Keberagamaan sebagai Praktik Kemanusiaan
Keberagamaan bukan sekadar hafalan dalil dalam kitab suci, tetapi merupakan praktik nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Nilai toleransi yang ditanamkan oleh ayahnya, Abah Rasyid, melalui dialog sehari-hari dan inisiatif sosial seperti “Kapal Kemanusiaan” menjadi contoh nyata bagaimana agama bisa menjadi jembatan antar sesama.
Sejarah pernikahan beda agama dan pengajaran Agama Multikultural menekankan pentingnya kerukunan dan penghargaan terhadap keberagaman. Hal ini menjadi dasar dari cara pandang Haji Muhammad Ikhsan Wahab, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Baginya, agama tidak boleh berhenti pada hafalan dalil di dalam buku. Ia meyakini bahwa esensi keberagamaan justru ditemukan dalam “teks kehidupan”, sebuah praktik kemanusiaan nyata di tengah keberagaman masyarakat.
Warisan Toleransi dari Abah Rasyid
Ikhsan Wahab memaknai toleransi bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan warisan hidup yang terjaga melalui dialog di meja makan yang dibangun almarhum ayahnya, H. Abdul Rasyid Wahab atau lebih akrab dikenal Abah Rasyid.
Abah Rasyid adalah tokoh Muslim terkemuka dan pejuang kemanusiaan dari Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia dikenal luas sebagai simbol toleransi dan “penjaga perdamaian” di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Pada tahun 2018, ia menerima MAARIF Award, sebuah penghargaan bergengsi bagi tokoh-tokoh yang gigih memperjuangkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan kemajemukan di Indonesia.
Abah Rasyid meninggal dunia pada Rabu 4 Oktober 2023 sore di Beru, Kota Maumere. “Beliau (Abah Rasyid) bukan hanya orang tua, tapi sahabat diskusi yang asyik. Persoalan kemanusiaan dan problem masyarakat luas dituangkan dalam dialog di ruang makan. Dari sana kami mendapatkan nilai tentang keakraban sesama manusia dan bagaimana mencari jalan keluar bagi beban masyarakat,” ujar Haji Ikhsan saat ditemui di Masjid Darussalam Waioti, Maumere, Rabu (18/2/2026).
Melampaui Teks Buku
Bagi Ikhsan, sosok sang ayah, almarhum Abah Rashid Wahab, adalah kompas moral utamanya. Oleh karenanya, Ketua MUI Kabupaten Sikka ini yakin bahwa agama harus hadir sebagai pemberi manfaat bagi kemanusiaan.
Latar belakang pendidikan Ikhsan yang kental dengan tradisi pesantren dan hukum Islam di Jakarta sempat membuatnya melihat agama secara tekstual. Namun, sekembalinya ke Maumere, interaksi intens dengan sang ayah mengubah cara pandangnya. Ia menyadari bahwa ada “teks kehidupan” yang jauh lebih luas daripada sekadar literatur di buku-buku sakral.
Ikhsan mengenang saat mendampingi ayahnya dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hingga ke pelosok Pulau Palue. Di sana, ia menyaksikan bagaimana agama dipraktikkan secara pragmatis dalam arti positif yakni keberagamaan yang memberikan manfaat nyata. “Kalau beragama itu merusak atau menghancurkan, itu bukan agama. Agama harus memberikan makna dan mengurangi beban kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Inisiatif Kapal Kemanusiaan
Salah satu warisan konkret yang kini ia kawal adalah cita-cita sang ayah mengenai “Kapal Kemanusian”. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap warga pulau yang sulit mengakses layanan kesehatan saat cuaca buruk. Kapal ini diharapkan menjadi jembatan keselamatan bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Ketua MUI Sikka dua periode ini menjelaskan bahwa kerukunan di “Bumi Nian Tana” Sikka memiliki akar historis yang kuat. Ia mencontohkan sejarah keluarganya sendiri di Geliting, di mana asimilasi budaya melalui pernikahan beda agama sudah lazim terjadi sejak zaman nenek moyang. “Nenek saya memiliki saudara yang menikah dengan Raja Thomas. Budaya kawin-mawin ini sudah terjadi sejak lama. Kita berasal dari satu nenek moyang yang sama, jadi buat apa saling menjatuhkan?” kata Ikhsan.
Pendidikan dan Inklusivitas
Semangat inklusivitas ini juga ia terapkan dalam dunia pendidikan sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Maumere. Ikhsan mengampu mata kuliah Agama Multikultural, sebuah ruang di mana mahasiswa Muslim, Katolik, dan Protestan duduk bersama memotret persoalan kemanusiaan. “Pendidikan agama tidak boleh hanya berhenti pada aspek kognitif atau menghafal dalil, tetapi harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik,” jelas Ikhsan.
Mahasiswa diajak merefleksikan tradisi lokal, seperti sistem barter antara warga pantai (Muslim) dan warga gunung (Katolik), sebagai modal sosial untuk membangun peradaban.
Membakar Ego di Bulan Ramadhan
Menjelang bulan suci Ramadhan, Ikhsan membawa pesan mendalam bagi umat Muslim di Sikka. Ia memaknai Ramadhan dari akar kata Ramado yang berarti “membakar”. “Maksudnya adalah membakar ego kita, membakar ketidakjujuran, dan hal-hal buruk dalam diri. Sehingga yang muncul ke permukaan adalah nilai kebaikan bagi sesama,” jelasnya.
Sebagai nakhoda MUI Sikka yang menaungi berbagai organisasi seperti NU dan Muhammadiyah, Ikhsan berkomitmen untuk terus bersinergi. Di tengah keberagaman Sikka yang dinamis, Ikhsan Wahab memastikan bahwa api toleransi yang dinyalakan pendahulunya tetap hangat tidak menghanguskan, melainkan menerangi.
Baginya, tugas pemimpin agama adalah memastikan bahwa setiap ritual peribadatan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hubungan kemanusiaan.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











