Kehidupan yang Hancur oleh Banjir Bandang
Alizar, seorang pria berusia 53 tahun, mengambil keputusan nekat untuk kembali ke rumahnya saat banjir bandang melanda. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan tiga karung padi yang menjadi persediaan keluarganya selama bulan puasa. Ia masuk melalui jendela dengan menggunakan papan kayu, meskipun air sudah mencapai pinggangnya.
Hanya beberapa menit setelah padi berhasil diselamatkan, rumah Alizar luluh lantak akibat banjir bandang yang menghancurkannya. Seluruh harta benda keluarga hilang, hanya tersisa kamar tanpa dinding yang menjadi tempat merajut kenangan.
Kini, Alizar dan keluarganya tinggal di pengungsian sambil menunggu bantuan dari pemerintah. Di tengah rasa sedih dan kehilangan, ia masih tetap bersyukur karena tidak ada anggota keluarga yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.
Pengalaman Pahit Saat Banjir Bandang Menghancurkan Rumah
Banjir bandang yang terjadi pada Kamis malam (27/11/2025) di Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, membuat Alizar nekat kembali ke rumahnya. Keputusan itu diambil hanya beberapa menit sebelum air menghancurkan rumahnya.
Alizar hanya bisa tertawa melihat rumah yang dibangunnya selama 35 tahun hancur dihantam banjir bandang. Di dalam kamar rumah Alizar yang masih tersisa lantai keramik dan atap, ia begitu ramah menyambut kedatangan tamu. Kamar itu tak lagi memiliki dinding dan pintu, tampak menganga dari kejauahan, namun di dalamnya terdapat keluarga Alizar yang beristirahat.

Kenangan yang Tersisa
Hanya itu yang tersisa dari rumah Alizar, selebihnya hancur, bahkan tumpukan gelondongan kayu juga terlihat menyatu bersama dinding kamarnya. Senyum yang ia lontarkan bukan menandakan kegembiraan, melainkan luka mendalam usai rumahnya hancur akibar banjir bandang.
“Saya hanya bisa tertawa, meski hati sudah tidak tahu lagi rasanya. Tajatuah ka dalam aia mato wak deknyo, hanyo itu panguek hiduik,” ujar Alizar kepada para tamu.
Rumah dengan hasil jerih payah Alizar yang sudah berdiri selama 35 tahun, seketika luluh lantah akibat banjir bandang beberapa waktu lalu itu. Tak didapat secara mudah, rumah itu ia bangun dari hasil bertaninya selama ini di Kampung Guo. Tetapi nasib berkata lain, kini hanya kenangan yang dapat ia nikmati di kamar rumah itu.
Upaya Membersihkan Ruang yang Tersisa
Bahkan, ia sengaja membersihkan bagian kamar tanpa dinding itu dalam dua hari terakhir. Meski tinggal lantai keramik, atap dan beberapa sisa dinding, namun cukup menjadikan kamar itu sebagai tempat untuk merajut kenangannya.
“Rumah ini sudah dibersihkan dua hari terakhir bersama anak dan istri, untuk tempat istirahat, karena teringat dengan rumah,” jelasnya dengan suara pelan.
Kini, Alizar bersama keluarga tak tahu harus tinggal di mana. Untuk sementara waktu, mereka menetap di lokasi pengungsian yang tak jauh dari rumahnya. Tetapi untuk membangun sebuah rumah layak huni seperti sediakala, Alizar mengaku tak mampu. Hanya uluran tangan pemerintah yang bisa diharapkan Alizar, sebab tak ada lagi harta yang tersisa.
Peristiwa Besar Pertama dalam Kehidupan Alizar
Banjir bandang di Kampung Guo, Kelurahan Kuranji itu terjadi pada Kamis (27/11/2025) malam. Menghantam berbagai lahan pertanian, rumah, hingga fasilitas umum lainnya yang tak luput dari amukan galodo.
Saat kejadian, Alizar sudah mengungsi sejak sore bersama keluarga ke tempat yang lebih aman. Sebab sejak sore, debit air di depan rumah Alizar tak lagi wajar seperti pada umumnya. Debit air itu dipicu oleh curah hujan tinggi dalam tiga hari berturut-turut. Sehingga membuat bukit di sana juga longsor dan diperparah dengan banjir bandang.
“Kami sudah mengungsi sejak sore, pas malamnya sekitar pukul 23:00 WIB, rumah saya hancur diterjang galodo. Ketika itu tangis saya pecah saat menyaksikannya, karena terlihat jelas dari tempat pengungsian,” kata Alizar sembari mengingat kejadian pilu itu.
Penyelamatan Barang-Barang Penting
Kendati demikian, Alizar mengaku sempat menyelamatkan beberapa barang di dalam rumahnya sebelum galodo datang. Seperti tiga karung padi, mesin pemotong rumput dan chainsaw yang sempat diambil ke dalam rumah bersama menantunya. Bermodal papan kayu, Alizar bersama menantu masuk melalui jendela rumah untuk mengambil tiga karung padi.
Meski saat itu debit air sudah tinggi dan bahkan sudah mulai mengalir di dalam rumah. “Istri mengingatkan saya untuk mengambil padi, karena untuk bekal bulan puasa. Jadi saya ambil bersama menantu ke dalam rumah,” terang pria berumur 53 tahun itu sembari memperagakan aksinya.
Harapan dan Kepercayaan pada Masa Depan
Kini, Alizar tetap bersyukur dengan keadaan yang tengah menimpa dirinya. Setidaknya, tidak ada anggota keluarga bahkan dirinya yang menjadi korban. Meski sesekali Alizar menyempatkan diri untuk balik ke rumah, merajut kenangan dan bersenda gurau bersama keluarga.
Menjelang adzan Ashar, beberapa anggota keluarga Alizar terlihat kembali ke tempat pengungsian. Memikul tikar dan membawa sembako bantuan dari uluran tangan orang yang sudah diterima keluarganya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











