Menghadapi Kekacauan dengan Bahasa yang Jujur
Menulis puisi dalam situasi sulit sering kali menjadi cara untuk menyampaikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa. Pertanyaannya, bagaimana menulis puisi yang indah ketika hati sedang penuh kekecewaan, frustrasi, atau lelah? Buku puisi Seberapa Indie karya Hamzah Muhammad memberikan jawaban yang unik dan tajam.
Puisi-puisi dalam buku ini mencerminkan pengalaman seorang penyair yang lahir dari generasi yang mengalami banyak transisi. Ia hidup dengan trauma, pasrah sambil terus mengeluh, merasa capek, dan sering berada dalam suasana mood yang tidak stabil. Gaya bahasanya pun demikian: tidak lagi mematuhi aturan baku, melainkan menggunakan bahasa yang lebih bebas, kadang kasar, tapi tetap emosional.
Buku ini memiliki desain sampul yang mirip dengan album London Calling milik The Clash. Ini mencerminkan gaya puisi Hamzah yang rebellious, seperti musik punk rock. Ia menolak diksi yang terlalu aman, metafora yang klise, serta kepatuhan berlebihan pada bentuk dan pola rima. Gaya bahasa dalam puisi-puisinya cenderung alir, blak-blakan, dan kadang tidak terduga, baik dalam hal tipografi maupun isi. Meski begitu, pesannya tetap jelas dan tegas.
Contohnya, dalam puisi yang berjudul “Culik gue dong alien”, ia menggambarkan kebosanan terhadap kehidupan di bumi dengan nada lucu dan spontan. Ini menunjukkan bahwa keindahan dalam puisi tidak selalu harus terlihat sempurna atau dipaksakan. Keindahan bisa muncul secara alami, tanpa dihiasi.
Menyampaikan Kekesalan dengan Bahasa yang Lugas
Hamzah menggunakan bahasa yang lugas dan lokal untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial dan politik. Dalam salah satu puisinya, ia menulis:
“… bisa gak sih orang-orang yang kerjanya pejabat jangan magabut. jangan semangat pas kampanye doang. bisa gak sih mafia pajak bea cukai & koruptor dibikin miskin sampe dikutuk tujuh turunan.”
Meskipun terdengar seperti keluhan atau omongan biasa, ia menyampaikannya dengan cara yang sadar dan terukur. Analogi yang digunakan, seperti membandingkan keindahan auman harimau dengan meong kucing, membantu pembaca memahami cara Hamzah berekspresi. Ia memilih untuk mengaum seperti harimau, bukan sekadar meong seperti kucing.
Dalam puisi lainnya, ia juga menggambarkan situasi yang memilukan, seperti tindakan remaja Israel yang membuang kotak bantuan ke jalanan. Ini menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi media untuk menyentuh wilayah pribadi pembaca, jika disampaikan dengan bahasa yang jujur dan lugas.
Pengaruh Budaya Urban Terhadap Gaya Menulis
Gaya menulis Hamzah sangat dipengaruhi oleh lingkungan urban Jakarta. Kehidupan pergaulan, komunitas seni, dan perjuangan para pekerja kota berpengaruh besar terhadap cara ia menulis. Ia tidak hanya mengambil isu-isu dari lingkungan tersebut, tetapi juga menyerap gaya bahasa yang digunakan di tempat-tempat seperti Rawamangun.
Ini membuat puisi-puisi dalam Seberapa Indie lebih mengena bagi pembaca Jakarta. Namun, tantangannya adalah buku ini cenderung tersegmentasi. Bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan bahasa pergaulan urban, gaya bahasa dalam puisi ini bisa terasa asing atau membingungkan.
Bahasa Lokal dan Pembaruan Estetika
Penggunaan bahasa lokal dalam puisi Hamzah bisa dilihat sebagai sebuah sikap yang “bold”. Ia memilih menggunakan bahasa Indonesia tidak baku, yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan dalam pergaulan. Hal ini berbeda dengan puisi tradisional yang sering kali menggunakan bahasa baku.
Kebiasaan ini juga terjadi dalam industri musik digital dan media sosial. Contohnya, lagu-lagu Pop R&B berbahasa Indonesia Timur seperti Tabola Bale, atau lirik Slank yang menggunakan bahasa pergaulan Jakarta, telah sukses menjangkau banyak pendengar. Ini menunjukkan bahwa bahasa lokal bisa menjadi daya tarik estetika yang kuat.
Puisi Edjy dan Peran Sastra
Istilah “Edjy” sering digunakan untuk menggambarkan gaya puisi Hamzah. Kata ini merujuk pada sifat eksperimental, berani, dan anti-mainstream. Meski istilah ini belum memiliki definisi resmi dalam dunia sastra, ia menggambarkan gaya penulis yang ingin menyampaikan realitas apa adanya, tanpa dipoles.
Hamzah sendiri tidak menyebut dirinya sebagai penyair atau sastrawan. Dalam salah satu puisinya, ia berkata:
“Nggak usah nyebut gue penyair atau ngegolongin gue sastrawan apalah. Nggak ada sastra di Jakarta. Bahas yang lain aja, yuk. Bosen gue.”
Namun, meskipun ia terkesan sinis, ia tetap berada di tengah dunia sastra. Ia masih sering muncul di toko buku, kafe, dan diskusi sastra. Karyanya terus lahir, walau dalam jalur yang tidak resmi. Ini menunjukkan bahwa sastra tidak selalu membutuhkan panggung besar untuk bertahan. Ia tetap hidup, bahkan di luar norma yang ada.











