Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang
Peringatan peristiwa bersejarah Pertempungan Lima Hari Lima Malam kembali digelar secara khidmat di Kota Palembang. Acara ini dilaksanakan melalui aksi parade kendaraan klasik dan pertunjukan teatrikal perjuangan, yang berlangsung pada hari Sabtu (3/1/2026) pagi. Meski sempat diguyur hujan deras, kegiatan ini tetap berlangsung antusias dengan partisipasi Walikota Palembang Ratu Dewa, para pelaku seni, budayawan, hingga komunitas kendaraan antik.
” Lima Hari Lima Malam bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengingat bahwa kemerdekaan kita dibayar mahal. Tugas kita hari ini adalah menjaga dan mengisinya dengan karya,” ujar Ratu Dewa dalam sambutannya.
Pertempuran Lima Hari Lima Malam yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang ini tidak hanya mengenang heroisme rakyat Palembang, tetapi juga menghidupkan kembali denyut sejarah dalam bentuk yang nyaris nyata. Di pelataran Lawang Borotan, yang menjadi titik balik strategis, suasana perjuangan melawan pasukan Belanda terasa hidup kembali.
Mobil-mobil tua seperti Willys, Jeep Ford GPW, disusul oleh sepeda ontel yang dikayuh oleh pemuda-pemudi berseragam pejuang. Mereka mengenakan ikat kepala merah putih, membawa bendera, sehingga terasa masuk mesin waktu pada masa perjuangan itu. Ratu Dewa turut larut dalam suasana, mengenakan seragam pejuang lengkap dengan atributnya, ia duduk salah satu kendaraan tua, melintasi ruas jalan protokol kota Palembang.
“Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, Palembang membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tetap hidup berdenyut dalam setiap langkah,” ujarnya penuh semangat.
Tak hanya parade kendaraan dan kostum, peringatan ini juga diisi dengan pertunjukan teatrikal perjuangan yang menggugah emosi. Para peserta memperlihatkan bagaimana perjuangan rakyat Palembang melawan penjajah, menunjukkan betapa gigihnya semangat perlawanan mereka.
Ketua pelaksana perang lima hari lima malam Vebri Al Lintani menjelaskan bahwa tahun sebelumnya peringatan dilaksanakan tanggal 1 Januari namun kali ini peringatan di gelar di tanggal 3 Januari. “Saya apresiasi kinerja pak Walikota, dan ini komitmen pak Walikota untuk memperingati Pertempuran Lima Hari Lima malam dan kali ini terwujud meskipun belum teranggarkan di APBD, mudah-mudahan tahun depan bisa dianggarkan.”
Menurut Vebri, pihaknya berkeinginan peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam diperingati secara massif. Salah satu contoh adalah anak-anak sekolah yang mengirim salam pertempuran lima hari lima malam dan semua membuat vlog atau Podcast Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. “Dan tahun-tahun kedepan ini bisa dilaksanakan seperti itu, tapi ini perlu regulasi dari Pemerintah Kota dan Kecamatan agar disemarakkankan dengan berbagai kegiatan kaitan dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam.”
Peringatan Pertempuran Lima Hari Lima Malam ini menurut Vebri dilakukan secara swadaya oleh orang-orang yang rela atau relawan yang punya kesadaran tinggi terhadap sejarah Republik ini. Menurut catatan PMI ada 2.000-3.500 nyawa melayang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Palembang. Palembang termasuk salah satu pertempuran besar yang melibatkan tiga matra, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan darat Belanda.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Sulaiman Amin, menyampaikan bahwa peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengangkat potensi wisata sejarah di Palembang. Ia menegaskan bahwa banyak jejak perjuangan yang masih tersembunyi dan belum dikenal luas oleh masyarakat.
“Kami akan lebih gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Banyak jejak perjuangan yang bisa kita angkat menjadi destinasi wisata sejarah. Ini bukan hanya soal mengenang, tapi juga menghidupkan kembali semangat dan kebanggaan akan kota ini,” pungkas Sulaiman.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











