Penataan Selasar Pasar Raya Padang: Tindakan yang Berujung Kericuhan
Tim gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), TNI, Polri, dan Dinas Perdagangan melakukan penataan besar-besaran di kawasan Selasar Pasar Raya Padang pada Selasa (3/2/2026). Tujuan utama dari aksi ini adalah untuk mengembalikan fungsi selasar sebagai area pejalan kaki yang aman dan nyaman bagi pengunjung. Petugas menyisir seluruh area tersebut untuk mengosongkan aktivitas berjualan yang selama ini menutupi fasilitas umum.
Sebanyak 63 pedagang diberi arahan untuk pindah ke Basemen Fase VII, yang disiapkan sebagai lokasi relokasi. Lokasi tersebut dinilai lebih tertata dan layak untuk mendukung aktivitas perdagangan yang lebih teratur. Namun, sebagian pedagang tidak mengikuti imbauan petugas, sehingga memicu tindakan penertiban sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Bidang Trantibum Tranmas Satpol PP Padang, Rozaldi Rosman, memimpin langsung operasi penataan ini. Ia menjelaskan bahwa penataan dilakukan dengan pendekatan humanis namun tetap tegas. Sejak awal, pihaknya telah melakukan sosialisasi, edukasi, dan dialog langsung dengan para pedagang. Dinas Perdagangan juga telah menyiapkan tempat relokasi yang lebih representatif agar pedagang tetap bisa berjualan dengan nyaman tanpa mengganggu masyarakat luas.
Namun, proses penataan tidak berjalan mulus. Awalnya, kegiatan imbauan melalui pengeras suara berlangsung tertib dan kondusif. Namun, sebagian pedagang tidak mengindahkan imbauan tersebut, sehingga petugas terpaksa mengambil langkah penertiban sesuai aturan. Hal ini memicu kericuhan antara petugas dan para pedagang.
Pedagang Menolak Pindah ke Basement
Para pedagang selasar Pasar Raya Padang meluapkan kekecewaannya saat ditertibkan. Mereka menolak pindah ke area basement karena merasa lokasi tersebut sudah ditempati oleh pedagang lain, yang berisiko memicu bentrok antarsesama. Penertiban ini sempat diwarnai kericuhan, dengan adu argumen antara petugas dan pedagang tentang legalitas dan kesepakatan tempat relokasi.
Puluhan personel Satpol PP dikerahkan untuk mem-back up Dinas Perdagangan dalam upaya penertiban selasar pasar. Petugas memberikan imbauan secara persuasif kepada para pedagang agar segera mengosongkan area yang bukan peruntukannya. Beberapa petugas bahkan membantu pedagang mengangkut barang dagangan mereka menuju lokasi baru.
Namun, raut wajah kekecewaan tak mampu disembunyikan oleh para pedagang yang merasa dipaksa pindah secara mendadak. Ketegangan yang semula hanya berupa adu mulut perlahan memanas. Dialog antara petugas Dinas Perdagangan dan pedagang menemui jalan buntu.
Masalah Utama: Ketidakjelasan Lokasi Relokasi
Puncak kericuhan terjadi sekitar pukul 10.36 WIB. Suasana yang tadinya kondusif pecah menjadi ricuh ketika dorong-dorongan antara petugas dan massa pedagang tak terhindarkan. Akibat insiden tersebut, seorang pedagang terpaksa diamankan dan dibawa ke atas mobil patroli Satpol PP untuk meredam situasi.
Ketidaksepakatan mengenai lokasi baru menjadi akar persoalan. Angga, salah satu pedagang yang terdampak, mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada kesepakatan final atau titik temu antara pihak pemerintah kota dengan komunitas pedagang terkait pemindahan tersebut. “Kami bukannya menolak ditertibkan, tapi kesepakatan pemindahan ini belum benar-benar deal. Kami merasa dipaksa pindah tanpa kepastian tempat yang jelas,” ujar Angga.
Area basement yang ditunjuk sejatinya sudah ditempati oleh pedagang lain. Memaksakan diri masuk ke area tersebut dianggap sama saja dengan memicu konflik horizontal antar-sesama pedagang. “Kami disuruh pindah ke basement yang katanya kosong, tapi kenyataannya di sana sudah ada orang. Kami tidak mau bentrok dengan rekan sesama pedagang hanya karena rebutan lapak,” tegasnya lagi dengan nada kecewa.
Senada dengan Angga, Nita, pedagang lainnya, menyuarakan jeritan hati yang sama. Baginya, berjualan di selasar adalah cara bertahan hidup yang paling realistis saat ini. Ketidakjelasan lokasi relokasi membuatnya merasa terombang-ambing di tengah ketidakpastian ekonomi. Nita berharap pemerintah daerah tidak hanya mengedepankan aspek keindahan kota, tetapi juga mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan keberlangsungan hidup rakyat kecil. Baginya, diskusi yang matang adalah kunci dari setiap kebijakan penataan pasar.
“Kami hanya ingin berjualan untuk makan. Hendaknya ada diskusi yang matang sebelum eksekusi. Kami butuh tempat pindah yang benar-benar siap dan layak, bukan sekadar janji ruang kosong yang ternyata sudah ada pemiliknya,” tutup Nita.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











