"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Keluarga Angel Akui Kekurangan Standar Keselamatan Wisata Danau Salju Kotim

Tragedi Tenggelamnya Angel di Wisata Danau Salju: Kritik terhadap Pengawasan dan Standar Keselamatan

Tragedi meninggalnya Angel (12), seorang siswi SMP, yang tenggelam di Wisata Alam Danau Salju, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Kamis (1/1/2026) lalu, telah memicu kritik terhadap pengawasan dan standar keselamatan di lokasi wisata tersebut. Peristiwa ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan di tempat tersebut dinilai sangat minim, sehingga berpotensi membahayakan pengunjung, khususnya anak-anak.

Penemuan Korban dan Proses Pertolongan Pertama

Menurut Hamlan, keluarga korban, kejadian berlangsung saat Angel sedang berwisata bersama keluarga. Di tengah keramaian pengunjung, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah dilakukan pencarian oleh pihak keluarga sendiri. Ia mengungkapkan bahwa tidak ada petugas pengawas yang berjaga atau melakukan penyelamatan ketika Angel dinyatakan hilang di dalam kolam.

“Tidak ada petugas yang turun ke air. Kami yang cari sendiri,” ujar Hamlan, Sabtu (3/1/2026). Ia menjelaskan, tubuh Angel pertama kali ditemukan dan diangkat oleh dirinya bersama Isur, paman korban. Setelah diangkat ke permukaan, keluarga sempat memberikan pertolongan pertama berupa napas buatan. “Sempat kami kasih napas buatan, tapi kondisinya sudah lemah,” katanya.

Menurut Hamlan, saat warga menyadari adanya pengunjung yang tenggelam, pihak pengelola hanya menyampaikan pengumuman melalui pengeras suara tanpa melakukan upaya pencarian aktif. “Hanya diumumkan pakai mikrofon. Tidak ada tindakan lanjutan,” ungkapnya.

Faktor-Faktor yang Memicu Kejadian

Angel diketahui tidak bisa berenang. Hamlan mengaku langsung terjun ke kolam begitu mengetahui hal tersebut, tanpa perlengkapan keselamatan apa pun. “Saya tahu dia tidak bisa berenang, jadi saya langsung turun,” ujarnya. Korban ditemukan sekitar lima meter melewati batas tali pengaman area anak-anak. Meski demikian, lokasi tersebut disebut masih berada di area kolam yang kerap digunakan anak-anak.

“Sekitar lima meter dari batas. Tanahnya tidak rata, berlumpur,” jelas Hamlan. Ia menambahkan, dasar kolam merupakan bekas galian sehingga kedalamannya tidak merata dan terdapat cekungan yang sulit terlihat karena air keruh. “Di bawah itu lumpur dan ada lubang. Airnya juga keruh,” katanya.

Saat kejadian, diperkirakan terdapat sekitar 60 hingga 70 anak yang sedang mandi di kolam tersebut. Namun tidak ada yang menyadari korban tenggelam. “Ramai sekali, tapi tidak ada yang tahu kalau Angel tenggelam,” ucap Hamlan.

Tanggung Jawab Keluarga dan Kritik terhadap Pengelola

Keluarga mengaku sebelumnya hanya menitipkan Angel untuk menjaga adik kandungnya, dengan asumsi korban sudah cukup besar dan memahami batas aman. “Kami pikir dia sudah paham, ternyata tidak,” katanya. Setelah ditemukan, korban langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi karena tidak tersedia ambulans atau sarana evakuasi di lokasi wisata.

“Kami pakai mobil sendiri. Saat kami berangkat, bantuan baru datang,” ujar Hamlan. Ibu korban, Mirisa, menilai pengelolaan keselamatan di lokasi wisata sangat minim dan berpotensi membahayakan pengunjung, terutama anak-anak. “Safety-nya sangat kurang. Harusnya ada pengawasan,” tegas Mirisa. Ia bahkan meminta agar Wisata Alam Danau Salju ditutup sementara hingga sistem keselamatan benar-benar dibenahi.

“Kalau bisa ditutup saja. Jangan sampai ada korban lagi,” katanya. Mirisa juga mengungkapkan, keluarga harus menanggung seluruh biaya pemakaman menggunakan dana pribadi, tanpa adanya bantuan dana dari pihak pengelola.

Biaya Pemakaman dan Bantuan yang Diterima

Hamlan menyebutkan, total biaya pemakaman diperkirakan mencapai sekitar Rp20 juta, mencakup peti jenazah, penggalian makam, dan konsumsi selama masa duka. “Sekitar Rp20 juta, itu belum termasuk kebutuhan adat,” katanya. Ia menambahkan, bantuan yang diterima keluarga dari pihak pengelola wisata hanya berupa sembako. “Hanya sembako saja,” ungkapnya.

Meski demikian, pihak pengelola disebut berjanji akan menemui keluarga korban setelah proses pemakaman selesai. “Kami dijanjikan akan ditemui setelah pemakaman,” kata Hamlan. Keluarga berharap tragedi ini menjadi perhatian serius bagi pengelola wisata dan pemerintah daerah agar kejadian serupa tidak kembali terulang.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *