Dampak Banjir Bandang yang Masih Mengancam Warga Padang
Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu telah meninggalkan duka mendalam bagi warga Kota Padang, Sumatera Barat. Puluhan rumah hanyut dan rusak akibat peristiwa tersebut, termasuk rumah milik Desni, seorang warga yang kehilangan tempat tinggalnya. Ia mengungkapkan bahwa rumah tersebut merupakan hasil perjuangannya bersama mendiang suaminya selama bertahun-tahun.
Desni seringkali datang ke lokasi rumahnya yang kini hanya menyisakan pondasi dan dinding setengah runtuh. Ia mengatakan bahwa sebelum banjir, aliran Sungai Batang Kuranji berada cukup jauh dari permukiman warga, sekitar 200 hingga 300 meter. Namun, pascabencana, aliran sungai kini semakin dekat dengan rumah-rumah warga.
Rumah-Rumah yang Hancur Akibat Banjir
Di beberapa titik, sisa lumpur tebal masih menumpuk di dalam rumah warga dan sulit dibersihkan dengan peralatan seadanya. Kondisi ini juga mengancam perumahan di seberang sungai karena tanah di kawasan tersebut terus terkikis oleh arus sungai yang deras.
Desni menyebutkan bahwa lebih dari 30 rumah warga dilaporkan hilang atau hanyut akibat banjir bandang tersebut, termasuk rumah miliknya dan rumah anaknya. Rumah yang telah ia tempati selama lebih dari 30 tahun bersama mendiang suaminya itu kini tak lagi bisa digunakan. Ia mengaku sedih melihat lokasi rumahnya sekarang dan sering berkunjung untuk melepas rindu kepada almarhum suami.
Saat ini, Desni bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya terpaksa menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara. Ia mengaku belum ada kepastian terkait hunian tetap bagi korban banjir bandang. “Kami sekarang ngontrak tidak jauh dari sini. Sempat ditawarkan hunian sementara, tapi setelah didata ternyata sudah penuh. Akhirnya kami diberi bantuan uang sewa untuk tiga bulan ke depan,” katanya.

Ancaman Kerusakan Masih Berlangsung
Desni juga menyebutkan bahwa satu komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 20 rumah dan berada paling dekat dengan aliran sungai kini sudah tidak tersisa. “Ada satu komplek dekat sungai, sekitar 20 rumah, semuanya hanyut tersapu banjir bandang,” ujarnya.
Ia menambahkan, ancaman kerusakan masih terus terjadi. “Yang terbaru, kemarin ada satu rumah lagi yang hancur dan hanyut karena tanahnya terus terkikis air, lokasinya di belakang rumah saya dulu,” tambahnya.
Rasa Cemas Menghiasi Kehidupan Warga
Yusni (70), warga lainnya yang tinggal di sekitar bantaran sungai, menyampaikan hal senada. Menurutnya, warga yang rumahnya berada dekat dengan aliran Sungai Batang Kuranji sebenarnya telah diimbau untuk tidak lagi menempati rumah mereka karena berisiko roboh atau hanyut. “Sudah ada imbauan untuk tidak tinggal di rumah yang dekat sungai, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini tempat tinggal kami,” kata Yusni.
Ia mengungkapkan, setiap hujan deras turun, warga selalu diliputi rasa cemas akan kemungkinan terjadinya banjir susulan. Pasalnya, banjir bandang pada akhir November 2025 lalu merupakan yang terbesar selama ia tinggal di kawasan tersebut. “Sudah lama saya tinggal di sini, baru kali itu banjirnya paling besar. Biasanya kalau hujan lebat, air sungai tidak sampai meluap ke perumahan,” ujarnya.

Upaya Pemerintah yang Belum Maksimal
Yusni menambahkan, pemerintah telah menurunkan alat berat untuk melakukan normalisasi sungai serta memasang karung berisi pasir guna menahan laju aliran air. Namun, tingginya curah hujan membuat debit air sungai kerap meningkat sehingga proses penanganan belum berjalan maksimal dan erosi tanah terus terjadi.
Yusni, Desni, dan warga lainnya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan untuk mengatasi kondisi tersebut agar tidak semakin banyak rumah warga yang rusak atau hanyut, serta demi keselamatan masyarakat yang masih bertahan di sekitar aliran Sungai Batang Kuranji.











