Perjalanan ke Kota Tarim: Pengalaman yang Menggambarkan Kehidupan Santri
RUBLIK DEPOK – Nama kembali mencuri perhatian lewat catatan perjalanannya bertajuk “Tarim Tanah” yang ditulis pada 12 Februari 2026. Dalam tulisan tersebut, ia merekam pengalaman personalnya menyusuri Kota Tarim, sebuah kota kecil di kawasan Hadramaut, Yaman, yang selama ini dikenal luas sebagai pusat pendidikan Islam dan rujukan banyak pelajar Indonesia.
Perjalanan itu bermula dari sebuah percakapan sederhana. “Dari mana Anda tahu saya sedang di Tarim?” tulis Dahlan mengisahkan dialognya dengan Fikri Syafi’i, Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Tarim. “Hari itu Bapak sarapan di warung Indonesia di depan kampus kami. Dua orang mahasiswa melihat Bapak,” ujar Fikri sebagaimana dikisahkan Dahlan dalam tulisannya.
Percakapan ringan itu membuka kisah tentang Tarim yang tak hanya religius, tetapi juga keras oleh debu, tanah, dan lanskap wadi yang unik. Catatan Dahlan bukan sekadar reportase perjalanan, melainkan refleksi atas ruang, tradisi, dan jejak sejarah di jantung Hadramaut.
Pertemuan Tak Terduga di Warung Indonesia
Di sebuah warung sederhana dekat kampus, Dahlan mengaku bertemu dua mahasiswa Indonesia. Salah satunya ternyata adalah Alwi Assegaf, pemeran utama film Kiansantang. “Ngerti gitu saya minta untuk foto bareng,” tulis Dahlan dengan nada ringan, menggambarkan penyesalan kecilnya karena tak sempat mengabadikan momen tersebut.
Ia menggambarkan sosok Alwi mengenakan topi haji, surban, dan sarung, dengan sikap tawaduk khas santri. “Penampilannya sangat sopan, wajah menunduk, dan tangan menyatu di depan,” tulisnya. Gambaran itu mempertegas citra Tarim sebagai kota santri yang membentuk karakter sederhana dan religius bagi para pelajarnya.
Momen sarapan pun menjadi potret kecil akulturasi. Dahlan memesan nasi putih, telur dadar, tempe goreng, dan sambal—menu khas Indonesia—sementara Alwi menikmati roti bundar tipis khas setempat. “Saya hanya ingin merasakan. Siapa tahu lain kali ingin pesan ini,” tulisnya saat mencicipi roti tersebut.
Pertemuan itu singkat. Alwi pamit lebih dulu, menaiki sepeda motor model lama yang berdebu. Di Tarim, kendaraan kinclong hampir tak terlihat. Debu menjadi bagian dari keseharian.
Tarim Kota Tanah dan Debu
Tarim, yang terletak di wilayah Hadramaut, Yaman, memang dikenal sebagai kota yang dibangun dari tanah. Gunung-gunungnya berupa gunung tanah. Rumah-rumah dan bangunan berdiri dari bata tanah yang diproduksi secara tradisional. “Sumber daya alam terbanyak di Tarim memang tanah,” tulis Dahlan.
Ia bahkan menyebut tidak akan ada bisnis cuci mobil di kota itu. Debu kering menyelimuti kendaraan, jalan, dan bangunan. Hujan hanya turun lima atau enam kali dalam setahun. Setiap kendaraan melintas, debu beterbangan seperti sarung yang dikibaskan.
Ketertarikannya pada struktur bangunan membawanya ke tempat pembuatan bata tanah. Bagi Dahlan, itu seperti ziarah kedua setelah sebelumnya mengunjungi Pondok Darul Mustofa yang didirikan oleh . Pondok tersebut dikenal luas sebagai pusat pendidikan Islam ternama di Tarim dan menjadi tujuan banyak pelajar Indonesia.
Apartemen tempat Dahlan menginap berada tak jauh dari Darul Mustofa. Ia tiba di Tarim pada Jumat pagi setelah pesawat dari Jeddah mendarat di Saiyun, bukan di Aden seperti yang tertera di tiket.
Mendarat di Saiyun, Menuju Kota Santri
Pesawat Yemeni yang ditumpangi Dahlan mendarat di , kota kecil yang berjarak sekitar 40 menit perjalanan darat dari . Bandara Aden ditutup untuk penerbangan internasional akibat konflik di Yaman, sehingga penerbangan dialihkan.
“Berarti saya bisa ke Tarim. Kalau saja pesawat itu mendarat di Aden beneran mungkin saya tidak akan sampai Tarim,” tulisnya. Baginya, mendarat di Saiyun adalah keberuntungan tersendiri.
Dari udara, Dahlan menyaksikan lanskap yang unik: hamparan tanah luas tanpa vegetasi, dipenuhi retakan panjang menyerupai celah raksasa. Retakan itulah yang disebut wadi—lembah sungai kering yang terbentuk dari erosi air hujan selama bertahun-tahun.
Kota-kota kecil di Hadramaut, termasuk Tarim, berdiri di dasar wadi tersebut. Meski sungainya kering, tanah di sekitarnya menyimpan air di bawah permukaan, memungkinkan kehidupan tumbuh. “Di mana ada air di situ ada kehidupan,” tulis Dahlan, menggambarkan filosofi alam yang membentuk peradaban setempat.
Tarim, Pusat Tradisi dan Perdebatan Nasab
Nama Tarim kian dikenal di Indonesia karena banyaknya pelajar dari kalangan Islam tradisional yang menimba ilmu di sana. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini juga menjadi sorotan akibat perdebatan mengenai nasab dan istilah habib.
Dahlan mencatat bahwa istilah habib lahir dan berkembang di Tarim. Di Arab Saudi, keturunan Nabi Muhammad SAW lebih lazim disebut sayyid. Perbedaan terminologi itu mencerminkan kekhasan tradisi keilmuan dan sosial di kawasan Hadramaut.
Setibanya di Tarim, Dahlan langsung bersiap menunaikan salat Jumat dan makan siang di kediaman Habib Umar, yang rumahnya hanya beberapa langkah dari Darul Mustofa. “Tidak perlu ada anggaran makan siang hari itu,” tulisnya, menutup kisah dengan nada ringan namun sarat makna.
Catatan perjalanan ini bukan sekadar laporan geografis, melainkan refleksi tentang tanah, debu, dan tradisi yang membentuk identitas Tarim. Di balik kerasnya lanskap Hadramaut, tersimpan denyut kehidupan spiritual yang terus mengalir, menarik ribuan pelajar dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











