"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Keunggulan Teknologi Padi Salibu: Hemat Biaya, Cepat Panen, Hasil Lebih Tinggi

PR GARUT

Embun masih menempel di ujung daun padi, sementara suara ayam bersahutan memecah kesunyian. Di balai desa, puluhan warga, sebagian besar petani, tampak berkumpul dengan wajah antusias. Mereka hadir bukan untuk rapat rutin atau gotong royong, melainkan mengikuti pelatihan budidaya padi Salibu, sebuah inovasi pertanian yang memungkinkan petani panen berkali-kali hanya dari satu kali tanam.

Tim Dosen Pulang Kampung dari Institut Pertanian Bogor, IPB University memperkenalkan Teknologi Padi Salibu kepada para petani di Kampung Cikamplong Desa Mekarjaya Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Dosen Pulang Kampung IPB University, yang mendorong para dosen untuk kembali ke daerah asalnya dan berbagi ilmu demi pemberdayaan masyarakat. Kali ini, para dosen memperkenalkan teknologi padi Salibu (Salinan Ibu), sebuah terobosan budidaya yang terbukti efisien, hemat biaya, dan meningkatkan hasil.

Mengenal Sejarah Singkat Padi Salibu

Padi Salibu merupakan singkatan dari Salinan Ibu, yaitu metode budidaya di mana tanaman padi mampu tumbuh kembali dan dipanen dua hingga tiga kali tanpa perlu dibajak atau ditanam ulang. Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) Sukamandi, dan kini mulai diperkenalkan lebih luas oleh berbagai perguruan tinggi, termasuk IPB University. Awalnya, metode ini populer di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan. Namun karena terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya tanam, kini teknik Salibu mulai diadopsi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Desa Mekarjaya yang menjadi lokasi penerapan terbaru.

Antusiasme Warga dan Tim Dosen Pulang Kampung dari IPB University

Pelatihan yang digelar di Mekarjaya berlangsung penuh semangat. Tim dosen dari IPB University memaparkan prinsip dasar dan manfaat padi Salibu dengan bahasa sederhana dan disertai demonstrasi langsung di sawah. “Dengan teknik Salibu, petani bisa panen hingga tiga kali tanpa menanam ulang. Ini hemat biaya, hemat tenaga, dan hasilnya tetap bagus,” ujar Dr. Ir. Resfa Fitri. Warga pun tampak antusias mencoba. Mereka diajak langsung ke lahan untuk melihat cara pemangkasan batang padi pascapanen hingga munculnya tunas baru dari batang lama. Lumpur di kaki tak menyurutkan semangat mereka.

Salah satu peserta, Dedi (45), tampak antusias. “Biasanya habis panen ya tanam lagi. Kalau bisa tumbuh lagi tanpa tanam ulang, tentu hemat tenaga dan biaya. Saya mau coba di sawah sendiri,” ujarnya sambil tersenyum. Selain memberikan pelatihan, tim IPB juga membagikan mesin potong, pupuk organik, dan panduan teknis agar petani bisa langsung menerapkan metode Salibu secara mandiri di lahan masing-masing.

Manfaat Padi Salibu bagi Petani

Dari hasil penelitian dan praktik lapangan, metode padi Salibu terbukti memberikan banyak keuntungan bagi petani:

Hemat Biaya Produksi

Petani tidak perlu membeli benih atau membajak sawah setiap musim. Penghematan bisa mencapai 30–40% dari total biaya tanam.

Efisien Waktu dan Tenaga

Karena tidak ada proses tanam ulang, petani bisa fokus pada perawatan dan pemupukan tunas baru.

Panen Lebih Sering

Dari satu kali tanam, petani bisa panen hingga dua hingga tiga kali dengan hasil yang relatif stabil.

Ramah Lingkungan

Tanah tidak rusak akibat pembajakan berulang, serta penggunaan bahan bakar untuk traktor berkurang.

* Meningkatkan Kemandirian Petani

Petani dapat mengatur waktu tanam, panen, dan biaya operasional lebih fleksibel sesuai kondisi lahan mereka.

Langkah-Langkah Menerapkan Teknik Salibu

Berikut langkah-langkah yang perlu dilaksanakan agar hasil padi Salibu optimal:

1. Panen Pertama

Potong batang padi sekitar 2–3 cm di atas tanah, jangan mencabut akar atau membakar sisa batang.

2. Pemilihan Rumpun Sehat

Pilih rumpun dengan batang kuat dan banyak anakan sebagai calon Salibu.

3. Perawatan Awal

Setelah panen, jaga tanah tetap lembab dan biarkan tunas baru tumbuh dari batang lama.

4. Penyulaman dan Pembersihan

Setelah 7–10 hari, bersihkan batang mati dan lakukan penyulaman jika ada bagian sawah yang kosong.

5. Pemupukan dan Pengairan

Gunakan pupuk organik atau NPK secukupnya. Jaga ketinggian air agar tidak terlalu dalam.

6. Panen Kedua dan Seterusnya

Dalam waktu sekitar 90–100 hari, padi sudah siap panen kembali. Proses ini bisa diulang hingga rumpun tidak lagi produktif.

Harapan Baru dari Desa Mekarjaya

Menjelang siang, pelatihan pun usai, namun semangat warga tetap menyala. Mereka masih berdiskusi dengan para dosen mengenai hama, cuaca, dan peluang pengembangan padi organik. Di wajah-wajah mereka, tersirat optimisme akan masa depan pertanian yang lebih mandiri, efisien, dan ramah lingkungan. Program Dosen Pulang Kampung IPB University menjadi bukti nyata bahwa ilmu dari kampus dapat berpadu dengan kearifan lokal untuk menciptakan perubahan positif. Dari Desa Mekarjaya, semangat inovasi ini tumbuh dan menyebar, mendorong petani Indonesia menuju pertanian yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Tim Dosen Pulang Kampung IPB University Perkenalkan Teknologi Padi Salibu di Kampung Wakaf Cikamplong Sukabumi

Program “Dosen Pulang Kampung” (DOSPULKAM) IPB University sukses digelar di Kampung Cikamplong yang dikenal juga sebagai Kampung Wakaf Cikamplong Desa Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi sejak hari Jumat, 27 Juni 2025 hingga 07 Desember 2025. Pengabdian ini bertajuk “Pelatihan dan Pembinaan Budidaya Teknologi Padi Salibu: Program Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat”. Program ini merupakan wujud kontribusi nyata akademisi dalam mengatasi tantangan masyarakat, khususnya terkait tingkat keberhasilan panen padi di desa tersebut.

Program DOSPULKAM sendiri adalah kegiatan pengabdian dosen yang bertujuan agar dosen berkontribusi pada pengembangan masyarakat di daerah asal mereka. Kegiatan Dosen Pulang Kampung (DOSPULKAM) di Desa Mekarjaya dibuka oleh Ketua Tim, Dr. Asep Nurhalim, Lc., M.Pd.I., dosen dari Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University, yang memiliki ikatan kuat karena merupakan masyarakat asli desa tersebut. Dalam sambutan dan materi motivasinya, Dr. Asep menyoroti betapa luhurnya profesi petani, menegaskan bahwa bertani adalah pekerjaan yang sarat akan nilai ibadah dan ekonomi Islam. Beliau secara gamblang menyampaikan:

“Bertani bukan sekadar mencari penghidupan, tetapi mengikuti sunnah Nabi Muhammad untuk mengolah tanah, bernilai sedekah, dan menjadikan kita lebih dekat pada sikap tawakal,” ajak beliau kepada para petani Desa Mekarjaya.

Mengenal Inovasi Padi Salibu (Salinan Benih Ibu)

Inti dari kunjungan perdana ini adalah pengenalan teknologi inovatif yang disampaikan oleh anggota tim, yaitu Dr. Ir. Resfa Fitri, M.Pl.St. yang ahli di bidang pertanian. Beliau memperkenalkan teknologi Padi SALIBU atau Salinan Benih Ibu. Metode ini merupakan budidaya yang memanfaatkan batang bawah padi sisa panen sebagai penghasil tunas/anakan baru. Dr. Resfa menjelaskan bahwa padi Salibu menawarkan keunggulan yang signifikan dibandingkan metode tanam pindah tradisional. Petani dapat memanen 7 hingga 10 hari lebih awal. Potensi hasilnya juga meningkat drastis, mencapai 100-115% dari hasil tanam pindah biasa. Selain itu, system ini tidak memerlukan pengolahan tanah (dibajak) dan persemaian. Padi Salibu juga hemat air, benih, dan biaya sehingga menjadi lebih efisien.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas. Para peserta aktif dalam kegiatan post-test dan tanya jawab tentang mekanisme pembudidayaan Padi Salibu, termasuk jenis padi yang digunakan, serta manfaat. “Pelatihan ini sangat menjadi ilmu baru bagi kami petani. Harapannya, Salibu ini dapat diterapkan dan memperoleh hasil panen yang lebih baik dan lebih cepat,” ujar salah seorang Masyarakat saat penyampaian kesan pesan. Program Dosen Pulang Kampung ini terus berlanjut hingga akhir tahun 2025, mencakup pelatihan mendalam dan praktik langsung penanaman Padi Salibu di lahan pertanian desa. Diharapkan, inovasi ini menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan di Desa Mekarjaya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *