Meski terinspirasi dari Jogja, Femia menegaskan bahwa menu yang disajikan berbeda.

“Menunya beda. Ini masakan rumahan. Tergantung hari ini mau masak apa, biasanya tanya anak-anak mau apa,” kata Femia. Setiap hari tersedia sekitar enam menu yang terus berganti. Hari itu, menu makan yang disajikan yakni telur dadar, ayam, mie goreng, bakwan dan sambal goreng.

“Kalau hari ini ayam, besok ikan. Di-rolling aja terus,” ujarnya. Proses memasak pun dilakukan sendiri oleh Femia dengan bantuan beberapa pegawai.

Pengalaman Menarik dari Pelanggan

Femia bercerita, ada pelanggan yang membayar makannya senilai 49 perak alias Rp 49. Pelanggan itu membayarnya menggunakan qris. Ia tidak mengerti apakah si pelanggan tersebut memang tidak memiliki uang atau hanya mengetes. Namun, tidak sedikit yang membayar Rp 15.000-20.000, bahkan melebihi apa yang dimakan sampai Rp 100.000.

Pembayaran yang lebih dari harga normal makanan itu menjadi subsidi silang bagi yang membayar murah. “Rata-rata Rp 15 sampai Rp 20 ribuan. Tapi ada yang bayar Rp 100 ribu. Pernah juga dapat Rp 49 rupiah lewat QRIS,” ungkap Femia.

Meski ada yang membayar sangat kecil, mereka tetap menerimanya dengan lapang dada. “Namanya seikhlasnya ya sudah. Mungkin memang nggak mampu, atau mau ngetes. Kita nggak tahu,” ujar Seno menimpali.

Cerita-Cerita Mengharukan dari Pembeli

Sejak dibuka, pembeli Tjahaya District datang dari berbagai kalangan. Sebagian besar adalah karyawan sekitar ruko, tetapi banyak pula yang berasal dari kalangan lain. Femia menceritakan salah satu momen mengharukan ketika seorang anak kecil dari rombongan badut jalanan masuk ke warungnya.

“Begitu masuk, ruangannya dingin, anak badutnya dia langsung guling-gulingan di lantai. Senang banget. Saya lihatnya sampai terharu,” tuturnya.

Ada pula penjual kopi keliling yang rutin makan di sana. Suatu hari, saat menerima gajinya, ia datang membawa es coklat untuk Femia. “Dia bilang, ‘Ibu, ini es coklat buat ibu’. Ya Allah, terenyuh banget,” cerita Femia.

Dikasih Parfum

Kisah lain datang dari seorang pria yang awalnya hanya mampu membeli nasi putih karena hanya memiliki Rp 5.000. Setelah dibantu diberi lauk, ia kembali beberapa hari kemudian membawa parfum sebagai bentuk terima kasih.

Keberkahan yang Tak Terlihat

Femia mengaku konsep bayar seikhlasnya bukan tanpa risiko. Namun bagi mereka, keberkahan justru datang dari hal-hal yang tak dapat dihitung dengan uang. “Kita tentu cari untung, apalagi bapak sudah tidak ngeband lagi. Tapi yang penting kita jalan dengan bismillah. Yang bikin semangat itu doa dari banyak orang,” katanya.

Seno menambahkan, banyak pembeli yang mendoakan usaha mereka setiap kali selesai makan. “Ada yang bilang semoga berkah, semoga masuk surga sejasat-jasatnya. Itu menghibur lebih dari materi,” ujarnya.


Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *