Masalah Keasaman Tanah di Desa Rias, Ancaman bagi Petani
Di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, tingkat keasaman tanah yang sangat tinggi menjadi ancaman serius terhadap produksi padi. Hal ini menyebabkan pertumbuhan padi tidak merata dan hasil panen menurun secara drastis dalam dua musim tanam terakhir. Bahkan, ada petani yang mengalami gagal panen.
Muhidin (50), salah satu petani di Desa Rias, hanya bisa pasrah melihat lahan sawah seluas satu hektare miliknya terancam gagal panen. Ia sering kali memeriksa kondisi tanaman padi di lahan tersebut. Hasil uji yang dilakukannya menunjukkan bahwa pH tanah di lahan tersebut hanya sekitar 0,4, jauh di bawah standar ideal untuk pertumbuhan padi yang berkisar antara 6,5 hingga 7.
Keasaman tanah yang tinggi membuat pertumbuhan padi terhambat. Sejumlah bibit padi tampak tumbuh kerdil, sementara air sawah terlihat keruh dengan lapisan mengilap seperti minyak di permukaannya. Dalam kondisi normal, petani bisa mendapatkan lebih dari 60 karung gabah kering panen per hektare. Namun, saat ini, hasil panen hanya sekitar 30 karung per hektare.
Kondisi ini telah berlangsung selama dua musim tanam terakhir, khususnya pada indeks pertanaman (IP) 200 dan IP-300 yang berlangsung pada akhir tahun 2025 lalu. Total lahan persawahan di Desa Rias yang mengalami tingkat keasaman tinggi diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Jika kondisi ini terus dibiarkan, ancaman gagal panen akan kembali terulang.
Upaya Petani Mengatasi Keasaman Tanah
Untuk menekan tingkat keasaman tanah, petani terpaksa melakukan pengapuran dan pemberian pupuk kandang setiap kali memulai masa tanam. Dalam satu hektare lahan, dibutuhkan sekitar 10 kampil kapur serta tiga hingga empat kampil pupuk kandang. Namun, bantuan kapur dari pemerintah hanya sekitar lima kampil per hektare, jumlah yang dinilai masih jauh dari kebutuhan ideal.
Dibutuhkan sekitar 1,5 ton kapur per hektare agar tingkat keasaman tanah bisa benar-benar netral. Tanpa dukungan bantuan yang memadai, biaya pengolahan lahan menjadi beban berat bagi petani kecil. Muhidin mengungkapkan bahwa untuk pupuk kandang, ia harus membeli sendiri dengan harga Rp50.000 per karung.
Meski masih menggunakan pupuk kimia, Muhidin menilai efektivitasnya sangat terbatas jika diaplikasikan pada tanah dengan tingkat keasaman tinggi. Ia lebih mengandalkan pupuk kandang karena dinilai lebih membantu memperbaiki struktur tanah.
Peran Pupuk Kimia dan Solusi yang Diharapkan
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Bangka Selatan, Tahang HS, mengatakan bahwa penurunan pH tanah menjadi keluhan utama petani dalam beberapa waktu terakhir. Penggunaan pupuk kimia seperti urea dan phonska didominasi dalam pemupukan. Intensitas penanaman yang terus meningkat hingga mencapai indeks pertanaman (IP) 300 membuat penggunaan pupuk kimia juga makin tinggi.
Pada tahun 2025, alokasi pupuk bersubsidi untuk Desa Rias mengalami peningkatan signifikan seiring naiknya indeks penanaman dari IP 200 menjadi IP 300. Total penyerapan pupuk tahun ini mencapai 988 ton, terdiri atas 280 ton urea dan 708 ton NPK phonska. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya 558 ton pupuk.
Tahang menilai, meski penyerapan pupuk meningkat, alokasinya masih perlu disesuaikan dengan kondisi lahan saat ini. Idealnya penggunaan pupuk urea yang sebelumnya sekitar 125 kilogram per hektare perlu ditingkatkan menjadi 200 kilogram per hektare. Sementara untuk pupuk NPK phonska, kebutuhannya mencapai sekitar 300 kilogram per hektare agar tanaman tetap memperoleh unsur hara yang seimbang.
Selain penambahan urea dan phonska, petani juga berharap pemerintah dapat memasukkan pupuk lain ke dalam kuota subsidi tahun 2026. Pupuk yang dimaksud, antara lain, kapur pertanian, dolomit, pupuk organik, serta SP36. Semuanya dinilai sangat dibutuhkan untuk menaikkan pH tanah dan memperbaiki kesuburan lahan sawah.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











