"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Jejak Rempah Hikmah Fajar, Warisan Rasa Keluarga Palembang



PALEMBANG,

Ratusan buah kelapa segar terhampar di bawah bangunan semi permanen beratap seng. Cuaca siang itu cukup bersahabat, tak terlalu panas, juga tidak mendung. Sejumlah pria dan wanita tampak sibuk mengupas batok kelapa, memisahkan dari daging buah. Kelapa-kelapa tersebut nantinya akan diparut untuk diambil santannya sebagai bahan baku masakan.

Tak jauh dari hamparan kelapa, sebuah lorong berdinding seng membawa pengunjung ke area lain. Aroma kuat rempah-rempah langsung tercium, menusuk hidung. Di sudut kanan ruangan, tong-tong besar berisi bumbu yang telah dihaluskan tersusun rapi. Bumbu inilah yang kemudian dikemas dan didistribusikan ke sejumlah rumah makan ternama di Palembang, Sumatera Selatan.

Tempat ini merupakan lokasi penggilingan bumbu rempah milik Hikmah Fajar, yang beralamat di Jalan Siaran, Kecamatan Sako, Palembang. Nama Hikmah Fajar bukanlah pemain baru di dunia kuliner Palembang. Bumbu racikannya dikenal luas lintas generasi. Cita rasa khas yang dihasilkan membuat berbagai hidangan, mulai dari rendang, pindang, hingga malbi, terasa lebih kaya dan lezat.

Bisnis bumbu Hikmah Fajar dirintis sejak tahun 1975 oleh almarhum Haji Askar bersama sang istri, Uni Cinde. Sebuah lapak kecil di Pasar Cinde menjadi titik awal perjalanan usaha keluarga tersebut. Pada awalnya, Haji Askar dan Uni Cinde hanya menjual kelapa parut. Seiring waktu, mereka mencoba peruntungan baru dengan menjual cabai giling.

“Setelah menjual kelapa parut dan cabai giling, muncul ide dari orangtua untuk menjual bumbu masakan yang sudah digiling,” kata Novia Ariani, generasi kedua Hikmah Fajar, saat ditemui Rabu (21/1/2026). Berbekal ilmu meracik bumbu khas Minangkabau, Uni Cinde mulai bereksperimen dengan berbagai bahan baku. Hampir tiga tahun mencoba dan menyempurnakan racikan, hingga akhirnya ditemukan rasa yang pas di lidah konsumen.

“Semua bumbu diracik sendiri tanpa bahan pengawet. Komposisi bahan ditakar dengan sangat teliti, sehingga rasanya konsisten dan disukai masyarakat,” ujar Novia. Seiring meningkatnya permintaan, usaha yang bermula dari lapak kecil di Pasar Cinde itu pun berkembang. Hikmah Fajar membuka cabang di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Cinde, Pasar Perumnas, dan Pasar Lemabang.

Novia bersama sang suami kemudian melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga tersebut. Tak hanya mengandalkan pasar tradisional, bumbu Hikmah Fajar kini juga telah merambah pasar ritel modern. “Alhamdulillah, sekarang sudah masuk ke beberapa supermarket,” ungkap Novia.

Sebagai generasi penerus, Novia terus berinovasi agar usaha bumbu warisan keluarganya tetap relevan. Salah satunya dengan memperbarui kemasan agar terlihat lebih modern dan menarik. Namun, perubahan kemasan tersebut sempat berdampak pada penurunan omzet. Sebagian pelanggan mengira rasa bumbu ikut berubah.

“Akhirnya kami pajang dua kemasan sekaligus, yang lama dan yang baru. Masih ada juga pelanggan yang minta kemasan lama,” ujar ibu satu anak ini mengenang. Perlahan, pelanggan mulai memahami bahwa perubahan hanya pada kemasan, bukan rasa. Penjualan pun kembali meningkat.

Pada 2023, Novia mencoba memperluas pasar dengan sistem reseller online. Namun upaya itu justru berujung pahit. Ia mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat ulah reseller yang membawa barang tanpa melakukan pembayaran. “Barangnya diambil, tapi tidak dibayar. Kami sudah datangi rumahnya, tapi orangnya tidak ada,” kata Novia.

Tak ingin larut dalam kegagalan, Novia bangkit. Bersama putrinya, ia membuka toko daring di platform Shopee. Hasilnya di luar dugaan. Pesanan datang dari berbagai daerah, mulai dari ujung Sumatera hingga Kalimantan. “Yang paling diminati itu bumbu rendang, ayam goreng, sambal buncis, dan sop. Semua bumbu ini bisa tahan sampai satu tahun tanpa bahan pengawet,” ujarnya.

Tak hanya pasar domestik, bumbu Hikmah Fajar juga telah menembus pasar internasional. Amerika Serikat dan Australia menjadi dua negara tujuan ekspor mereka. “Hampir setiap tiga bulan sekali kami kirim sekitar 50 kilogram bumbu. Ada teman yang bekerja sebagai dosen di sana, setiap pulang selalu pesan banyak. Ternyata di sana juga banyak yang suka,” tutur Novia.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *