Banjir di Kabupaten Kutai Timur Masih Menimpa Dua Kecamatan
Banjir yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai terjadi sejak 10 Desember 2025. Saat ini, masih dua kecamatan yang terendam banjir, meskipun sebelumnya banjir sempat merendam hingga lima kecamatan. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, total ada 18 kecamatan yang terdampak banjir.
Dua Kecamatan Masih Terendam Banjir
Saat ini, hanya dua kecamatan yang masih tergenang air, yaitu Kecamatan Telen dan Kecamatan Kaubun. Kepala BPBD Kutai Timur, Sulastin, menyampaikan bahwa dari 18 kecamatan di Kutai Timur, sebelumnya ada sekitar lima kecamatan terdampak banjir. Saat ini, kondisi banjir di sebagian besar wilayah telah membaik.
Di Kecamatan Telen, banjir masih menggenangi dua desa, yakni Desa Marah Haloq dan Desa Long Melah. Sulastin menjelaskan bahwa Desa Marah Haloq menjadi wilayah terdampak terparah karena berada tepat di bantaran sungai dan berada di jalur anak sungai. Ia menyebutkan bahwa pada puncak banjir, ketinggian air di Desa Marah Haloq diperkirakan mencapai lebih dari satu meter dan telah masuk ke dalam rumah warga.
Sementara itu, di Desa Long Melah, kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut dengan penurunan ketinggian air sekitar 40 hingga 50 sentimeter.
Wilayah Terparah: Desa Marah Haloq dan Long Melah
Camat Telen, Petrus Ivung, menerangkan bahwa ada 8 desa di wilayahnya yang terdampak bencana banjir. Di antaranya adalah Desa Marah Haloq, Long Melah, Long Segar, Kernyanyan, Long Noran, Muara Pantun, Juk Ayaq, dan Rantau Panjang. Ia menyebutkan ada 338 KK yang rumahnya terendam banjir dan 85 KK yang terdampak banjir.
Menurut Petrus, Desa Marah Haloq dan Long Melah merupakan wilayah yang sering terkena banjir setiap bulan Desember. Namun, ia menilai kondisi banjir tahunan yang terjadi setiap bulan Desember tidak separah tahun 2019 dan 2022 lalu.
Debit Air Turun di Sejumlah Kecamatan
Sementara itu, sejumlah kecamatan lain yang sebelumnya terdampak kini dilaporkan sudah aman. Kecamatan Bengalon, Wahau, Kongbeng, Batu Ampar, dan Kaubun telah mengalami penurunan debit air secara signifikan. Di Kecamatan Batu Ampar, banjir hanya tersisa di beberapa titik jalan, namun permukiman warga sudah aman. Di Kecamatan Wahau, hanya satu desa yang sempat tergenang, yakni Desa Jaq Luay, tetapi saat ini aktivitas masyarakat di wilayah tersebut sudah kembali berjalan normal.
Faktor Penyebab Banjir
Terkait penyebab banjir, Sulastin menyebut bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama. Namun, di beberapa wilayah, kondisi geografis serta sistem drainase yang kurang optimal turut memperparah dampak banjir. Misalnya, di Bengalon, selain hujan deras, wilayahnya merupakan daerah rawa dan dataran rendah. Drainase juga kurang berfungsi karena adanya lumpur dan sampah. Di Desa Marah Haloq, penyebab utamanya adalah lokasi yang berada di bantaran sungai.
Kesiapsiagaan Banjir
Sejak banjir terjadi, BPBD Kutai Timur telah mengerahkan tim reaksi cepat (TRC) ke lokasi terdampak. BPBD juga menyalurkan bantuan logistik berupa kebutuhan pokok kepada warga terdampak, seperti beras, minyak goreng, susu, dan bahan pangan lainnya. Selain logistik, BPBD Kutai Timur juga menyiagakan perahu karet di hampir seluruh desa terdampak. Di Kecamatan Wahau, disiagakan sembilan unit perahu karet, sementara di Kecamatan Telen dan Batu Ampar, perahu karet juga telah didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing desa.
Status Waspada
Meski kondisi banjir berangsur surut, BPBD Kutai Timur masih menetapkan status waspada. Hal ini mengingat intensitas hujan diperkirakan masih cukup tinggi hingga akhir Desember 2025, sehingga potensi banjir susulan tetap ada, terutama di wilayah hulu dan hilir sungai. BPBD Kutai Timur memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara berkala. Tim di lapangan tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya debit air akibat hujan susulan.











