Kondisi Nelayan dan Warga di Pantai Ampenan Akibat Cuaca Ekstrem
MATARAM – Dalam sepekan terakhir, angin kencang disertai hujan badai telah menyebabkan kerusakan pada perahu-perahu nelayan yang berada di sepanjang pesisir Pantai Ampenan. Perahu-perahu tersebut terkena dampak dari gelombang laut yang tidak bersahabat, terutama di Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Ampenan, Kota Mataram.
Banyak nelayan memilih untuk menambatkan perahu mereka di lokasi pesisir yang lebih aman agar tidak terbawa arus gelombang. Pemilihan lokasi ini dilakukan karena kondisi cuaca yang masih ekstrem hingga Jumat malam (23/1/2026). Dari pantauan di pesisir Pantai Ampenan, sejumlah perahu nelayan berhasil diselamatkan dengan ditambatkan di sepanjang pesisir Pantai Senggigi Lombok Barat, yang dinilai lebih aman dari ancaman gelombang.
Namun, bagi nelayan yang tidak sempat menambatkan perahu di tempat yang aman, hanya bisa pasrah melihat perahu mereka terombang-ambing di tengah laut. Beberapa di antaranya bahkan tenggelam akibat bocor. Jumadi (45), salah satu nelayan, menunjukkan perahunya yang perlahan tenggelam. Hanya bagian atas perahu yang terlihat mengapung.
“Itu perahu saya, saya sudah tak bisa selamatkan lagi. Nanti harus diperbaiki dengan biaya cukup mahal karena perahu saat ini menggunakan campuran fiber,” ujarnya sambil menatap perahunya dengan rasa pasrah.
Menurut Jumadi, jika perahunya bisa diseret ke darat saat air laut surut dan bersahabat, ia akan mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk perbaikan. “Mau gimana lagi, itu harapan hidup kami. Apalagi sudah lebih dari empat hari kami tidak bisa melaut, sulit memenuhi kebutuhan hidup. Ini masa paceklik nelayan,” tambahnya.
Nelayan Tidak Bisa Melaut Akibat Gelombang Pasang
Selain kehilangan perahu, warga sekitar Pantai Ampenan juga khawatir dengan abrasi yang terus bergerak di kawasan permukiman mereka. Tercatat 18 rumah warga rusak parah akibat gelombang rob dan abrasi, serta tiga rumah lainnya terbawa gelombang. Lebih dari 100 meter jalan aspal di tepi pantai juga amblas dan tidak dapat dilalui kendaraan. Jika cuaca ekstrem masih berlanjut, warga tetap waspada.
Gelombang pasang selalu meninggalkan rasa takut dan trauma bagi warga yang tinggal di sepanjang Pantai Ampenan. Meskipun setiap tahun mengalami hal serupa, kali ini warga menyebut kejadian lebih ekstrem karena terjadi terus menerus disertai hujan lebat dan angin kencang selama sepekan.
Rumah-rumah warga pun mengalami kerusakan parah, seperti tembok yang hancur, atap yang roboh, dan pondasi yang habis tergerus abrasi. Rahmawati (35), warga lainnya, mengaku khawatir meski rumahnya lebih jauh dari bibir pantai, sekitar 50 meter. Namun, air rob masuk ke dalam rumahnya dan hingga kini masih tergenang.
“Kaget sekali dengan gelombang seperti suara gemuruh. Tahu-tahu malam-malam air sudah menerobos ke dalam rumah,” katanya.
Harapan Warga kepada Pemerintah
Warga berharap pemerintah segera memasang batu bintang pemecah ombak di sepanjang pesisir Pantai Ampenan, agar abrasi tidak semakin meluas. Rahmawati mengaku sejak kecil masih melihat bentangan alam Pantai Ampenan masih luas, kini sudah semakin surut dan susut tergerus abrasi.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB dan Kota Mataram, gelombang pasang dan abrasi di Pantai Ampenan merusak 18 rumah warga dan perahu nelayan. Bencana ini juga merusak jaringan air bersih dan memadamkan aliran listrik.
Pihak BPBD dan Tagana Kota Mataram telah membangun dapur umum di sekitar lokasi, untuk menyediakan kebutuhan makanan bagi ratusan jiwa terdampak. “Ini sudah dua hari kami siapkan dapur umum untuk melayani kebutuhan makan siang dan malam 350 jiwa,” kata Suhartini, petugas dapur umum Tagana Kota Mataram.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di wilayah NTB yang akan berlangsung hingga 26 Januari 2026. Cuaca ekstrem ini dipicu oleh keberadaan siklon Tropis di Barat Daya Teluk Carpentaria, Australia. Bibit siklon ini berpotensi menyebabkan hujan lebat disertai angin kencang, petir, serta peningkatan gelombang laut.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











