Bencana Banjir Bandang di Aceh: Korban dan Kerusakan yang Membengkali
Bencana banjir bandang yang melanda provinsi Aceh telah menimbulkan dampak yang sangat besar, baik dari segi korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur. Berdasarkan data dari Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 19.00 WIB, sebanyak 419 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 32 lainnya masih dalam status hilang.
Banjir bandang ini tidak hanya mengakibatkan kematian, tetapi juga menyebabkan banyak warga terdampak. Sampai saat ini, jumlah warga yang terdampak mencapai 514.383 kepala keluarga (KK) atau sekitar 1.975.012 jiwa. Selain itu, terdapat 3.845 orang mengalami luka ringan dan 479 orang dengan luka berat. Sejumlah besar penduduk harus meninggalkan rumah mereka, dengan total pengungsi mencapai 130.968 kepala keluarga atau 484.944 jiwa.
Kerugian yang dialami masyarakat tidak hanya berupa korban jiwa, tetapi juga kerusakan pada berbagai fasilitas umum. Dari data yang dirilis, tercatat 258 unit perkantoran, 207 unit tempat ibadah, 305 unit sekolah, 206 rumah sakit dan puskesmas, serta 206 unit pondok pesantren mengalami kerusakan. Selain itu, jalan nasional dan jembatan juga rusak, dengan kerusakan jalan mencapai 461 titik dan jembatan 332 unit. Jumlah rumah yang rusak mencapai 164.906 unit, ternak sebanyak 186.868 ekor, sawah seluas 89.286 hektare, kebun 14.725 hektare, serta tambak 40.328 hektare.
Kerusakan Jalan Nasional dan Dampak Terhadap Masyarakat
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Banjir bandang yang terjadi pada Kamis 27 November 2025 menyebabkan tiang listrik milik PT PLN tumbang, serta jalan nasional dan jembatan putus. Akibatnya, ribuan rumah penduduk dan fasilitas umum, termasuk pondok pesantren, rusak akibat ganasnya banjir bandang di Sungai Alas Ketambe.
Jalan Nasional Agara – Gayo Lues menjadi salah satu jalur utama yang mengalami kerusakan. Jalur ini menjadi tanggung jawab perbaikan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh. Namun, kondisi jalan yang masih putus menyebabkan isolasi bagi sejumlah desa, khususnya di Desa Simpur Jaya dan Desa Air Kelabu, Kecamatan Ketambe, serta masyarakat Gayo Lues.
Isolasi dan Masalah Listrik
Kendaraan bermotor tidak dapat melintasi jalan utama tersebut, sehingga memengaruhi aksesibilitas dan distribusi bantuan. Selain itu, kondisi jalan yang masih putus juga menyulitkan pemasangan tiang listrik, sehingga dua desa di Kecamatan Ketambe masih gelap gulita.
Bupati LSM LIRA Indonesia Aceh Tenggara, Fazriansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya mendesak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh dan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS-1) untuk memaksimalkan alat berat agar petugas PLN dapat mengakses dua desa terisolasi. Ia juga meminta penambahan alat berat untuk mempercepat proses perbaikan jalan dan memastikan transportasi antara Agara dan Gayo Lues kembali normal.
Manager PLN ULP Kutacane, Firwan Moesnadi, menjelaskan bahwa pasokan arus listrik di Kecamatan Ketambe yang terkena banjir bandang belum sepenuhnya pulih. Saat ini, hanya dua desa, yaitu Desa Simpur Jaya dan Air Kelabu, yang masih gelap gulita karena akses jalan nasional masih putus.











