"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Setelah Tinggal di Huntara, Korban Banjir Agam Berharap Miliki Rumah Layak

Peresmian 117 Hunian Sementara untuk Korban Banjir Bandang di Kabupaten Agam

Sebanyak 117 hunian sementara (huntara) telah diresmikan dan langsung ditempati oleh para penyintas banjir bandang di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Peresmian tersebut dilakukan pada hari Sabtu (24/1/2026), menjadi momen penting bagi warga yang sebelumnya tinggal di posko pengungsian.

Deretan bangunan yang baru saja selesai dibangun ini menjadi babak baru bagi 117 keluarga penyintas banjir bandang. Mereka kini memiliki tempat tinggal sementara yang lebih layak dibandingkan dengan kondisi posko pengungsian yang sempat mereka tempati selama beberapa bulan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, hadir langsung dalam peresmian tersebut. Kehadirannya bertujuan untuk memastikan bahwa negara hadir di tengah puing-puing sisa bencana yang terjadi pada November 2025 lalu. Ia menyampaikan pesan penting mengenai pentingnya stabilitas hidup bagi warga yang sempat luluh lantak akibat bencana alam.

Bagi warga setempat, peresmian ini bukan sekadar seremonial gunting pita, melainkan jembatan harapan. Huntara ini menjadi jawaban bagi mereka yang selama berbulan-bulan harus bertahan di tengah ketidakpastian posko pengungsian.

Salah satu penghuni huntara, Sarina, menatap dinding bangunan tersebut dengan pandangan yang dalam. Baginya, bangunan ini adalah tempat berteduh sementara untuk memulihkan trauma hebat yang nyaris merenggut nyawanya. Sarina masih mengingat betul peristiwa kelam akhir November 2025 lalu. Saat itu, air bah datang menerjang sesaat setelah ia menunaikan ibadah salat, dan sempat menghanyutkannya sebelum keajaiban membawanya selamat dari maut.

Kini, dengan rumah lama yang telah rata dengan tanah, ia harus bersiap menghadapi bulan suci Ramadan 2026 dengan suasana yang jauh berbeda. “Ramadan tahun ini akan berbeda. Rumah sudah hanyut, sekarang tinggal di sini,” ujarnya lirih.

Senada dengan Sarina, warga lain bernama Rida juga mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga. Bagi Rida, peresmian Huntara ini datang di waktu yang sangat tepat, yakni menjelang bulan puasa. Sebelumnya, Rida dan keluarga harus berdesakan di posko pengungsian yang menempati SD 05 Kayu Pasak. Hidup di ruang kelas dengan fasilitas terbatas tentu bukan perkara mudah bagi para korban bencana.

“Sempat ragu kemarin, sebentar lagi Ramadan datang. Tak terbayang jika masih harus hidup berdesakan di posko SD 05,” kata Rida.

Meskipun rasa syukur menyelimuti, Rida tidak memungkiri bahwa Huntara ini hanyalah solusi antara. Ia menyimpan harapan besar agar pemerintah segera melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu pembangunan hunian tetap (huntap). Harapan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Rida mencermati adanya beberapa detail teknis pada Huntara yang dirasa kurang nyaman untuk ditinggali dalam jangka waktu yang lama.

Salah satu yang ia keluhkan adalah posisi fasilitas sanitasi atau WC. Menurutnya, tata letak kamar mandi di unit Huntara saat ini berpotensi menimbulkan masalah sosial antar tetangga. “Kamar mandi seharusnya bersebelahan juga dengan WC rumah lain, tapi ini tidak. Takutnya nanti bocor dan airnya merembes ke kamar atau rumah orang di sebelah,” jelas Rida.

Bahkan, ia menyebutkan bahwa posisi tempat tidurnya saat ini berbatasan langsung dengan dinding kamar mandi unit tetangganya. Kondisi ini membuatnya merasa canggung dan kurang nyaman. Akibat kekhawatiran tersebut, Rida memutuskan untuk sementara waktu tetap menggunakan WC umum.

Tantangan dan Harapan Warga

Menko PMK Pratikno dalam arahannya menegaskan bahwa peresmian 117 unit Huntara ini adalah titik krusial. Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau proses transisi ini hingga warga benar-benar pulih secara ekonomi dan sosial. Langkah ini dipandang sebagai upaya cepat pemerintah agar warga tidak terlalu lama berada di pengungsian darurat.

Namun, aspirasi warga mengenai huntap tetap menjadi catatan penting dalam agenda pembangunan ke depan. Ramadan tahun ini mungkin akan dijalani di dalam bilik sementara, namun doa warga tetap satu, yaitu bisa segera memiliki rumah yang utuh dan layak di masa depan. Sebuah rumah yang mereka sebut sebagai huntap.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *