Film Dokumenter Syekh Yusuf dan Daeng Manggalle Mengangkat Jejak Sejarah Makassar
Film dokumenter yang berjudul Syekh Yusuf dan Daeng Manggalle mempersembahkan kisah perjalanan dua tokoh penting dalam sejarah peradaban Makassar. Film ini tidak hanya menghadirkan narasi historis, tetapi juga menelusuri peran mereka sebagai ulama, pejuang, dan tokoh spiritual yang memiliki dampak luas hingga mancanegara.
Dalam film ini, penonton akan diajak menyaksikan perjalanan Syekh Yusuf, seorang ulama besar yang lahir di Gowa pada tahun 1626. Dari awal kehidupannya sebagai pemuda bangsawan yang mencintai ilmu dan spiritualitas, hingga perjalanan panjangnya menuju pusat-pusat intelektual Nusantara seperti Banten dan Aceh, lalu melanjutkan rihlah ke Hadramaut, Yaman, Hijaz, hingga Damaskus. Pada akhirnya, ia kembali ke Nusantara, namun situasi politik saat itu membuatnya tinggal di Banten dan menjadi kadi di sana.
Perjalanan Syekh Yusuf terus berlanjut ketika konflik antara Banten dan VOC semakin memanas. Ia menjadi salah satu panglima perang dalam menghadapi VOC. Setelah ditangkap dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka), Syekh Yusuf tetap menjalankan dakwahnya dengan menulis banyak manuscript dan bertemu dengan jamaah haji yang datang dari Mekah. Hal ini membantu menghidupkan kembali perlawanan di Nusantara, terutama di Banten dan Makassar.
Di Ceylon, Syekh Yusuf menjadi pusat perhatian Raja Mughal di India yang memerintahkan VOC untuk menjaga dirinya. Ini menunjukkan betapa pengaruhnya sangat besar hingga ke wilayah lain. Akhirnya, VOC memindahkannya ke tempat yang lebih jauh, yaitu Cape Town, Afrika Selatan. Di sana, ajaran Syekh Yusuf menjadi fondasi spiritual bagi komunitas Muslim Cape Malay. Keturunan, tradisi, dan situs-situs warisan Syekh Yusuf menjadi bukti bahwa pengasingan justru menjadi awal dari kebangkitan baru di ujung Afrika.
Selain Syekh Yusuf, film ini juga mengangkat kisah Daeng Manggalle, seorang figur lokal yang memiliki kontribusi penting dalam dinamika sosial dan budaya pada masanya. Melalui narasi historis, penelusuran arsip, serta wawancara dengan sejarawan dan budayawan, film ini memberikan perspektif mendalam tentang nilai keislaman, keberanian, dan kearifan lokal yang diwariskan kepada generasi penerus.
Film ini diputar di bioskop CGV, Mal Panakkukang Makassar, pada Jumat (26/12/2025). Acara peluncuran dihadiri oleh Staf Ahli Pemkot Makassar Akhmad Namsum, Kepala Dinas Kebudayaan Andi Pattiware, Kepala Bappeda Dahyal, Sekretaris Kebudayaan Syahruddin, sutradara, hingga pemain. Dua film ini berdurasi satu jam dan diputar secara bergantian.
Kepala Dinas Kebudayaan, Andi Pattiware, menjelaskan bahwa peluncuran film dokumenter ini adalah upaya Pemkot Makassar untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan nilai-nilai budaya lokal di Kota Makassar. Ia menegaskan bahwa film ini bukan hanya diputar sekali, tetapi akan menjadi sarana edukasi yang berkelanjutan. Ke depan, Dinas Kebudayaan akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar agar film tersebut dapat diputar di sekolah-sekolah tingkat SD dan SMP.
Peluncuran film dokumenter ini juga bertepatan dengan momentum penting, yakni persiapan haul 400 tahun Syekh Yusuf yang akan diperingati pada 2026. Bahkan, trailer film dokumenter ini telah diputar dalam agenda kementerian terkait persiapan haul tersebut. Pihak kementerian juga berencana mengundang Pemkot Makassar pada pelaksanaan haul 400 tahun Syekh Yusuf.
Staf Ahli Pemkot Makassar Akhmad Namsum menyampaikan bahwa dua film ini memiliki makna keberanian dan perjuangan. Ia menilai bahwa nilai dan norma Makassar yang berani, penuh dedikasi, dan selalu menjadi contoh dan teladan harus terus ditumbuhkan bagi masyarakat Kota Makassar.
Sutradara sekaligus tim produksi Ahmad Wildan Noumeiru mengungkapkan bahwa proses penggarapan film dokumenter ini memakan waktu cukup panjang, sekitar satu tahun. Tahapan riset menjadi proses terlama, mencapai lebih dari enam bulan. Syutingnya justru tidak lama, sekitar dua sampai tiga bulan. Yang lama itu riset dan perizinan ke luar negeri, terutama untuk pengambilan data di Thailand dan Prancis.
Film ini mengambil lokasi di tiga negara, yakni Indonesia, Prancis, dan Thailand. Untuk adegan dramatis (Dg Mangalle) tim produksi membangun set kampung Makassar di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. Ia menjelaskan bahwa film ini dikemas dalam format dokudrama agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, tidak hanya kalangan akademisi.











