"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Menjaga Harapan Warga Pasca-Bencana, BPBD Padang Distribusikan 70 Ribu Liter Air Bersih Harian

Wilayah Kuranji dan Pauh Mengalami Krisis Air Bersih

Kecamatan Kuranji dan Pauh menjadi wilayah yang paling terdampak dari krisis air bersih di Kota Padang, Sumatera Barat. Pasca-bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025, kondisi ini semakin memburuk. Sumur-sumur warga yang biasanya melimpah kini mengering total. Akibatnya, masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

Dalam beberapa bulan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang melakukan penyaluran air bersih ke wilayah-wilayah yang terkena dampak. Dua unit mobil tangki dikerahkan untuk menyalurkan air bersih kepada warga. Setiap hari, sekitar 70.000 liter air didistribusikan dalam 14 kali pengiriman.

Upaya BPBD dalam Menangani Krisis Air

Sejak awal Januari 2026, sumur-sumur warga mulai mengering. Hal ini menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air harian. Untuk mengatasi masalah ini, BPBD melakukan distribusi air secara rutin. Warga di berbagai titik, seperti RT 04/RW 04, Kelurahan Binuang Kampuang Dalam, Kecamatan Pauh, mengantre dengan jeriken dan ember untuk mengisi air.

Pemilik wadah tidak dibatasi jumlah air yang bisa diambil selama memiliki wadah yang cukup. Meskipun dalam kondisi sulit, warga tetap menunjukkan ketabahan. Mereka menyambut kedatangan truk tangki dengan senyuman dan bahkan menggunakan gerobak untuk membawa jeriken ke rumah masing-masing.

Prioritas Penyaluran Air Bersih

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Padang, Al Banna, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja keras untuk menutupi defisit air di wilayah terdampak. Saat ini, fokus utama adalah Kecamatan Kuranji dan Pauh karena dampak kekeringan yang paling parah.

Setiap hari, satu unit mobil tangki bisa melakukan hingga tujuh trip pengiriman. Totalnya mencapai 14 trip atau sekitar 70.000 liter air yang didistribusikan setiap hari. Persiapan penyaluran dilakukan sejak pukul 04.00 WIB, demi memastikan seluruh warga mendapatkan jatah air.

Namun, BPBD juga menerapkan skala prioritas. Pengisian tendon (tedmond) di dalam rumah tidak dilayani karena dianggap untuk kepentingan pribadi. Fokus utama adalah pengisian wadah-wadah yang diletakkan di luar agar akses air dapat dinikmati oleh orang banyak secara merata.

Tanggapan Warga terhadap Bantuan Air

Aris Budiman, salah satu warga setempat, mengungkapkan betapa pentingnya bantuan air bersih ini bagi kelangsungan hidupnya. Sumur miliknya yang biasanya menghasilkan air kini benar-benar mati total. Ia mengatakan, sudah tiga kali menerima bantuan air, dua kali dari PMI dan hari ini dari BPBD.

Yunimar, warga lainnya, menyampaikan bahwa air bersih bukan hanya untuk minum atau memasak, tetapi juga untuk menjaga sanitasi dasar. Tanpa air, rumah tidak lagi terasa layak huni.

Kerusakan Sungai sebagai Akar Masalah

Akar masalah kekeringan ini diduga kuat berasal dari kerusakan ekosistem sungai pascabanjir. Aliran Sungai Batu Busuak, yang selama ini menjadi sumber resapan utama bagi sumur-sumur warga, mengalami perubahan arah dan kerusakan struktur alami. Rusaknya saluran irigasi menyebabkan air tidak lagi terserap ke dalam tanah secara optimal.

Hal ini memicu hilangnya cadangan air tanah yang selama ini menghidupi ribuan warga di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam dan sekitarnya. Warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek berupa pengiriman air tangki, tetapi juga melakukan perbaikan permanen pada bendungan dan normalisasi aliran Sungai Batu Busuak agar pasokan air tanah kembali pulih seperti sedia kala.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *