"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Dari Bau Menyengat ke Kebun Produktif: Warga Cipayung Ubah Sampah Jadi Berkah

Inisiatif Warga RW 12 Cipayung Mengubah Sampah Menjadi Kebun yang Subur

Di RW 12 Cipayung, kota Tangerang Selatan, Banten, sampah pernah menjadi masalah serius yang mengganggu kehidupan warga. Tumpukan sampah setinggi tujuh meter dan dalam hampir empat meter sempat menjadi pemandangan sehari-hari. Bau menyengat, lalat, serta lingkungan yang tidak sehat menjadi tantangan besar yang dialami warga selama bertahun-tahun.

Namun, berkat inisiatif dan kegigihan Ketua RW 12, Wawan Ridwan, situasi mulai berubah. Pada tahun 2012, ia memulai langkah-langkah untuk menangani masalah sampah di wilayahnya. Ia bekerja sama dengan kelurahan, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup untuk membersihkan tumpukan sampah yang sudah sangat besar.

“Kita kerahkan truk sampah, kita angkut semua, kita bersihkan. Alhamdulillah dibantu pemerintah, tapi inisiatif awalnya memang dari warga,” ujar Wawan Ridwan.

Dari proses pembersihan tersebut, lahir Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) RW 12. Sejak 2014, pengelolaan sampah organik difokuskan pada pembuatan kompos, meski dilakukan dengan sarana terbatas.

“Dulu kompos itu prosesnya lama, bisa sampai bertahun-tahun karena belum ada inovasi. Tapi tetap kita jalankan,” tutur Wawan.

Perjalanan mengelola sampah tidak selalu mulus. Keterbatasan sumber daya manusia dan modal menjadi tantangan utama. Saat ini, hanya dua orang petugas yang secara khusus mengelola pemilahan dan pengomposan sampah.

“SDM kita sedikit, modal juga terbatas. Modal utamanya ya semangat,” ujarnya sambil tersenyum.

Edukasi warga pun dilakukan secara bertahap. Tidak semua warga langsung terbiasa memilah sampah dari rumah, namun Ridwan memilih pendekatan persuasif dan konsisten.

“Warga itu pelan-pelan. Kita jelaskan terus, kita komunikasikan. Yang penting jangan bosan,” katanya.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Sekitar 40 persen sampah organik di RW 12 kini dapat dikelola menjadi kompos, sehingga mengurangi volume sampah yang harus dibuang keluar wilayah.

“Kalau organik ini kita kelola, penumpukan sampah bisa jauh berkurang. Manfaatnya langsung dirasakan lingkungan,” jelas Ridwan.

Tak hanya berdampak pada kebersihan, pengelolaan sampah juga memberikan nilai ekonomi. Hasil pemilahan sampah daur ulang dan kompos digunakan untuk operasional TPS 3R, bahkan mampu menggaji petugas secara rutin.

“Alhamdulillah dari hasil recycle itu kita bisa menggaji mereka. Jadi sampah ini benar-benar punya nilai,” ucapnya.

Kini, TPS 3R RW 12 juga mendukung aktivitas kelompok wanita tani (KWT) di sekitar wilayah Cipayung dengan menyediakan pupuk organik.

Ridwan berharap, apa yang dilakukan di RW 12 bisa menjadi contoh bagi wilayah lain.

“Ini bukan proyek instan. Tapi kalau mau dan konsisten, sampah itu bisa jadi berkah,” ujar Wawan.

Perubahan Lingkungan yang Nyata

Lurah Cipayung, Dini Nurlianti, menjelaskan bahwa area yang dulu dipenuhi bau menyengat dan lalat kini berubah menjadi lahan produktif yang menghasilkan pangan untuk warga.

“Dulu di sini sampah menumpuk sampai berton-ton, bahkan setinggi beberapa meter. Sekarang alhamdulillah sudah tidak ada tumpukan sampah sama sekali,” ujar Dini.

Pengelolaan kompos memberi dampak langsung pada lingkungan. Selain wilayah menjadi lebih bersih, warga juga mulai merasakan manfaat nyata berupa hasil panen dari kebun yang dikelola kelompok wanita tani (KWT) setempat.

“Kami bisa lihat sendiri hasilnya. Sudah ada panen jagung, terong, dan sayur-sayuran lain yang cukup untuk kebutuhan warga RW 12,” ucap wanita berhijab itu.

Kompos yang dihasilkan dari sampah organik digunakan langsung untuk menyuburkan tanaman di sekitar lingkungan RW. Dengan lahan terbatas di kawasan perkotaan, warga memanfaatkan setiap sudut fasos dan fasum untuk kegiatan pertanian skala kecil.

“Pupuk alami dari komposter ini sangat bermanfaat untuk tumbuh-tumbuhan. Lingkungannya hijau, hasilnya juga bisa dinikmati warga,” lanjutnya.

Selain mendukung ketahanan pangan, Dini menyebut sistem ini mengurangi ketergantungan warga pada pasokan dari luar. Hasil kebun dimanfaatkan untuk kebutuhan internal RW, sementara pengelolaannya melibatkan warga secara langsung.

“Untuk RW 12, ketahanan pangannya insya Allah terjaga. Dari sampah jadi kompos, dari kompos jadi pangan,” kata wanita berumur 43 tahun itu.

Kini, RW 12 Cipayung tak hanya dikenal sebagai wilayah bebas tumpukan sampah, tetapi juga sebagai contoh bagaimana pengelolaan sampah berbasis warga mampu menciptakan lingkungan bersih sekaligus mendukung kemandirian pangan.

“Ini bukti kalau sampah bisa selesai di lingkungan sendiri dan manfaatnya kembali ke warga,” pungkasnya.


Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *