Perjalanan Kehidupan yang Ditemani Suara
Nama saya Melina. Saya seorang mahasiswa semester lima di UNIKOM, tinggal di Bandung, dan mungkin tidak ada yang benar-benar istimewa dariku selain satu hal: saya selalu butuh suara untuk menemani sunyi. Bukan musik, bukan televisi, bukan suara keramaian jalanan melainkan suara orang yang sedang bercerita. Itulah sebabnya podcast menjadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari hidupku. Ia hadir dalam perjalanan pagi ketika aku masih mengantuk dan menunggu angkot, menemani saat aku memasak mie instan di dapur kos yang sempit, hingga memelukku diam-diam saat malam tiba dan dunia tiba-tiba terasa terlalu besar untuk kupahami sendirian.
Aneh jika dipikirkan sekarang, bagaimana sebuah suara asing bisa terasa begitu dekat. Tapi mungkin begitulah cara manusia bekerja: kita selalu mencari cerita, mencari teman bicara, mencari gema dari kegelisahan yang tidak pernah kita ucapkan pada siapa pun.
Saya tidak pernah merencanakan hobi ini. Tidak seperti orang lain yang memutuskan untuk mulai berkebun, menggambar, atau mengoleksi merchandise, kegemaranku pada podcast tumbuh perlahan, seperti tanaman liar yang muncul begitu saja di sela-sela rutinitas kuliah. Aku ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Sore itu aku pulang dari kampus dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tugas menumpuk, deadline berjajar seperti antrean kendaraan di Jalan Dago saat jam pulang kerja, dan dosen memberikan komentar pedas yang membuatku mempertanyakan kemampuan diriku sendiri. Ditambah lagi hujan Bandung yang turun tiba-tiba dan membuat suasana semakin sendu, aku merasa semua orang bergerak begitu cepat sementara aku tidak tahu harus melangkah ke mana.
Di dalam perjalanan naik bus, sambil melihat jendela yang dipenuhi titik-titik air hujan, aku hanya ingin melarikan diri dari kepalaku sendiri. Rasanya seperti ada ribuan suara di dalam sana: suara ketakutan, suara cemas, suara yang mempertanyakan apakah aku cukup baik. Dalam kelelahan itu, aku membuka aplikasi podcast tanpa niat apa pun. Jariku hanya bergerak otomatis, entah mengapa.
Aku memutar sebuah episode tanpa alasan yang jelas. Suara lembut seseorang mengalun, bercerita tentang kegagalan yang membentuk hidupnya. Aku tidak mengenal orang itu, tidak tahu wajahnya, bahkan tidak tahu apakah kisah yang ia tuturkan benar adanya atau sudah dirancang sebagai skenario konten. Tapi saat itu, aku tidak peduli. Yang kubutuhkan bukan kebenaran mutlak. Aku hanya butuh ditemani. Dan entah bagaimana, suara itu terasa seperti seseorang yang akhirnya mengerti apa yang tak mampu kujelaskan kepada siapa pun.
Dari satu episode, aku melompat ke episode lain. Dari satu podcaster, aku pindah ke podcaster lain. Ceritanya beragam tentang mental health, karier, hubungan cinta, keluarga, finansial, hingga obrolan ringan tentang kehidupan sehari-hari yang tampak sepele namun ternyata sangat manusiawi. Namun, semua episode itu memiliki satu kesamaan: mereka membuatku merasa tidak sendirian di dunia yang sering kali sunyi.
Kini, setelah hampir dua tahun menjadikan podcast sebagai bagian dari hidupku, aku menyadari bahwa hobi ini bukan sekadar kebiasaan mendengarkan sesuatu saat bosan. Podcast memberiku ruang aman. Ruang untuk bernapas, untuk merenung, untuk memahami diri sendiri. Dan mungkin paling penting: ruang untuk menjadi manusia yang penuh rasa, penuh keraguan, penuh ketidaksempurnaan tanpa harus merasa bersalah.
Sebagai mahasiswa, keseharianku tidak jauh dari tugas, kelas, laporan, dan tekanan akademik yang sering muncul tiba-tiba seperti hujan deras di Bandung. Ada hari-hari ketika aku merasa kuat, penuh energi, dan mampu menaklukkan apa pun yang ada di daftar kegiatanku. Tapi ada juga hari ketika bangun tidur saja rasanya berat. Hari ketika aku merasa hidup bergerak terlalu cepat sementara aku tertinggal di belakang, tersandung oleh kecemasan yang tak pernah benar-benar pergi.
Di saat-saat seperti itulah podcast menjadi penyelamat. Jika sedang bersiap-siap di pagi hari, biasanya aku memilih episode motivasi pendek semacam “morning boost” episode yang berbicara tentang konsistensi, disiplin, mindset positif, atau sekadar ajakan untuk memulai hari dengan pelan tapi pasti. Kata-katanya sederhana, tetapi entah bagaimana berhasil menyalakan sesuatu dalam diriku. Seolah ada tangan tak terlihat yang menepuk bahuku dan berkata, “Ayo, kamu bisa.”
Saat berjalan menuju kampus sambil melewati gang kecil yang dipenuhi pedagang sarapan, suara itu hadir di antara hiruk-pikuk kota. Suara podcaster yang berbicara dengan ritme pelan, tapi mantap. Suara itu sering membuatku tersenyum sendiri bukan karena lucu, tetapi karena aku merasa ditemani dalam perjalanan kecil yang sering kali terasa panjang.
Jika pulang kuliah, aku biasanya memilih sesuatu yang lebih panjang dan mendalam. Aku suka episode wawancara, terutama dengan para pekerja kreatif atau aktivis yang menceritakan perjalanan hidup mereka. Aku merasa seperti sedang duduk bersama mereka, dengan secangkir teh hangat, mendengarkan kisah jatuh-bangun yang tidak muncul di balik potret kesuksesan yang sering kita lihat di media sosial. Episode-episode seperti itu membuatku sadar bahwa tak ada pencapaian yang instan. Bahwa kegagalan bukan akhir. Bahwa semua orang yang hari ini tampak begitu percaya diri pernah berada di titik paling rendah dalam hidup mereka.
Mendengarkan kisah-kisah itu membuatku merasa lebih manusia, lebih wajar, lebih tidak sendirian dalam ketakutan yang kadang muncul tanpa alasan.
Sebagai seseorang yang berada di usia dua puluhan usia yang membingungkan, di mana kita ingin menjadi dewasa namun masih sering takut aku sering kali merasa tidak terlihat. Takut gagal. Takut tidak cukup baik. Takut mengecewakan orang lain. Namun podcast mengajarkanku bahwa setiap orang yang tampak berhasil pernah berada di titik yang sama. Mereka juga pernah ragu, pernah bingung, pernah terjebak di antara keingingan menjadi seseorang dan ketakutan menjadi bukan siapa-siapa.
Ada sebuah episode yang sangat membekas bagiku. Episode itu membahas tentang “merawat diri sendiri.” Sang pembawa acara mengatakan bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar pencapaian, tapi juga tentang bertahan di hari-hari ketika kita tidak bisa bergerak sejauh itu. Ia bilang, “Terkadang kamu hanya perlu mendengarkan dirimu sendiri. Tidak apa-apa kalau hari ini kamu tidak baik-baik saja.”
Kalimat itu begitu sederhana, tapi aku menangis saat mendengarnya. Bukan menangis keras, lebih seperti air mata yang jatuh tanpa permisi. Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk berusaha menjadi kuat sampai lupa memeluk diri sendiri. Lupa bahwa aku juga manusia. Lupa bahwa menjadi lelah bukan berarti lemah.
Kadang, saat malam tiba dan suasana kos menjadi sunyi, aku suka memutar episode yang ringan obrolan santai antara sahabat yang bercanda tentang hal-hal remeh. Rasanya seperti ada teman yang duduk di samping ranjangku, memberi ruang pada keheningan agar tidak terasa menakutkan. Ditemani suara-suara itu, aku belajar bahwa kesendirian tidak selalu berarti kesepian. Bahwa sunyi bisa menjadi tempat paling aman selama kita tahu bagaimana memeluknya.
Namun manusia tetaplah manusia. Ada waktu ketika kita membutuhkan sesuatu yang terasa hangat, walau hanya berupa suara digital yang keluar dari speaker kecil ponsel.
Podcast juga memberiku banyak pelajaran sebagai seorang penulis atau setidaknya seseorang yang ingin menjadi penulis. Ada begitu banyak kalimat dari podcast yang kubawa pulang, kutuliskan ulang di buku kecil yang kutaruh di meja belajar. Kalimat-kalimat itu datang dalam berbagai bentuk: nasihat sederhana, pengakuan jujur, renungan kehidupan, atau sekadar pertanyaan yang membuatku berpikir lebih jauh.
Aku pernah membaca bahwa seorang penulis yang baik adalah pendengar yang baik. Dulu aku tidak terlalu memikirkan hal itu, tetapi setelah tenggelam dalam dunia podcast, aku mulai memahami maksudnya. Ketika aku mendengarkan cerita dari berbagai orang dengan latar belakang berbeda, aku belajar melihat dunia dari perspektif baru. Belajar bahwa setiap orang membawa beban yang tidak terlihat. Bahwa empati tidak tumbuh dari bacaan semata, tetapi dari mendengarkan.
Mungkin itulah sebabnya tulisanku perlahan berubah. Kini aku lebih suka menulis tentang proses, bukan sekadar hasil. Tentang kegagalan, bukan hanya kemenangan. Tentang rasa sakit kecil yang membentuk seseorang menjadi lebih kuat. Dan tanpa kusadari, podcast telah mengajarkanku cara melihat kedalaman di balik hal-hal sederhana.
Saat aku menulis feature ini, aku baru benar-benar menyadari betapa besarnya peran podcast dalam hidupku. Apa yang awalnya hanya kebiasaan kecil untuk mengisi perjalanan pulang kuliah berubah menjadi ritual yang menemaniku tumbuh. Aku seperti menemukan guru yang selalu hadir tanpa menuntut. Teman yang tidak pernah menghakimi. Ruang aman yang tidak pernah meminta balasan apa pun.
Jika ada yang bertanya kepadaku mengapa aku begitu mencintai podcast, jawabannya sangat sederhana: karena podcast membuatku merasa hidup. Karena podcast membuatku merasa dimengerti. Karena podcast memberi ruang bagi sisi-sisi diriku yang tidak bisa kusampaikan pada siapa pun.
Aku tidak tahu berapa lama aku akan terus mendengarkan podcast. Mungkin sampai aku bekerja, sampai aku dewasa sepenuhnya, bahkan mungkin sampai aku tua. Tapi selama hidup masih menyisakan ruang-ruang sunyi yang butuh ditemani, aku tahu apa yang akan kulakukan: menekan tombol play, dan membiarkan suara-suara itu membimbingku kembali pulang sekali lagi, dan sekali lagi.











