"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Kisah Masjid Shirathal Mustaqiem, Masjid Tertua Samarinda yang Jadi Kampung Ibadah

Sejarah dan Keunikan Masjid Shirathal Mustaqiem di Samarinda

Masjid Shirathal Mustaqiem merupakan salah satu bangunan bersejarah yang terletak di tepian Sungai Mahakam, Samarinda. Sebagai masjid tertua di kota ini, masjid ini memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Kalimantan Timur. Lokasinya berada di Jalan Pangeran Bendahara, Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. Nama jalan tersebut berasal dari pendiri masjid, yaitu Habib Abdurachman bin Muhammad Assegaf atau dikenal dengan nama Pangeran Bendahara.

Kawasan tempat masjid ini berdiri dulu dikenal sebagai Kampung Mesjid. Sebelum menjadi pusat syiar Islam, kawasan ini pernah menjadi tempat maksiat. Dalam sejarah yang dituturkan oleh masyarakat setempat, kebiasaan seperti sabung ayam, perjudian, dan minuman keras sering terjadi di sana. Perubahan besar dimulai ketika seorang ulama sekaligus saudagar keturunan Arab bernama Said Abdurachman bin Assegaf tiba di kawasan ini. Ia datang untuk berdagang namun akhirnya beralih menjadi penyebar agama Islam.

Peran Sultan Kutai dalam Pengangkatan Pangeran Bendahara

Kisah perubahan kawasan ini menarik perhatian Sultan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Pada tahun 1880, Said Abdurachman diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang serta dianugerahi gelar Pangeran Bendahara. Jabatan ini bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga amanah untuk memperluas syiar Islam di wilayah tersebut.

Pada tahun 1881, ia membangun masjid di atas lahan yang dulunya digunakan sebagai arena judi. Ini menjadi simbol pembersihan moral bagi masyarakat setempat. Menurut H Sofyan, pengurus masjid, sebelum masjid berdiri, lokasi ini sering dipenuhi aktivitas negatif. Namun, melalui pendekatan lemah lembut dan kesabaran, Pangeran Bendahara berhasil mengubah pandangan masyarakat.

Arsitektur Tropis dan Filosofi Bangunan

Secara keseluruhan, bangunan masjid memiliki gaya arsitektur tropis khas Kalimantan. Kayu ulin digunakan sebagai material utama, mulai dari pondasi hingga atap. Desain ini mencerminkan kekayaan alam Kalimantan pada masa lalu. Sirkulasi udara yang baik dan pencahayaan alami membuat suasana di dalam masjid tetap nyaman dan sejuk.

Atap masjid dibuat dalam empat tingkatan, masing-masing melambangkan tahapan hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Warna-warna yang digunakan juga memiliki makna filosofis, seperti putih untuk kesucian, hijau untuk keberanian, dan kuning untuk kemuliaan. Selain itu, warna-warna ini juga mencerminkan selera Rasulullah SAW.

Menara Segi Delapan dan Bedug Tua

Awalnya, masjid tidak memiliki menara. Menara baru dibangun setelah 10 tahun, yaitu pada tahun 1901 oleh seorang pria asal Belanda bernama Henry Dasen yang telah memeluk agama Islam. Menara segi delapan ini memiliki ketinggian sekitar 21 meter dan dilengkapi dengan mahkota berbentuk bulan bintang serta panah penunjuk arah mata angin.

Di halaman belakang masjid terdapat bedug tua yang digunakan untuk menandai waktu salat. Sayangnya, saat ini bedug tersebut sudah tidak digunakan karena adanya pengeras suara modern.

Mushaf Al-Qur’an Tertua

Masjid Shirathal Mustaqiem juga menyimpan mushaf Al-Qur’an tertua. Menurut H Sofyan, mushaf ini berusia lebih dari 300 tahun dan ditulis dengan tangan. Kitab ini disimpan dalam kotak berkaca dan hanya bisa dilihat dari luar. Mushaf ini diwakafkan oleh seseorang dari luar daerah, dan sampulnya terlihat menggunakan kulit cokelat hitam.

Penghargaan dan Pelestarian Budaya

Masjid Shirathal Mustaqiem juga menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Kota Samarinda yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 tahun 1992. Pada tahun 2003, masjid ini meraih penghargaan sebagai peserta terbaik kedua dalam Festival Masjid Bersejarah Indonesia. Meski kalah dari Masjid Agung Demak, masjid ini tetap menjaga keaslian dan nilai-nilai sejarahnya.

Selain itu, masjid ini juga aktif dalam pelestarian budaya. Setiap bulan Ramadhan, masjid menggelar buka bersama dengan menu khas, seperti Bubur Pica. Menu ini disajikan hasil gotong royong warga sekitar.






Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *