Trauma Pascabanjir, Warga Gurun Laweh Padang Cemas Setiap Hujan Deras Turun
Setiap hujan deras turun, rasa cemas kembali menghantui warga di kawasan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Trauma banjir bandang pada akhir November 2025 masih membekas, apalagi aliran Sungai Batang Kuranji yang membelah permukiman itu tetap jadi ancaman dan bisa memicu banjir susulan kapan saja.
Wartawan Fajar Alfaridho Herman, pada Kamis (1/1/2026), mengunjungi Kampung Chaniago, Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Padang. Pada lokasi tersebut terlihat sejumlah rumah warga yang berada di tepi Sungai Batang Kuranji telah hancur akibat terjangan banjir.
Bantaran Sungai Terus Tergerus
Hingga kini, derasnya arus sungai terus menggerus bantaran sungai dan mengancam permukiman masyarakat di sekitarnya. Rumah-rumah tersebut tampak tidak lagi layak huni, bahkan sebagian hanya menyisakan pondasi, dinding setengah runtuh, hingga atap yang menggantung di beberapa ruas tembok. Di beberapa titik, sisa lumpur tebal masih terlihat menumpuk di dalam rumah warga dan sulit dibersihkan dengan peralatan seadanya.
Kondisi serupa juga mengancam perumahan di seberang sungai, lantaran tanah di kawasan tersebut terus terkikis oleh arus sungai yang masih deras.
Warga Diliputi Rasa Cemas akan Kemungkinan Banjir Susulan

Salah seorang warga bernama Yusni (70), warga lainnya yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Menurutnya, warga yang rumahnya berada dekat dengan aliran Sungai Batang Kuranji sebenarnya telah diimbau untuk tidak lagi menempati rumah mereka karena berisiko roboh atau hanyut. “Sudah ada imbauan untuk tidak tinggal di rumah yang dekat sungai, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini tempat tinggal kami,” kata Yusni.
Ia mengungkapkan, setiap hujan deras turun, warga selalu diliputi rasa cemas akan kemungkinan terjadinya banjir susulan. Pasalnya, banjir bandang pada akhir November 2025 lalu merupakan yang terbesar selama ia tinggal di kawasan tersebut. “Sudah lama saya tinggal di sini, baru kali itu banjirnya paling besar. Biasanya kalau hujan lebat, air sungai tidak sampai meluap ke perumahan,” ujarnya.
Yusni menambahkan, pemerintah telah menurunkan alat berat untuk melakukan normalisasi sungai serta memasang karung berisi pasir guna menahan laju aliran air. Namun, tingginya curah hujan membuat debit air sungai kerap meningkat sehingga proses penanganan belum berjalan maksimal dan erosi tanah terus terjadi.
Puluhan Rumah di Hanyut Terseret Banjir

Salah seorang warga, Desni (54), mengatakan sebelum banjir bandang terjadi, aliran Sungai Batang Kuranji berada cukup jauh dari permukiman warga, yakni sekitar 200 hingga 300 meter. Namun, pascabencana, aliran sungai kini semakin mendekati rumah-rumah warga. “Dulu sebelum banjir itu aliran sungai jauh dari sini. Tapi sejak banjir bandang kemarin, aliran sungainya jadi dekat ke rumah kami,” ujar Desni.
Desni mengungkapkan, lebih dari 30 rumah warga dilaporkan hilang atau hanyut akibat banjir bandang tersebut, termasuk rumah miliknya dan rumah anaknya. Rumah yang telah ia tempati selama lebih dari 30 tahun bersama mendiang suaminya itu kini tak lagi bisa digunakan. “Sedih sekali melihat lokasi rumah kami sekarang. Kalau ada waktu senggang, saya sering datang ke sana sekadar melepas rindu kepada almarhum suami dan mengenang perjuangan kami dulu,” tuturnya.
Saat ini, Desni bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya terpaksa menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara. Ia mengaku belum ada kepastian terkait hunian tetap bagi korban banjir bandang. “Kami sekarang ngontrak tidak jauh dari sini. Sempat ditawarkan hunian sementara, tapi setelah didata ternyata sudah penuh. Akhirnya kami diberi bantuan uang sewa untuk tiga bulan ke depan,” katanya.
Desni juga menyebutkan bahwa satu komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 20 rumah dan berada paling dekat dengan aliran sungai kini sudah tidak tersisa. “Ada satu komplek dekat sungai, sekitar 20 rumah, semuanya hanyut tersapu banjir bandang,” ujarnya. Ia menambahkan, ancaman kerusakan masih terus terjadi. “Yang terbaru, kemarin ada satu rumah lagi yang hancur dan hanyut karena tanahnya terus terkikis air, lokasinya di belakang rumah saya dulu,” tambahnya.
Yusni, Desni, dan warga lainnya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan untuk mengatasi kondisi tersebut agar tidak semakin banyak rumah warga yang rusak atau hanyut, serta demi keselamatan masyarakat yang masih bertahan di sekitar aliran Sungai Batang Kuranji.
Rumah di Padang Besi Terbakar pada Hari Pertama 2026, Kerugian Capai Rp500 Juta
Sebuah rumah terbakar di Jalan Swadesi I, Rt01/Rw 04, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (1/1/2026). Beruntung dalam kejadian kebakaran di awal tahun 2026 ini tidak menyebabkan korban jiwa.
Kepala Bidang Sarana dan Operasional Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang, Rinaldi, mengatakan bahwa kebakaran dilaporkan pada pukul 11.39 WIB. Kata dia, seorang saksi bernama Ipit (46) melihat asap tebal di atas atap rumah.
Kemudian langsung menghubungi Damkar Kota Padang. “Kami langsung mengirimkan armada dan petugas ke lokasi kejadian kebakaran,” kata Rinaldi.
Setelah sampai di lokasi kejadian, petugas melihat adanya kejadian kebakaran satu unit rumah. Petugas Damkar Kota Padang dibantu oleh Damkar PT Semen Padang dalam penanganan kebakaran. “Api berhasil dipadamkan pada pukul 12.20 WIB,” sebutnya. Berdasarkan pendataan, rumah tersebut merupakan milik warga bernama Dul Asri (63). “Armada yang dikerahkan sebanyak lima unit armada dari Damkar Padang, dan dua unit dari Damkar Semen Padang,” katanya.
Untuk kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta rupiah, sedangkan untuk penyebab kebakaran belum diketahui. Pihak Damkar Padang menyerahkan proses penyelidikan penyebab kebakaran kepada petugas kepolisian. Rinaldi mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap bahaya kebakaran. Untuk mengantisipasi kebakaran masyarakat dapat memeriksa instalasi aliran listrik secara teratur. Kemudian jangan tinggalkan api tanpa pengawasan terutama saat memasak dan menggunakan lilin. Pastikan memiliki alat pemadam kebakaran yang memadai dan tahu cara menggunakannya. Hafal dan simpan nomor kontak emergency pemadam kebakaran Kota Padang yaitu 08116606113 dan 075128558. Masyarakat juga bisa melaporkan adanya kejadian kebakaran melalui Padang Comand Center 112. “Jika terjadi kebakaran jangan panik, tetapi segera hubungi nomor kontak emergency pemadam kebakaran Kota Padang,” pungkasnya.
Lambannya Perbaikan Perlintasan Rel Lubuk Buaya Dikeluhkan Warga, Pengendara Kerap Terjatuh
Masyarakat dan pengguna jalan mengeluhkan lambannya proses perbaikan perlintasan rel kereta api di kawasan Lubuk Buaya, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Kondisi tersebut dinilai membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Wartawan Fajar Alfaridho Herman, melihat perlintasan rel yang membentang sekitar 20 hingga 30 meter di jalan nasional tersebut tampak dibongkar di bagian samping rel. Area yang terbongkar hanya diisi menggunakan karung berisi batu kerikil sebagai penimbun sementara. 
Namun, sejumlah karung terlihat sudah rusak dan hancur akibat sering dilindas kendaraan. Akibatnya, batu kerikil berserakan di badan jalan dan membuat permukaan jalan menjadi tidak rata. Selain itu, kondisi rel terlihat lebih tinggi dibandingkan permukaan tanah di sekitarnya, sehingga menyulitkan kendaraan saat melintas.
Netti, pemilik warung di sekitar perlintasan rel, mengatakan bahwa proses perbaikan sudah berlangsung hampir satu bulan.
Namun, pengerjaan terkesan lamban karena hanya dilakukan pada malam hari. “Perbaikannya sudah hampir satu bulan, tapi petugasnya bekerja malam saja. Mungkin untuk menghindari ramainya kendaraan dan jam operasional kereta api,” ujar Netti saat diwawancarai, Kamis (1/1/2026).
Ia menambahkan, pengerjaan kerap terhenti ketika hujan turun karena peralatan yang digunakan mengandalkan genset. Kondisi tersebut membuat proses perbaikan semakin tertunda. “Kalau hujan biasanya berhenti bekerja, karena pakai genset. Jadi pengerjaannya sering tertunda dan makin lama,” tambahnya.
Akibat kondisi tersebut, Netti mengaku kerap melihat pengendara mengalami kecelakaan, terutama pengendara roda dua. Menurutnya, permukaan rel yang licin serta minimnya penerangan jalan pada malam hari memperparah situasi. “Pengendara jatuh itu sudah banyak, terutama pengendara motor. Apalagi kalau hujan, tambah licin. Lampu jalan juga mati, jadi tidak kelihatan jalannya,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Alan, seorang pengendara sepeda motor yang hampir setiap hari melintasi perlintasan tersebut. Ia mengaku kesulitan saat melewati rel karena perbedaan tinggi permukaan jalan dan rel yang licin. “Susah sekali lewat sini. Besi rel lebih tinggi dari jalan dan licin. Kadang penumpang yang saya bonceng harus turun karena ban slip. Saya sendiri juga pernah hampir jatuh,” ungkapnya.
Alan berharap instansi terkait dapat segera mempercepat proses perbaikan demi keselamatan pengguna jalan. “Harapannya cepat diselesaikan. Ini jalur yang sering dilewati warga dan kondisinya sangat membahayakan kalau dibiarkan lama-lama,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Humas PT KAI Sumbar, Reza Shahab, saat dikonfirmasi terkait kondisi tersebut menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama proses perbaikan berlangsung. Ia menjelaskan bahwa PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah melakukan perbaikan geometri perlintasan sebidang JPL 21 Km 20+0/1 petak jalan Tabing–Duku (Lubuk Buaya) demi menjamin keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. “Pekerjaan ini dilakukan untuk meningkatkan keselamatan dan akan diselesaikan secepatnya. Selama proses perbaikan, kami mengimbau pengguna jalan agar tetap waspada dan mematuhi rambu keselamatan di sekitar lokasi,” tutupnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











