"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

5 Buku Best Seller di Gramedia Kendari, Lengkap Harga dan Sinopsis

Rekomendasi Buku Best Seller di Gramedia Kendari

Gramedia, salah satu toko buku ternama di Indonesia, memiliki cabang di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dua lokasi utamanya berada di Lippo Plaza Kendari dan The Park Kendari. Kedua gerai ini menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh para pembaca setia yang mencari buku-buku terbaru atau best seller.

Salah satu pengunjung setia Gramedia Kendari, Rajab, mengatakan bahwa ia kerap memilih buku berdasarkan daftar best seller. Menurutnya, buku-buku terlaris biasanya memiliki alur cerita yang menarik dan penyajian yang menarik minat baca. Ia juga sering mencari rekomendasi buku melalui media sosial sebelum memutuskan untuk membeli.

Rajab menyebut bahwa buku yang banyak direkomendasikan biasanya juga termasuk yang paling laris di Gramedia. “Biasanya cari yang best seller, karena bacaannya biasa menarik. Dan itu bisa menambah semangat kita dalam membaca,” ujarnya.

Berikut adalah lima rekomendasi buku best seller yang tersedia di Gramedia Kendari:

  1. Keajaiban Toko Kelontong Namiya

    Buku karya Keigo Higashino ini merupakan best seller internasional dengan harga Rp156 ribu.

    Sinopsis :

    Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat. Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh. Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan. Hanya untuk satu malam. Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi.

  2. Laut Bercerita

    Novel karya Leila S Chudori ini dijual dengan harga Rp138 ribu.

    Sinopsis :

    Jakarta, Maret 1998 di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama biru laut disergap empat laki-laki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang beridiri dibalik gerakan aktivitis dan mahasiswa saat itu.

  3. Teruslah Bodoh Jangan Pintar

    Buku karya Tere Liye ini dibanderol dengan harga Rp142.500.

    Sinopsis :

    Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba. Saat seluruh negeri di kangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah. Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, tidak peduli dengan apa yang terjadi? Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, lawan!

  4. Sisi Tergelap Surga

    Novel karya Brian Khrisna ini dijual seharga Rp119 ribu.

    Sinopsis :

    Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan. Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis tergerus kejinya ibu kota. Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta.

  5. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Novel karya Brian Khrisna ini dibanderol dengan harga Rp111.500.

    Sinopsis :

    Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor sudah menikah, mereka akan panang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang kubeli dari toko manisan dekat kantor. Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Di kepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. Pantaskah hidup ini kulanjutkan? Aku berdiri menatap ke langit malam. Kini tekadku sudah bulat. Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.








Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *