JAKARTA,
Suasana di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, tampak berbeda dengan kehidupan di atasnya. Di atas jembatan, lalu lintas kendaraan terus bergerak tanpa henti, sementara di bawahnya, kehidupan berjalan dalam ritme yang lebih tenang, lembap, dan penuh aroma khas sungai. Ruang sempit yang berada tepat di tepi aliran Sungai Ciliwung berwarna cokelat pekat itu menjadi tempat aktivitas manusia yang intens nyaris tanpa jeda.
Di lokasi tersebut, sekelompok warga sibuk mengolah ikan sapu-sapu, jenis ikan yang selama ini sering dianggap sebagai hama, tetapi di sini justru menjadi sumber penghidupan. Mereka bekerja di atas rakit apung berwarna hijau cerah yang tersusun dari kubus-kubus plastik. Rakit tersebut mengapung tenang mengikuti arus sungai, berfungsi sebagai “meja kerja” dadakan bagi para pencari ikan. Di atas permukaannya yang sempit, ratusan ekor ikan sapu-sapu yang baru diangkat dari dasar sungai keruh diproses satu per satu. Dengan cekatan, tangan-tangan mereka memegang pisau kecil yang tajam, menyayat kulit ikan sapu-sapu yang keras dan menyerupai perisai. Dalam waktu singkat, ikan-ikan itu berubah menjadi potongan daging berwarna kemerahan, dipisahkan dari kulit hitam yang tebal dan kasar. Seluruh proses pemilahan dan pembersihan dilakukan langsung di atas rakit. Kulit ikan dibuang begitu saja ke aliran sungai, sementara dagingnya dimasukkan ke kantong-kantong plastik berwarna merah.
Kantong-kantong tersebut perlahan terisi penuh, siap dibawa untuk ditimbang dan dijual. Sesekali, seorang pencari ikan memperlihatkan segenggam telur ikan sapu-sapu berwarna oranye terang yang baru diambil dari perut ikan. Telur-telur kecil yang bergerombol itu tampak kontras dengan warna air sungai dan telapak tangan mereka yang basah. Bagi para pencari ikan di bawah kolong jembatan ini, hampir setiap bagian ikan sapu-sapu memiliki nilai ekonomi. Dagingnya dijual per kilogram, telurnya dimanfaatkan sebagai umpan memancing, sementara kulitnya karena terlalu keras dan sulit diolah sehingga dibuang ke aliran sungai.
Aktivitas ini melibatkan beberapa orang, baik pria maupun perempuan, yang duduk jongkok berjam-jam tanpa alas memadai. Mereka tampak terbiasa dengan aroma amis ikan dan bau sungai yang menyengat, seolah telah menyatu dengan keseharian di bawah kolong jembatan.
Dapur terbuka di bawah jembatan
Bagi para pencari ikan ini, kolong jembatan bukan sekadar tempat berteduh. Ruang tersebut menjelma menjadi dapur terbuka, ruang produksi sekaligus ruang hidup yang menopang mata pencaharian alternatif di tengah keterbatasan. Aroma amis ikan bercampur dengan bau air sungai yang tercemar menjadi bagian dari rutinitas harian. Tidak ada sarung tangan, tidak ada air bersih yang mengalir. Sesekali, tangan mereka dibilas seadanya di sungai yang sama tempat ikan-ikan itu ditangkap.
Ali (35), salah satu pencari ikan sapu-sapu, mengakui aktivitas hari itu tidak berjalan optimal akibat kondisi banjir. Ia mengatakan bahwa saat kondisi sungai normal, hasil tangkapan bisa jauh lebih banyak. Ikan sapu-sapu biasanya bersembunyi di lubang-lubang dasar sungai. Saat air naik karena hujan, lubang-lubang itu tertutup dan sulit dijangkau jala.
Ali mengaku sudah sekitar 10 tahun bekerja sebagai pencari dan pembersih ikan sapu-sapu. Ia tidak selalu turun menangkap ikan, terkadang hanya bertugas membersihkan dan memisahkan daging dari kulit. Alat yang digunakan pun sederhana, jala dan ban bekas sebagai pelampung. Dalam sekali jaring, Ali mengatakan bisa mendapatkan lebih dari 10 ekor ikan. Namun jumlah pastinya tidak menentu.
Telur jadi umpan, daging untuk pakan
Selain daging, telur ikan sapu-sapu juga menjadi komoditas tersendiri. Telur-telur itu diambil langsung dari perut ikan yang dibelah. Menurut Ali, telur ikan sapu-sapu umumnya hanya diminati untuk umpan memancing ikan lele dan bawal. Ia menyebutkan sebagian besar daging ikan sapu-sapu tidak langsung dikonsumsi oleh mereka, melainkan dijual kepada pengepul atau “bos” yang mengelola hasil tangkapan.
Bertaruh nyawa di sungai
Pitri (65), pencari ikan yang sudah dua puluh tahun beraktivitas di Ciliwung, menyebut pekerjaan ini penuh risiko. Selain arus sungai yang deras saat hujan, bahaya lain juga mengintai. Ada buaya juga. Namun, ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Fenomena dominasi ikan sapu-sapu ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyebutkan spesies invasif tersebut memiliki daya tahan tinggi terhadap lingkungan tercemar dan tingkat reproduksi yang cepat.
Dari sungai ke gerobak siomay
Rantai pemanfaatan ikan sapu-sapu tidak berhenti di bawah kolong jembatan. Di kawasan Stasiun Duren Kalibata, menemui Mamat (bukan nama sebenarnya) (51), pedagang siomay yang mengakui menggunakan ikan sapu-sapu sebagai salah satu bahan baku dagangannya. Ia mengatakan tidak selalu menggunakan 100 persen ikan sapu-sapu, terkadang mencampurnya dengan ikan lain yang dibeli di pasar. Alasan utamanya sederhana, harga lebih murah.
Boleh dikonsumsi, tapi…
Di sisi lain, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, memberikan peringatan tegas. Menurut dia, ikan sapu-sapu secara biologis memang bisa dikonsumsi, namun hanya jika berasal dari budidaya yang terkontrol, bukan dari sungai tercemar seperti Ciliwung. Ia menegaskan risiko kontaminasi logam berat dan bakteri berbahaya sangat tinggi pada ikan dari perairan tercemar.
Bagi para pencari ikan, ikan sapu-sapu bukan soal wacana kesehatan atau ekologi, melainkan soal bertahan hidup. Sungai yang sama-sama tercemar memberi mereka sumber nafkah, meski dengan risiko yang tidak kecil.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











