Sekitar beberapa tahun terakhir, banyak teman sekolah saya yang membagikan hasil Spotify Wrapped mereka di status WhatsApp. Mereka tampak bangga dengan apa yang sudah mereka dengarkan selama 2025. Bagi anak-anak sekarang mungkin terdengar berlebihan, tapi bagi kami, ini cukup menarik untuk dibahas!
Ada yang memiliki “listening age” antara 75 hingga 82 tahun karena sering mendengarkan musik oldies, ada juga yang memiliki “listening age” antara 40 hingga 45 karena hanya mendengarkan musik yang mereka kenal, dan bahkan ada yang memiliki “listening age” 31 karena terlalu sering mengikuti tren Gen Z. Kami tertawa sendiri karena ternyata usia kami sudah setua itu, padahal rasanya baru lulus kuliah kemarin. Dua dekade yang lalu. Kami kemudian mulai mengenang masa 90-an, yang ternyata menjadi masa terbaik untuk menikmati variasi genre musik.
Anak-anak 90-an adalah mereka yang lahir di sepanjang tahun 1980-an dan menikmati masa remaja di tahun 1990-an, sehingga mereka disebut sebagai generasi 90-an. Sementara itu, orang-orang yang lahir di tahun 1970-an menikmati masa remaja di tahun 1980-an, sehingga mereka disebut sebagai generasi 80-an. Sebelum adanya pengelompokkan generasi oleh Pew Research Center, yang memunculkan istilah Silent Generation, Baby Boomer, Gen X, Milenial, dan Gen Z, istilah seperti Gen Alpha, generasi terkini setelah Gen Z, muncul dari karya Mark McCrindle.
Di masa kami dan teman-teman menikmati masa remaja, variasi musik yang menjadi tren lebih beragam, mulai dari ska, grunge, metal, rock, hingga dangdut. Ya, dangdut pada waktu itu memiliki pasar pendengarnya sendiri yang dipimpin oleh Soneta, Elvie Sukaesih, Evie Tamala, Muchsin Alatas, Caca Handika, atau Meggy Z. Mereka terasa jadul, ya, pamornya moncer di 70-an dan 80-an… wkwkwk.
Pastinya, dangdut juga mencapai popularitas yang sejajar di era 90-an dengan hadirnya penampilan elegan anti-norak-norak-club dari Manis Manja Grup, Cici Paramida, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Ashraff, atau Mansyur S.
Lagu Anak, Ska, Punk, sampai Grunge
Joshua Suherman, Eno Lerian, Agnes Monica (sekarang Agnez Mo), Chikita Meidy, Cindy Cenora, Bondan Prakoso, dan Trio Kwek-Kwek juga merupakan penyanyi era 90-an, bedanya waktu itu mereka masih penyanyi cilik. Lagu-lagu mereka sering menghiasi layar kaca karena dulu ada acara khusus lagu anak. Pencipta lagu anak paling populer waktu itu adalah Papa T. Bob.
Ketenaran para penyanyi cilik waktu itu bisa disandingkan dengan kepopuleran Lyodra dan Tiara Andini di masa sekarang. Kemudian, tahun 1998-1999 setelah orde baru tumbang, semua genre musik akhirnya bisa punya basis penggemar besar karena mereka tidak harus lagi ngumpet-ngumpet untuk manggung.
Akhir 90-an juga jadi masa emas bagi band-band punk, metal, grunge, dan ska. Di tiap pentas seni era ini pasti tidak ketinggalan ada Superman is Dead, Tipe-X, Cupumanik, atau Ahmad Band (iya, punyanya Ahmad Dhani, alirannya grunge). Penyanyi solo ada, tapi band dan grup vokal lebih mendominasi. Kita tahu di jajaran grup vokal ada AB Three (sekarang ganti nama jadi B3), Elfa’s Singer, Warna, ME, Coboy, dan yang paling legendaris: Trio Libels.
Trio Libels dianggap sebagai boyband pertama Indonesia jauh sebelum boyband K-Pop muncul. Jaman dulu belum ada autotune sehingga boyband dan girlband kalau mau nyanyi, ya, suaranya harus bagus, bukan hasil polesan mesin, kecuali Bening. Grup vokal empat perempuan ini cuma punya satu vokalis bersuara merdu, lainnya cuma numpang nampang sebagai eks cover girl majalah remaja.
Masa emas band dan grup vokal memudar di tahun 2010-an, digantikan oleh boyband dan girlband ala Korea seiring munculnya demam K-Pop di Indonesia. Boyband dan girlband tidak bertahan lama seiring dengan makin bertambahnya usia para personelnya. Kini, di era 2020-an bisa dibilang sebagai eranya para penyanyi solo.
Musik dan Telepon Rumah
Variatif dan besarnya basis penggemar musik di era 1990-an mungkin karena belum ada smartphone dan penggunaan internet pun masih sangat terbatas. Ponsel dulu masih segede gaban dan berteknologi AMPS. Internet paling gampang diakses pakai telepon rumah dengan memencet nomor 080989999 Telkomnet Instan.
Sudah internetnya super lemot, mahal tak terhingga, dan seringkali putus tiba-tiba kalau nyokap dapat telepon dari bestie-nya yang ngajak arisan, setelah pakai Telkomnet Instan bulan depan nyokap pasti ngamuk karena tagihan telepon jadi lebih mahal puluhan kali lipat. Karena itu kami tidak men-download lagu dari internet, melainkan merekamnya dari radio menggunakan tape boombox dan kaset kosong. Radio seperti Prambors dan Hard Rock jarang memutar lagu utuh jadi sulit merekamnya. Kalau Mustang FM, Indika FM, dan Female Radio sering, jadi koleksi musik kami berasal dari radio.
Kenapa tidak beli? Beli juga, tapi dalam satu kaset cuma ada satu penyanyi dengan 10-12 lagu yang tidak semuanya kami suka, jadi merekam lagu dari radio adalah cara terbaik menikmati musik dari banyak genre dan penyanyi. Duh, kok, ngajarin bajakan?! Cuma untuk didengar sendiri. Pinjam-meminjam kaset kami lakukan hanya kaset original yang beli, bukan hasil rekaman.
Ada kaset P-Project, Shania Twain, dan Mariah Carey saya yang dipinjam teman dan tidak dikembalikan. Tiap ditagih selalu alasannya lupa, lupa. Sampai saya tagih ke rumahnya di Jl. Wijaya I Kebayoran Baru, alasannya lupa naruh. Rumahnya dekat perempatan Santa-Tendean. Orang kaya, tapi ngembat kaset orang…hiks.. Mana semua kaset dibeli dari uang jajan saya, gak minta sama orang tua. Lha, malah curhat, kocak.
Musik dan Pensi
Telepon rumah juga jadi alat komunikasi satu-satunya. Ajaibnya tiap janjian tidak ada dari kami yang datang terlambat. Padahal janjian cuma dua kali. Satu di sekolah, satu lagi lewat telepon malam sebelum bertemu besok harinya. Salah satu janjian anak 90-an yang terheboh adalah kalau mau nonton pentas seni alias pensi.
Masa 90-an akhir bisa dibilang masanya pentas seni kampus dan anak sekolah. Kampus-kampus top Jakarta sering bikin pensi yang menghadirkan bintang tamu band. Tidak ketinggalan, SMA-SMA juga bikin pensi serupa yang sekaligus menampung band-band pelajar se-Jakarta. Kadang-kadang pensi SMA tidak perlu mengundang band papan atas, cukup band SMA saja. Beberapa band dari SMA ada yang terkenal, tapi saya lupa namanya. Jadi dengan mengundang mereka saja sudah cukup bikin pensi itu dijejali anak sekolah dari seantero Jakarta. Hmm, Jaksel, aja, sih, kayaknya.
Saya dan teman-teman soalnya tidak pernah datang ke pensi di Jakarta Utara atau Jakarta Barat. Jauh, males naik busnya. Masih anak SMA juga.
Kesukaan pelajar dan mahasiswa bikin pentas seni dan datang ke pensi mungkin karena di jaman itu hiburan yang enak dinikmati rame-rame cuma musik. Ada film, tapi banyak mengalami sensor ketat sehingga tidak bisa dinikmati secara utuh lagi. Grup lawak Warkop DKI bahkan nyaris masuk penjara karena sering menyelipkan kritik sosial dan politik dalam lawakan mereka. Indro Warkop dalam satu wawancara TV pernah bilang kalau mereka nyaris masuk penjara, tapi batal karena cucu Soeharto ternyata penggemar berat Warkop DKI.
Entah cerita Indro itu benar atau hanya anekdot, yang jelas di masa orde baru memang tidak banyak hiburan yang bisa dinikmati oleh anak muda. Selain masih jadul, pemerintahnya juga otoriter. Makanya saya heran di medsos mayoritas mengelu-elukan orde baru hanya karena memberantas PKI dan harga beras murah.
Masa Terbaik Menikmati Musik Utuh
Sekarang hiburan sudah makin beragam, musik kadang cuma jadi pelengkap postingan medsos atau mengiringi berita viral. Kita bahkan sering tidak tahu judul lagu yang sedang populer, cuma tahu kalau potongan lagu itu sedang viral. Tidak heran kalau mendengarkan musik bagi generasi diatas 2010-an bukanlah sebuah hobi karena sudah ada beragam pilihan hobi lain, terutama yang berkaitan dengan gaya hidup digital.
Maka saya bisa katakan bahwa tahun 1990-an adalah masa terbaik di mana kita bisa menikmati musik dan lagu secara utuh secara mudah. Tidak harus dari aplikasi, tanpa internet, dan minim biaya. Tahun 1980-an, kan, juga sudah beragam musiknya?! Tahun 1980-an teknologi masih terlalu jadul, mesin-mesin belum canggih, bahkan belum ada internet.
Jadi, 1990-an adalah masa terbaik menikmati musik utuh karena radio dan televisi yang jadi satu-satunya sarana hiburan, sering menampilkan lagu-lagu baru. Anak metromini, geng mobil, anak sekolah negeri, anak sekolah swasta, anak bantaran kali, anak perumahan elit bisa mudah menyatu hanya dengan musik. Mereka hadir sama-sama di satu pentas musik dan bergembira. Tidak lagi ingat latar belakang sosial mereka yang di masa sekarang pasti terlihat banget njomplangnya.
Generasi non-1990-an yang baca tulisan ini gak perlu baper, ini cuma obrolan Milenial tua yang mencoba bernostalgia ditengah beban hidup yang serasa tiada habisnya sejak The Cranberries dan Britney Spears tidak lagi jadi bagian dari musik kami.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











