"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Berita Terkini: Rahasia Pohon Kapur di Kota Kapur

Pohon Kecapur yang Nyaris Punah di Desa Kota Kapur

Pohon kecapur, atau dikenal juga sebagai pohon kampar, memiliki diameter sekitar 50 sentimeter (cm) dan tinggi yang menjulang. Meskipun usianya masih muda, pohon ini menjadi bukti nyata dari masa lalu yang kaya akan sejarah dan kekayaan alam.

Masyarakat lokal menyebut pohon ini dengan istilah “kecapur”, yang merupakan sumber getah untuk pembuatan kapur barus. Pohon kampar ini ditemukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi di Desa Kota Kapur, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penemuan ini memperkuat kembali peran daerah tersebut sebagai pusat peradaban kuno dan penghasil kapur barus dunia.

Ali Akbar (42), Juru Pelihara Situs Kota Kapur, adalah salah satu saksi hidup dari penemuan pohon kecapur ini. Sejak tahun 2011, ia bertugas menjaga situs ini. Menurut Ali, orang tua-tua dulu memanfaatkan batang kecapur sebagai bahan utama dinding rumah. Prosesnya melibatkan pengelupasan kulit batang, pengeringan, dan akhirnya digunakan sebagai bahan konstruksi.

“Saya pernah tinggal di rumah berdinding batang kecapur,” katanya saat ditemui pada Kamis (4/12).

Karakteristik Unik Pohon Kecapur

Pohon kecapur memiliki karakteristik batang yang sangat khas. Secara visual, bentuknya menyerupai pohon durian, bukan tanaman serat seperti rotan atau nipah. Batangnya berakar panjang, keras, dan tidak berserabut. Masyarakat setempat menyebutnya “batang kepur”.

Dari segi ukuran, pohon kecapur termasuk dalam kategori pohon hutan besar dan berumur panjang. Dulu, diameter batangnya bisa mencapai ukuran yang sangat besar, bahkan ada yang sebesar drum. Umurnya puluhan tahun, mirip dengan pohon durian, mungkin lebih lama lagi.

Ali menjelaskan bahwa pohon ini tumbuh secara liar di hutan rimba dan tidak pernah dibudidayakan seperti pohon karet atau durian. “Pohon ini tidak ditanam oleh warga. Dia tumbuh liar di hutan-hutan. Berbeda dengan durian yang sengaja ditanam dan dipelihara,” katanya.

Penebangan Besar-Besaran dan Pengaruhnya

Puncak penebangan pohon kecapur terjadi sekitar tahun 1990-an, ketika kebutuhan bahan bangunan rumah masih bergantung pada kayu lokal. Saat itu, hampir ribuan rumah di Desa Kota Kapur menggunakan kayu kecapur untuk dinding. Namun, karena tidak ada pengaturan atau upaya penanaman kembali, regenerasi alami pohon ini tidak mampu mengimbangi eksploitasi.

Seiring waktu, bahan bangunan modern mulai menggantikan kayu kecapur. Masyarakat beralih ke batako, papan industri, dan material lainnya. Akibatnya, penggunaan kayu kecapur sebagai bahan dinding rumah semakin berkurang.

Temuan Arca dan Artefak Penting

Penemuan pohon kecapur disampaikan oleh Ketua BPK Wilayah V Jambi, Agus Widiatmoko, pada awal Desember lalu. Ia menyatakan bahwa pohon kampar—sumber getah untuk pembuatan kapur barus—menjadi bukti nyata bahwa Kota Kapur pernah menjadi sentra produksi komoditas yang diperdagangkan ke berbagai negara.

Selain itu, tim BPK juga menemukan berbagai artefak seperti arca, fragmen keramik China, botol kaca kuno, potongan emas, uang emas, manik-manik, dan batangan emas di situs seluas 154 hektare. Semua artefak ini kini diamankan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian lebih lanjut.

Ancaman Terhadap Situs Kota Kapur

Situs Kota Kapur mencakup permukiman tua di tepi sungai, struktur benteng yang dikelilingi parit, serta pelabuhan kuno. Kawasan berbukit ini juga menjadi sumber air bagi beberapa aliran sungai. Namun, sebagian wilayah kini berubah menjadi lahan tambang dan perkebunan, sehingga memicu kerusakan lingkungan dan mengancam keberadaan situs.

Agus menilai bahwa revitalisasi bersama antara pemerintah daerah dan masyarakat mutlak diperlukan demi melindungi Kota Kapur sebagai cagar budaya bernilai sejarah tinggi.

Keberlanjutan dan Upaya Pelestarian

Meski jumlah pohon kecapur yang tersisa sangat sedikit, Ali Akbar tetap optimis bahwa upaya pelestarian dapat dilakukan. Ia mengatakan, kemungkinan besar pohon kecapur masih ada di wilayah hutan di luar kawasan desa, meski jumlahnya tidak banyak.

“Kalau bicara punah, ya bisa dibilang hampir punah. Sudah susah sekali kita temukan sekarang,” ujarnya.

Dengan penemuan pohon kecapur dan artefak-artefak penting, Kota Kapur kembali menunjukkan jejak kejayaannya sebagai penghasil kapur barus dunia.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *