"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Pandangan Singkat Upaya Konservasi Alam Indonesia Era Hindu-Buddha

Sejarah Konservasi Alam di Indonesia

Upaya konservasi alam di Indonesia memiliki akar sejarah yang dalam, bahkan bisa ditemukan dalam bentuk prasasti dan naskah kuno. Dari masa Hindu-Buddha hingga era Jawa Kuno, masyarakat telah sadar akan pentingnya menjaga lingkungan untuk kesejahteraan bersama.

Prasasti dan Naskah Kuno sebagai Bukti Konservasi

Arkeolog Goenawan Sambodo menjelaskan bahwa banyak prasasti yang menginformasikan upaya pelestarian alam. Salah satunya adalah prasasti Sanghyang Tapak (952 Saka) dari Jawa Barat, yang menceritakan tentang penanaman pohon samida dan larangan menangkap ikan di wilayah tertentu.

Selain itu, prasasti Katiden I (1314 Saka) dari Jawa Timur juga menyebutkan larangan menebang pohon-pohon tertentu. Di dalam prasasti Katiden II (1317 Saka), terdapat anugerah yang diberikan raja Majapahit kepada penduduk Katiden yang telah membantu mengurusi rumput alang-alang, yang menjadi penting karena risiko kebakaran hutan.

Prasasti Salimar (802, 804 Saka) menceritakan suatu kawasan hutan lindung. Ini menunjukkan bahwa hutan lindung tidak hanya dibuat oleh pemerintah modern, tetapi juga sudah ada sejak masa lalu. Adapun prasasti Munduan (728 Saka) yang ditemukan di Kabupaten Temanggung, menginformasikan penetapan tanah sima, yaitu daerah otonom yang diberikan karena penduduk di sekitar Munduan telah menggembalakan kambing milik raja di sebuah hutan sehingga hutannya menjadi kawasan yang dilindungi.

Kitab Nagarakrtagama (1287 Saka) juga mencatat imbauan untuk memelihara huma, sawah, dan segala pohon yang ditanam. Di dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa tindakan pembakaran hutan, penebangan pohon, dan pemanfaatan hasil hutan tanpa izin raja atau pejabat berwenang bisa berujung pada hukuman mati.

Pejabat Masa Jawa Kuno yang Mengurus Lingkungan

Goenawan menyampaikan bahwa ada beberapa pejabat masa Jawa Kuno yang ditugasi mengurus persoalan yang berkaitan dengan lingkungan atau alam. Beberapa di antaranya adalah:
* pasuk alas (petugas kehutanan)
* pamrsi (mantri kebersihan)
* tuha alas (mantri kehutanan)
* tuha kalang (mantri perkayuan)
* tuha buru (mantri perburuan)
* mataman (tukang kebun)

Aturan-aturan ini dibuat demi kesejahteraan bersama, menunjukkan kesadaran masyarakat masa lampau akan pentingnya menjaga alam.

Tantangan Merumuskan Strategi Konservasi

Sarasehan konservasi oleh Komunitas Kandang Kebo digelar di tengah banyaknya bencana alam yang mendera Indonesia dalam beberapa bulan belakangan. Ketua Kandang Kebo Maria Tri Widayati menyebut bencana di Indonesia tidak hanya dipicu oleh faktor alamiah, tetapi juga akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, misalnya deforestasi dan eksploitasi alam yang kelewat batas.

Maria menegaskan bahwa leluhur bangsa Indonesia sebenarnya sudah memberikan contoh tentang bagaimana melangsungkan hidup tanpa harus merusak alam. Ia berharap sarasehan terbaru Kandang Kebo bisa menelurkan gagasan dan strategi untuk merumuskan strategi konservasi dengan berlandaskan kearifan masa lalu.

Narasumber dan Aksi Penanaman Bibit Pohon

Selain Goenawan, dalam sarasehan itu hadir pula dua narasumber lain: Yustinus Suranto yang dikenal sebagai perintis sekaligus pemerhati kayu budaya Nusantara dan Dyahning Retnowati dari BKSDA DIY. Sarasehan diakhiri dengan aksi penanaman bibit pohon secara bersama. Di tengah suasana mendung dan suhu siang hari yang agak menyengat, puluhan peserta sarasehan tampak antusias menggali lubang dan melesakkan akar bibit tanaman ke dalamnya.

Perihal Kandang Kebo

Komunitas Kandang Kebo dibentuk pada tahun 2015 dan berfokus pada pelestarian budaya. Nama Kandang Kebo sendiri menggambarkan kami sebagai orang bodoh, namun mau belajar, mengingatkan kita pada simbol kesahajaan, ketekunan, sekaligus kekuatan gotong royong masyarakat agraris. Kandang Kebo rutin menyelenggarakan acara blusukan ke situs cagar budaya dan menggelar sarasehan. Menurut dia, Kandang Kebo berkomitmen menjadi tempat belajar, berkreasi, dan menjadi wadah pewarisan budaya bagi generasi muda.

Makam Seniman Girisapto yang Tidak Dibuat Angker

Makam Seniman Girisapto yang menjadi tempat sarasehan terletak di sebuah bukit di Imogiri, tepatnya di seberang Makam Raja-Raja Mataram. Makam ini dibangun oleh Saptohoedojo, seorang maestro seni rupa Indonesia.

Berdasarkan pantauan, terdapat sejumlah seniman terkenal dari Yogyakarta yang dikebumikan di sini, misalnya pelukis Djoko Pekik (wafat 2023) dan seniman ketoprak Bondan Nusantara (wafat 2022).

Yani Saptohoedojo, istri Saptohoedojo, mengungkapkan alasan dibangunnya makam khusus seluas sekitar 5 hektare itu. “Makam Seniman dipersembahkan buat para seniman dan budayawan yang telah memberikan darma baktinya untuk negara dan telah mengharumkan nama lewat karyanya,” tutur Yani yang menyempatkan hadir dalam sarasehan.

“Karena para seniman itu pecinta keindahan, maka makam itu tidak dibuat angker, tetapi dibuat indah supaya yang ke sini terkesan bahwa seniman itu hidupnya indah. Setelah tiada pun, indah.”

Yani menyebut makam mulai dibangun tahun 1981. Sebelumnya, Saptohoedojo meminta izin terlebih dahulu kepada Sultan Hamengku Buwono IX lantaran Makam Seniman dibangun di dekat Makam Raja-Raja Mataram. “Setelah diizinkan, Pak Sapto membeli tanah ini dengan ditukar yang lebih besar, dua kali lipat,” kata Yani.

Istri mendiang Saptohoedojo itu berkata dulu situasi di makam sangat gersang sehingga ditanamlah pohon-pohon di sana.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *