Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Kupang dan Kabupaten Belu
Dentuman tambur menggema berpadu dengan gemerincing simbal langsung menyedot perhatian ratusan pengunjung baik anak-anak maupun orang tua. Dua barongsai berwarna merah dan kuning dari Toko NAM tampak lincah menari di tengah kerumunan warga yang memadati lokasi acara di Atrium Lippo Plaza Kupang, Selasa (17/2) siang. Anak-anak duduk di bahu orang tuanya, sementara pengunjung lainnya mengabadikan momen dengan ponsel mereka.
Suasana dipenuhi tepuk tangan dan sorak sorai, menciptakan kemeriahan khas perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Kupang. Selain pertunjukan barongsai, pengunjung juga disuguhkan bazar kuliner dari pelaku UMKM yang turut meramaikan perayaan tersebut. Berbagai stan makanan dan minuman tampak dipadati pengunjung yang ingin menikmati sajian khas sembari menonton atraksi.
Marketing Komunikasi Lippo Plaza Kupang, Brenda Frans, mengatakan, pertunjukan barongsai merupakan agenda rutin tahunan yang selalu digelar setiap perayaan Imlek. “Lippo Plaza sudah berkomitmen setiap tahun akan terus mengadakan pertunjukan barongsai. Jadi ini memang acara tahunan yang rutin kami laksanakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain barongsai, pengunjung juga dihibur dengan pertunjukan tarian Payung tradisional yang dibawakan siswa sekolah balet di Kota Kupang. Adapun tim barongsai yang tampil merupakan satu-satunya tim barongsai yang ada di Kota Kupang dengan jumlah personel lebih dari 20 orang. Atraksi yang ditampilkan berhasil memukau penonton, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
“Antusiasme masyarakat selalu ramai. Setiap kali kami posting di Instagram atau media lainnya, mereka selalu menyambut dengan baik dan bertanya kapan ada barongsai lagi. Jadi memang setiap Imlek selalu dinantikan,” jelas Brenda.
Ke depan, pihaknya berharap pertunjukan barongsai dan berbagai hiburan lainnya dapat terus memberikan warna dan hiburan bagi masyarakat Kota Kupang. “Kami ingin memberikan hiburan bagi masyarakat, apalagi Lippo Plaza Kupang menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang ramai dan sering dikunjungi warga. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus menghibur masyarakat,” tambahnya.
Salah seorang pengunjung, Yoan, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. “Setiap tahun saya selalu tunggu barongsai di Lippo. Anak-anak juga senang sekali lihat atraksinya. Suasananya meriah dan jadi hiburan gratis untuk keluarga,” katanya.
Misa Imlek di Paroki Santa Maria Assumpta
Misa Imlek dilaksanakan di Paroki Santa Maria Assumpta berjalan lancar dan begitu meriah. Misa dipimpin Romo Rudy Tjung Lake bersama tiga rekan imam lainnya. Suasana perayaan Tahun Baru Imlek begitu terasa baik di dalam gereja maupun juga di luar gereja. Hiasan berwarna merah seperti lampion, bunga sakura hingga kipas berwarna merah membuat suasana Imlek di dalam gereja tersebut begitu terasa.
Para imam yang memimpin misa tersebut menggunakan jubah merah bahkan pemimpin misa, Romo Rudy mengenakan topi berwarna merah dan senada dengan jubah dikenakan. Para misdinar atau pelayan altar juga mengenakan hiasan bertemakan Imlek pada rambut dan topi. Selain itu juga, para penari yang terdiri dari anak-anak usia dini yang menari menggunakan baju berwarna senada dengan aksesoris tarian seperti lampion dan kipas.
Misa yang diikuti puluhan umat katolik etnis Tionghoa di Kota Kupang yang datang menggunakan pakaian berwarna merah. Dalam khotbahnya Romo Rudy menekankan untuk peduli dan bakti terhadap orangtua. “Menghormati orangtua adalah fondasi utama dari perilaku moral seseorang. Kita tidak pernah bisa membayangkan satu kehidupan tanpa orangtua,” ujarnya.
Romo Rudy menekankan bahwa hormat kepada orang tua sebagai wujud iman. Romo Rudy mengatakan kita tidak bisa memilih orangtua kita dilahirkan tetapi siapa yang mencintai dan menaruh hormat bagi orangtua, ia telah meretas jalan menuju kepada keabadian. Sebelum melakukan berkat penutup, Romo Rudy juga melakukan pemberkatan buah jeruk yang akan dibagikan kepada umat dan angpao yang dibagikan secara khusus bagi anak-anak yang hadir mengikuti misa tersebut.
Sekitar kisaran 40 hingga 50 anak mengikuti misa Imlek tersebut, berbaris secara rapi dan maju satu persatu untuk menerima angpao dari Romo Rudy sembari juga mendapatkan berkat.
Perayaan Misa Imlek di Gereja Katedral Atambua
Sementara umat Katolik Tionghoa di Kabupaten Belu mengikuti perayaan Misa Imlek 2577 Kongzili di Gereja Katedral Atambua, Selasa (17/2). Dalam ibadah bernuansa Tionghoa tersebut, seluruh umat diajak menjaga dan melestarikan bumi sebagai wujud tanggung jawab iman sekaligus upaya menjauhkan diri dari berbagai bencana alam.
Perayaan Misa berlangsung khidmat dipimpin Vikaris Jenderal Keuskupan Atambua Pater Vincentius Wun, SVD bersama sejumlah imam konselebran. Suasana gereja dipenuhi ornamen khas Imlek yang menambah semarak perayaan Tahun Kuda Api.
Dalam homilinya, Pater Vincentius menyoroti kondisi dunia yang diliputi kecemasan, mulai dari peperangan, ketidakstabilan ekonomi, hingga berbagai kebijakan yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Pater Vikjen mengajak umat untuk tetap berjalan bersama Tuhan serta terus mendoakan perdamaian dunia.
“Di tengah situasi yang tidak menentu ini, umat diminta untuk merawat alam dan tidak merusaknya. Ketika manusia serakah terhadap lingkungan, bencana pun datang dan menghilangkan banyak nyawa,” pesannya.
Ia menambahkan, perayaan Imlek 2577 yang memasuki Tahun Kuda Api diharapkan membawa energi kuat, semangat baru, serta peluang kehidupan yang lebih baik bagi seluruh umat.
Mario Tanur, salah satu umat Tionghoa, berharap agar konflik global dan krisis ekonomi segera berakhir sehingga dunia kembali pulih. Ia juga menegaskan pentingnya toleransi yang telah terjaga dengan baik di Kabupaten Belu. “Kami bersyukur di Indonesia, khususnya di Kabupaten Belu, toleransi antarumat dan antar etnis sangat tinggi. Itulah makna Imlek sesungguhnya, menghadirkan kebersamaan di tengah perbedaan,” ujar Rio, yang juga Ketua HIPMI Belu.
Ia berharap Tahun Kuda Api membawa rezeki berlimpah sekaligus kemampuan menghadapi tantangan dengan cepat dan penuh semangat. “Tahun ini spesial, penuh peluang tapi juga tantangan. Kalau kita lambat mengambil keputusan, pasti akan tertinggal,” tuturnya.
Kegiatan Sosial dan Berbagi Kasih
Sementara Paguyupan Sosial Marga Thionghoa Indonesia ( PSMTI) TTS menggambarkan perayaan Imlek tahun 2026 dirayakan dengan kegiatan sosial dan berbagi kasih. Sekretaris PSMTI TTS, Jhon Thio, melalui sambungan telepon pada Senin (16/2) menjelaskan, selaras dengan tema Imlek 2026, yaitu Harmoni Imlek Nusantara, semua induk paguyupan Thionghoa akan merayakan tahun baru dengan sederhana namun penuh kasih.
“Untuk perayaan Imlek tahun ini, PSMTI TTS merayakan Imlek secara sederhana karena kita sesuaikan kondisi bangsa yang tengah mengalami berbagai bencana alam di beberapa tempat,” jelasnya.
Thio melanjutkan, kesederhanaan dalam perayaan tidak menutup pintu berbagi kasih oleh PSMTI TTS. Dalam semangat Imlek, gerakan sosial telah dilakukan bahkan sejak awal tahun 2026.
“Kami akan merayakan Imlek di rumah masing-masing, namun kegiatan berbagi kasih dalam rangka menyongsong Imlek sudah kami lakukan sejak awal tahun ini, dan akan terus dilakuan ke depannya,” pungkasnya.
Kepedulian sosial yang dilakukan yaitu memberikan sumbangan seperti bantuan mesin cuci bagi Panti Pondok Karya Timor, Pembagian angpao Imlek bagi anak-anak Pantia Asuhan Mercy Soe, Baksos di Gereja Betel Heum Teas, Pembagian Sembako di Jemaat GMIT Fatumalak Amanuban Selatan, bakti sosial rutin bulan, dan sebagainya.
Untuk tahun ini juga, masih dalam semarak tahun baru Imlek, Sekretaris PSMTI TTS menyampaikan akan melakukan buka puasa bersama umat muslim di Wilayah TTS. “Kami juga akan melakukan ibadah bersama, di mana Perayaan Cap Goh Me yang jatuh pada (3/3/2026), karena hanya berjarak 15 hari, maka kita satukan dengan perayaan Imlek,” tuturnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Ikatan pemuda Thionghoa masih dalam semarak Imlek tahun 2026, telah tengah mengumpulkan donasi berupa alat tulis untuk dibagikan ke sekolah-sekolah. “Ini memang belum kita berikan, namun sudah mulai kita kumpulkan untuk donasi ke sekolah-sekolah. Tentu dalam semangat tahun baru imlek,” jelas Thio.
Program Beasiswa untuk 40 Siswa
Ketua INTI NTT, Ir. Theo Widodo, menegaskan komitmen organisasinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa bagi 40 siswa untuk melanjutkan studi ke Tiongkok. Hal itu disampaikannya saat ditemui usai misa syukur perayaan Imlek di Gereja Katolik Santa Maria Assumpta, Kota Kupang, Selasa (17/2).
Theo menjelaskan, program beasiswa tersebut menjadi fokus utama dalam resolusi awal tahun INTI NTT. “Kami memiliki fokus satu program kerja khusus. Kita mengadakan resolusi awal tahun di mana kita mengirimkan 40 siswa untuk belajar lebih lanjut di Tiongkok, tepatnya Nantong University,” ujarnya.
Ia menyebutkan, para penerima beasiswa dijadwalkan berangkat pada Oktober tahun ini dan akan menjalani pendidikan selama tiga tahun di Nantong University, Cina. “Mereka akan berangkat di bulan Oktober tahun ini. Para penerima beasiswa akan melanjutkan pendidikan ke Nantong University, Cina, selama tiga tahun,” jelasnya.
Menurut Theo, program ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk mencetak generasi muda yang memiliki wawasan global serta mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah setelah menyelesaikan studi.
Simbol Kuda Api dan Makna Tahun Baru Imlek
Theo berharap masyarakat Tionghoa memaknai Imlek dengan kesederhanaan dan kepedulian sosial. “Kita awali perayaan Imlek kita dengan misa syukur. Perayaan Ekaristi ini harapan saya, terutama bagi masyarakat etnis Tionghoa, mari kita rayakan Imlek ini tidak dengan pesta pora tetapi lebih banyak pada kepedulian pada sesama, lingkungan kita dan berdamailah dengan semua orang,” ujarnya.
Menurut Theo, perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api dimaknai sebagai momentum refleksi dan penguatan persatuan di tengah dinamika global maupun lokal. Simbol Kuda Api tambahnya, memiliki makna yang mendalam. “Kuda melambangkan kecepatan, kuat. Kuda itu hewan yang tidak pernah memangsa hewan lain,” ujarnya.
Sementara unsur api, lanjutnya, memiliki makna tersendiri dalam konteks situasi dunia saat ini. “Api artinya panas. Kita tahu situasi dunia sekarang sedang tidak baik-baik saja, ada banyak perang di mana-mana. Itulah sebabnya kita harus banyak berdoa, mohon penyelenggaraan Tuhan agar kita tidak terjebak dalam perang besar,” katanya.
Ia menilai, makna Kuda Api menjadi pengingat agar masyarakat tetap kuat, tangguh, namun tidak agresif, serta terus mengedepankan nilai damai dan persaudaraan. Pada perayaan Imlek tahun ini, tema yang diangkat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yakni “Harmoni dalam Keberagaman”. Theo menilai tema tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia, termasuk di NTT. “Kita semua sadar bahwa bangsa Indonesia sangat beragam dan persatuan itu adalah hal terpenting. Jadi tema kali ini memang tepat sekali,” tegasnya.
Ritual Sembahyang di Vihara Ming Ven Fo Thang
Umat Etnis Tionghoa di Kabupaten Belu melaksanakan sembahyang tutup tahun Imlek 2576 sekaligus menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Tahun Kuda Api. Rangkaian ibadah berlangsung khidmat di Vihara Ming Ven Fo Thang Atambua, Kelurahan Kota Atambua, wilayah perbatasan RI-Timor Leste, Senin (16/2) malam.
Kegiatan sembahyang dihadiri Ketua Yayasan Metta Prajna Buddha Indonesia Wihara Ming Ven Fo Thang Atambua, Indro Saputro Sulaiman, Sekretaris Kim Surya, serta para pengurus dan umat Tionghoa lainnya. Sejak pukul 18.00 Wita, umat memulai doa tutup tahun sebagai ungkapan syukur atas perjalanan setahun terakhir. Menjelang pergantian tahun, tepat pukul 23.00 Wita, umat kembali berkumpul untuk melaksanakan ritual sembahyang Tahun Baru Imlek, memohon berkat, kesehatan, dan keberkahan di tahun yang baru.
Indro Sulaiman mengajak seluruh umat menjadikan momentum Imlek sebagai awal semangat baru untuk meraih peluang yang lebih baik. Menurutnya, sembahyang juga menjadi wujud penghormatan kepada para leluhur serta sarana memanjatkan rasa syukur atas kehidupan yang dijalani. “Harapan kami di tahun baru ini, seluruh umat Tionghoa diberikan kesehatan, kelancaran usaha, dan kehidupan yang semakin baik. Tahun Kuda Api melambangkan energi, kerja keras, keberanian, serta semangat pantang menyerah,” ujarnya.
Sementara itu, Kim Surya menekankan pentingnya keharmonisan antara manusia dan alam dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga berharap nilai toleransi yang selama ini terjaga di Kabupaten Belu terus dipelihara demi terciptanya kehidupan yang damai dan rukun di masa mendatang.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











