"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Budaya  

Hampir 20 Tahun, Sotong Pangling Jadi Ikon Kuliner Ramadan di Pontianak

Tradisi Kuliner Sotong Pangkong yang Tetap Bertahan di Pontianak

Di tengah keramaian kawasan kuliner Jalan Merdeka, Kota Pontianak, terdapat satu usaha kecil yang tetap mempertahankan tradisi lama. Lapak sotong pangkong milik keluarga Salsabila, yang dikenal dengan nama Sotong Pangling (Pangkong & Giling), menjadi salah satu ikon dari kulinernya yang khas.

Bagi Salsabila, berjualan sotong pangkong bukan hanya sekadar mencari nafkah. Usaha ini merupakan warisan keluarga yang ia lanjutkan dari ayahnya, Samudera. Sejak pertama kali dirintis pada 2006, lapak kecil tersebut perlahan menjadi bagian dari denyut kuliner malam Pontianak. Kini, hampir dua dekade kemudian, usaha itu masih berdiri di tempat yang sama, dengan Salsabila melanjutkan peran ayahnya dalam menjaga cita rasa sekaligus mempertahankan tradisi kuliner yang sudah lama dikenal masyarakat.

“Usaha ini sebenarnya sudah dimulai ayah saya sejak tahun 2006,” kata Salsabila kepada media saat ditemui di lapaknya di kawasan Jalan Merdeka, Kota Pontianak, Rabu, 12 Maret 2026 malam.

Meski masih diminati, ia mengakui suasana tahun ini sedikit berbeda. Jumlah pedagang sotong pangkong di sepanjang Jalan Merdeka tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Jika pada Ramadan 2025 terdapat sekitar 72 stan yang berjualan, tahun ini jumlahnya hanya sekitar 48 stan.

“Tahun ini memang ada penurunan. Sekarang sekitar 48 stan saja, sedangkan tahun lalu sekitar 72 stan di sepanjang Jalan Merdeka,” ujarnya.

Meski demikian, menurutnya kondisi tersebut tidak terlalu memengaruhi minat pembeli. Aktivitas penjualan masih berjalan cukup baik, terutama saat malam Ramadan ketika masyarakat mulai berburu takjil dan kuliner khas Pontianak.

Bahan Baku Berkualitas untuk Menjaga Rasa

Untuk menjaga kualitas rasa, Salsabila memilih menggunakan sotong kering dengan kualitas terbaik sebagai bahan utama. Menurutnya, sotong memiliki beberapa tingkatan kualitas atau grade dengan harga yang berbeda-beda di pasaran.

“Grade A sekitar Rp700 ribu per kilogram, grade B sekitar Rp500 ribu, grade C sekitar Rp350 ribu, dan grade D sekitar Rp150 ribu per kilogram,” jelasnya.

Sotong pangkong yang dijual kepada pelanggan dibanderol dengan harga mulai Rp20 ribu hingga Rp100 ribu per porsi. Harga tersebut relatif stabil dan tidak mengalami perubahan berarti, baik pada hari biasa maupun saat Ramadan.

Dalam penyajiannya, pelanggan dapat memilih dua jenis sambal yang menjadi ciri khas sotong pangkong, yakni sambal ebi dan sambal kacang. Selain menu utama tersebut, Salsabila juga menawarkan sotong giling yang memiliki cara pengolahan berbeda.

Proses Pengolahan yang Unik

Pada sotong pangkong, sotong kering terlebih dahulu dibakar hingga matang. Setelah itu sotong dipukul atau “dipangkong” agar teksturnya lebih lembut, kemudian dibakar kembali sebelum disajikan. Sementara sotong giling diolah dengan cara dibakar terlebih dahulu, lalu digiling menggunakan alat khusus. Setelah itu sotong dicelupkan ke dalam kuah sebelum kembali dibakar hingga siap disantap.

“Kalau pangkong itu sotong kering dibakar dulu sampai matang, lalu dipangkong, setelah itu dibakar lagi. Kalau giling dibakar dulu, kemudian digiling, dicelup kuah lalu dibakar,” terang Salsabila.

Persediaan Saat Ramadan

Memasuki Ramadan, ia biasanya menyiapkan stok sotong kering dalam jumlah besar untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan. Dalam satu bulan, persediaan yang disiapkan bisa mencapai 70 hingga 100 kilogram sotong kering. Sebagian bahan baku tersebut didatangkan dari Pulau Lemukutan, Kabupaten Bengkayang, yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sotong.

“Biasanya kami menyiapkan sekitar 70 sampai 100 kilogram per bulan selama Ramadan, melihat dari penjualan tahun sebelumnya,” katanya.

Wisatawan Tertarik Mengunjungi Sotong Pangling

Tak hanya warga Pontianak, lapak sotong pangkong milik keluarganya juga kerap didatangi wisatawan dari luar daerah. Lokasinya yang tertera di Google Maps membuat banyak pengunjung dengan mudah menemukannya. Salsabila menuturkan, tak hanya saat Ramadan, Sotong Pangling juga tetap berjualan pada hari-hari biasa. Tidak jarang wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara datang untuk mencicipi kuliner khas Pontianak tersebut.

“Kadang ada turis dari Australia, ada juga dari Bali, Bandung sampai Lampung. Mereka biasanya mencari makanan khas Pontianak, yaitu sotong pangkong,” ungkapnya.

Inovasi untuk Menyesuaikan Perkembangan Zaman

Untuk mengikuti perkembangan zaman, ia dan keluarga juga mulai melakukan inovasi sederhana, salah satunya dengan menyediakan kemasan khusus agar sotong pangkong lebih praktis dibawa pulang oleh pelanggan, terutama wisatawan.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *