JAKARTA — Masalah pengelolaan sampah di Jakarta semakin mengkhawatirkan, terutama dengan semakin tingginya gunung sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. TPST ini menjadi pusat penampungan sampah dari lima wilayah Jakarta, dengan rata-rata sekitar 7.000 ton sampah yang diterima setiap hari. Sayangnya, sebagian besar sampah tersebut tidak melalui proses pemilahan dan pengolahan sebelum dibuang.
Kondisi ini memperparah beban yang dialami TPST Bantargebang, yang kini sudah menampung sekitar 55 juta ton sampah. Kapasitas totalnya hanya sekitar 70 juta ton, sehingga sisa kapasitas hanya sekitar 15 juta ton. Dengan volume sampah harian yang mencapai 2,5 juta ton per tahun, para ahli memperkirakan usia operasional TPST Bantargebang hanya tersisa sekitar enam tahun ke depan.
Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa, menjelaskan bahwa jika tidak ada perubahan signifikan dalam sistem pengelolaan sampah, usia TPST Bantargebang akan sangat singkat. Namun, ia juga menyebutkan bahwa jika dilakukan pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumbernya, usia TPST bisa diperpanjang hingga sekitar 10 tahun. Tanpa upaya tersebut, risiko bencana lingkungan akan semakin nyata.
Risiko Jika Pengurangan Sampah Gagal
Sri Wahyono, Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri di Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyampaikan pandangan serupa. Ia menekankan bahwa daya tampung TPST Bantargebang sangat bergantung pada keberhasilan pengurangan sampah sebelum masuk ke landfill. Tanpa pengurangan yang efektif, tumpukan sampah akan terus meningkat hingga mencapai batas maksimal, yang berpotensi menyebabkan bencana seperti longsor.
Enam Strategi Perpanjang Usia Bantargebang
Untuk mengurangi risiko tersebut, Sri mengusulkan enam strategi utama yang perlu dijalankan pemerintah bersama masyarakat:
-
Pemilahan Sampah di Tingkat Rumah Tangga
Pemilahan sampah organik, bernilai guna, dan residu dapat mempermudah proses pengolahan selanjutnya. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau diserahkan ke peternak maggot, sedangkan sampah bernilai ekonomi bisa dijual ke bank sampah. -
Pengelolaan Sampah di Tingkat Kawasan
Pengelolaan sampah di lingkungan permukiman, pasar, sekolah, perkantoran, dan kawasan komersial melalui TPS3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dapat menekan beban landfill sekaligus menurunkan biaya angkut. -
Pembangunan dan Pengoperasian Intermediate Treatment Facility (ITF)
ITF seperti PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) dapat memusnahkan atau mereduksi volume sampah sebelum masuk ke landfill. Hal ini membantu mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang. -
Pengolahan Sampah Organik Secara Khusus
Sampah organik menyumbang sekitar 50% dari total sampah. Pengolahan sampah organik menjadi kompos, pakan maggot, atau biogas melalui anaerobic digestion penting untuk mengurangi dampak lingkungan. -
Optimalisasi Refuse Derived Fuel (RDF) Plant
Meskipun kontribusinya masih terbatas, RDF dinilai berpotensi mengurangi sampah non-organik bernilai rendah. Peningkatan kualitas bahan baku dan perjanjian kontrak dengan konsumen diperlukan untuk meningkatkan fungsi RDF. -
Landfill Mining
Upaya penggalian tumpukan sampah lama untuk mengambil material bernilai, lalu mengolahnya sebagai energi, dapat membuka kembali ruang landfill dan meningkatkan stabilitas serta keselamatan pekerja.
Perlunya Alternatif TPA Regional
Selain keenam strategi tersebut, Sri menilai pemerintah perlu menyiapkan lokasi TPA alternatif untuk menampung residu akhir. Salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan adalah TPST Nambo di Bogor, dengan pendekatan sanitary landfill yang modern. Kerja sama antar daerah, dukungan regulasi nasional, dan kepastian pendanaan menjadi kunci agar pengganti atau perluasan TPST Bantargebang tidak kembali menjadi masalah di masa depan.
Dengan kombinasi keenam strategi tersebut, TPST Bantargebang akan tetap sanggup menampung sampah dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, pemerintah harus membangun sistem berlapis dengan mengurangi sampah secara masif, memaksimalkan landfill mining, dan menyiapkan lokasi TPA pengganti yang modern dan saniter untuk residu akhir.











