"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Rehab Tanah Datar Dipercepat, Normalisasi Sungai dan Pembangunan Jembatan Aramco Jadi Prioritas

Percepatan Rehabilitasi Pascabanjir Bandang di Tanah Datar

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab rekon) pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat bisa segera kembali normal. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menjelaskan bahwa normalisasi sungai telah dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah potensi bencana susulan.

“Untuk sungai-sungai sudah dilakukan normalisasi. Sudah ditunjuk Adhi Karya yang bekerja menangani sungai ini,” ujar Eka Putra saat diwawancarai di rumah dinasnya, Kamis (19/2/2026). Selain sungai, perbaikan ruas jalan yang terdampak juga mulai dikerjakan. Di kawasan Malalo, pemerintah telah memasang jembatan Aramco guna membuka kembali akses transportasi yang sebelumnya terputus akibat banjir.

“Jalan-jalan yang terdampak sudah mulai kita tangani. Di Malalo sudah kita pasang jembatan Aramco,” katanya. Di sektor pertanian, bantuan bagi petani terdampak juga mulai disalurkan. Pemerintah daerah terus mengusulkan tambahan bantuan dari pemerintah pusat agar proses pemulihan berjalan lebih cepat dan menyeluruh.

“Kami terus mengusulkan, mana yang sudah turun bantuannya langsung kita berikan untuk pemulihan kembali di Tanah Datar ini,” ujarnya. Tak hanya infrastruktur, Pemkab Tanah Datar juga menangani kerusakan rumah warga. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati, sebanyak 353 rumah terdampak banjir dengan kategori rusak berat, sedang, dan ringan.

Untuk rumah rusak berat, pemerintah membangun hunian tetap (huntap) melalui dua skema, yakni mandiri dan terpadu. Saat ini, sebanyak 80 unit huntap tahap awal tengah dibangun di atas lahan seluas 1,8 hektare. Namun, Eka Putra menegaskan rumah yang berada di zona merah atau kawasan rawan bencana tidak diperbolehkan dibangun kembali.

“Itu daerah rawan, zona merah. Tidak boleh ditinggali lagi. Nanti ada kajian dari Badan Geologi,” tegasnya. Ia menambahkan, penanganan pascabencana dilakukan secara bertahap dan terintegrasi, mulai dari normalisasi sungai, perbaikan jalan, pembangunan hunian tetap, hingga pemulihan ekonomi masyarakat.

“Kita ingin pemulihan ini menyeluruh. Infrastruktur pulih, rumah dibangun, dan ekonomi masyarakat juga bangkit,” tutupnya.

Program Pemulihan Ekonomi untuk Warga Terdampak

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar tidak hanya membangun hunian tetap (huntap) bagi korban banjir bandang akhir November 2025 lalu, tetapi juga menyiapkan program pemulihan ekonomi untuk warga terdampak. Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menegaskan bahwa pembangunan rumah saja tidak cukup untuk memulihkan kehidupan masyarakat.

“Rumah dibangun, tapi ekonomi juga harus bangkit. Itu yang sedang kita upayakan,” ujar Eka Putra saat diwawancarai di rumah dinasnya, Kamis (19/2/2026). Berdasarkan data yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati, sebanyak 353 rumah terdampak banjir bandang, terdiri dari kategori rusak berat, sedang, dan ringan. Untuk rumah rusak berat, pemerintah menawarkan pembangunan huntap melalui dua skema, yakni mandiri dan terpadu.

Pada skema terpadu, sebanyak 80 unit huntap kini mulai dibangun di atas lahan seluas 1,8 hektare. Pembangunan ini menjadi tahap awal relokasi warga yang rumahnya tidak lagi layak huni. Namun, menurut Eka Putra, relokasi harus dibarengi dengan upaya peningkatan kesejahteraan warga. Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan program pemberdayaan di kawasan huntap.

Pemkab membentuk sejumlah kelompok usaha, di antaranya kelompok penjahit dan kelompok tani. Untuk kelompok penjahit, warga akan mendapatkan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Tanah Datar. Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian untuk bantuan mesin jahit.

“Setelah dilatih, mereka bisa langsung bekerja. Mesin jahit kita upayakan bantuannya,” katanya. Sementara kelompok tani akan memanfaatkan lahan yang masih tersedia di sekitar lokasi huntap untuk menanam jagung. Kebutuhan jagung di Tanah Datar yang cukup tinggi dinilai menjadi peluang usaha baru bagi warga relokasi.

“Bibit disiapkan oleh Pemda. Jadi masyarakat yang tinggal di huntap nanti tidak hanya punya rumah, tapi juga punya penghasilan,” ujarnya. Selain jagung, pemerintah juga mengusulkan bantuan penanaman pisang serta dukungan sektor pertanian lainnya sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pascabencana.

Larangan Membangun Rumah di Zona Merah

Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menegaskan warga korban banjir bandang akhir November 2025 lalu di tiga kecamatan tidak diperbolehkan kembali membangun rumah di kawasan zona merah atau daerah rawan bencana. Penegasan itu disampaikannya saat diwawancarai di rumah dinasnya, Kamis (19/2/2026) malam.

“Tentu tidak boleh. Itu daerah rawan, zona merah. Tidak bisa ditinggali lagi. Nanti ada kajian dari Badan Geologi terkait zona merah ini,” ujar Eka Putra. Ia menekankan, keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Karena itu, bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat dan berada di kawasan rawan, pemerintah menawarkan relokasi ke hunian tetap (huntap).

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati, sebanyak 353 rumah terdampak banjir bandang, terdiri dari rusak berat, sedang, dan ringan. Untuk kategori rusak berat, pemerintah menyiapkan pembangunan huntap melalui dua skema, yakni mandiri dan terpadu. Untuk skema terpadu, Pemkab Tanah Datar telah menyurati Danantara dan mendapat respons cepat.

Saat ini, pembangunan 80 unit huntap tengah berlangsung di atas lahan seluas 1,8 hektare yang diperuntukkan bagi 80 kepala keluarga (KK). “Sekarang kita bangun 80 unit dulu. Nanti kita komunikasikan lagi dengan masyarakat, mana yang memilih mandiri dan mana yang terpadu,” jelasnya. Sementara menunggu huntap rampung, sebagian warga tinggal di hunian sementara (huntara) dan sebagian lainnya menumpang di rumah keluarga.

Tercatat 28 unit huntara bantuan Danantara dan 23 unit bantuan BNPB telah dihuni seluruhnya. Adapun warga yang tinggal di rumah sanak saudara di Padang Panjang, Bukittinggi, maupun sekitar Batusangkar, mendapatkan Dana Tunggu Hunian (DTH) yang kini tengah diproses pencairannya oleh BNPB.

Eka Putra menyebut, rumah rusak berat paling banyak berada di tiga kecamatan, yakni Batipuh Selatan, Batipuh, dan X Koto. Di sisi lain, proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur juga terus berjalan. Normalisasi sungai telah dilakukan dan ditangani oleh Adhi Karya. Sejumlah ruas jalan yang terdampak mulai diperbaiki, termasuk pemasangan jembatan Aramco di kawasan Malalo. Sektor pertanian pun mulai menerima bantuan pemulihan.

Tak hanya merelokasi warga dari zona rawan, pemerintah daerah juga menyiapkan konsep pemberdayaan ekonomi di kawasan huntap. Pemerintah membentuk kelompok usaha bagi warga relokasi, seperti kelompok penjahit dan kelompok tani. Warga akan mendapatkan pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Tanah Datar serta bantuan mesin jahit bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian.

Selain itu, lahan yang masih tersedia di sekitar huntap akan dimanfaatkan untuk menanam jagung, dengan bibit disiapkan oleh pemerintah daerah. “Jadi bukan hanya rumah yang kita bangun, tapi bagaimana mereka bisa hidup dan ekonominya meningkat. Itu yang sedang kita siapkan,” katanya. Ia menambahkan, pemulihan ekonomi menjadi kebutuhan mendesak dalam penanganan pascabencana di Tanah Datar, termasuk melalui dukungan sektor pertanian seperti penanaman pisang dan komoditas lainnya.

“Rumah penting, tapi ekonomi juga harus pulih. Itu yang terus kita dorong,” tutup Eka Putra.


Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *