"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Tiga Berita Terpopuler Padang: Demo Pedagang, Keuntungan Penjual Bunga, dan Harapan Korban Banjir

Peristiwa Menarik di Kota Padang

Kota Padang, yang terletak di Sumatera Barat, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah beberapa kejadian menarik yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Berikut adalah rangkuman berita terkini yang mencakup aksi unjuk rasa pedagang, penghasilan penjual bunga tabur menjelang Ramadan, serta harapan warga penyintas banjir.

Aksi Unjuk Rasa Pedagang Pasar Raya Padang

Ratusan pedagang yang biasa berjualan di kawasan Pasar Raya Padang menggelar aksi unjuk rasa di Rumah Dinas Wali Kota Padang pada Senin (9/2/2026). Mereka menyampaikan keluhan terkait kebijakan penertiban dan relokasi yang dinilai merugikan pedagang kecil. Aksi dimulai dengan long march dari kawasan Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat menuju rumah dinas wali kota sekitar pukul 14.00 WIB. Para pedagang membawa spanduk dengan tuntutan seperti “Tolak Relokasi Pedagang yang Merugikan” dan “Negara Wajib Melindungi Pedagang Kecil”.

Selain spanduk, para pedagang juga membawa boneka berbentuk pocong sebagai simbol kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah. Salah satu orator, Yana, menyampaikan keluhan tentang perlakuan tidak adil oleh petugas penertiban. Ia mengaku barang dagangan mereka sering disita tanpa dikembalikan. Seorang pedagang perempuan lainnya menuturkan kesulitan mencari nafkah akibat penertiban yang sering dilakukan.

Usai menyampaikan aspirasi, sejumlah perwakilan pedagang diperbolehkan masuk ke Rumah Dinas Wali Kota Padang untuk audiensi dengan Pemerintah Kota Padang. Audiensi masih berlangsung hingga berita ini diterbitkan.

Penjual Bunga Tabur Raup Untung Hingga Rp500 Ribu Jelang Ramadan

Menjelang Ramadan, tradisi ziarah kubur di Kota Padang membawa berkah bagi penjual bunga tabur musiman. Bahkan sebagian pedagang mengaku bisa meraup untung hingga Rp500 ribu per hari. Salah seorang pedagang, Meli, mengatakan bahwa keuntungan yang diperoleh cukup menjanjikan. Dalam sehari, ia bisa meraup keuntungan ratusan ribu rupiah.

Meli mengungkapkan bahwa berjualan bunga tabur merupakan pekerjaan musiman yang ia lakoni setiap menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Lonjakan pembeli sudah terasa sejak tiga hari terakhir. Berbagai jenis bunga tabur disediakan Meli untuk memenuhi kebutuhan peziarah, mulai dari bunga mawar hingga bunga campuran lengkap dengan air dan minyak wangi.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Ririn, mengaku rutin berziarah ke makam keluarga setiap menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Ia selalu membeli bunga tabur saat berkunjung ke makam.

Harapan Warga Penyintas Banjir di Kapalo Koto

Gerimis yang membasahi kawasan Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Senin (9/2/2026) siang, tak menyurutkan langkah puluhan warga. Di atas tanah yang masih basah, mereka berjibaku menggali fondasi, merangkai besi, dan menyusun harapan baru melalui pembangunan hunian tetap (huntap).

Suara denting linggis yang beradu dengan batu kali bersahutan dengan deru mesin truk yang sesekali datang menurunkan material besi. Di sudut lain, kepulan asap tipis muncul dari dapur darurat. Sejumlah ibu rumah tangga sibuk menyeduh kopi dan teh hangat, sebuah gestur sederhana untuk menjaga semangat para lelaki yang sedang bekerja.

Eva Susanti, salah seorang warga yang kini menempati hunian sementara sehat dan layak (Hunsela), tampak memerhatikan progres pembangunan itu dengan saksama. Baginya, bisa pindah ke huntap adalah impian terbesar saat ini. Rumah lamanya telah rata dengan tanah, tersapu amukan air yang tak menyisakan apa pun kecuali kenangan pahit.

Nuansa Ramadan dan Lebaran tahun ini dipastikan akan terasa sangat berbeda bagi warga Pauh. Kehilangan bukan hanya soal harta benda, melainkan juga memori kolektif sebuah pemukiman. Kesedihan semakin terasa saat membicarakan urusan ibadah. Salat Tarawih tahun ini akan terasa lebih berat bagi warga karena Surau Jamiaturrahmah, pusat kegiatan keagamaan mereka, ikut hanyut terbawa arus banjir.

Nurhayati, penyintas lain yang kehilangan rumah secara total, mengatakan bahwa hidup di Hunsela adalah cara untuk menjaga martabat keluarga. Di sanalah ia tetap merutinkan kegiatan memasak, sebuah upaya untuk menghadirkan kembali suasana rumah di tengah segala keterbatasan yang ada.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *