"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Denada Tambunan dan Ressa Berjumpa, Senyum Bahagia Saat Foto Selfie

Pertemuan Haru Denada dan Ressa Setelah Perseteruan Hukum

Pertemuan antara penyanyi Denada Tambunan dengan anaknya, Ressa Rizky Rossano (24), akhirnya terwujud setelah sebelumnya terlibat dalam gugatan hukum. Pertemuan tersebut berlangsung di sebuah tempat di kawasan Jakarta Selatan, pada Kamis (19/3/2026). Kehadiran seorang psikolog juga turut serta dalam pertemuan ini.

Pertemuan yang berjalan lancar ini menandai akhir dari perseteruan panjang antara ibu dan anak yang sempat memicu perhatian publik. Denada langsung membagikan momen kebersamaannya dengan Ressa melalui akun Instagram pribadinya, @denadaindonesia, pada Jumat (20/3/2026).

Dalam foto selfie yang diunggah, Denada tampak tersenyum lebar ke arah kamera. Sementara itu, Ressa yang mengenakan jaket hoodie juga terlihat tersenyum lepas, seolah tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Denada menyampaikan rasa syukur atas pertemuan ini dengan menulis, “Alhamdulillah, Allah Maha Besar.”

Unggahan ini menjadi titik terang dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama. Dalam keterangan yang sama, Denada juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya melewati masa sulit ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada kerabat dan keluarga, serta menyebutkan nama psikolog kesayangannya, @intan_erlita, atas bantuan dan bimbingannya.

Pertemuan dan pelukan hangat ini sangat dinantikan, mengingat hubungan Denada dan Ressa sebelumnya dipenuhi oleh ketegangan dan perseteruan hukum. Kasus ini dimulai pada November 2025, ketika Ressa Rossano menggugat perdata Denada senilai Rp 7 miliar ke Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi. Gugatan tersebut dilayangkan atas tuduhan penelantaran anak dan dugaan perbuatan melawan hukum terhadap orangtua asuh Ressa.

Di bawah tekanan publik dan proses hukum, Denada akhirnya membuat pengakuan terbuka di media sosial pada Februari 2026. Ia membenarkan bahwa Ressa adalah darah dagingnya yang terpaksa ia serahkan kepada orang lain saat masih bayi karena kondisi psikisnya yang tidak stabil kala itu.

Meski Denada telah mengakui status Ressa sebagai anak, hubungan keduanya tidak serta-merta membaik. Dalam sebuah konferensi pers pada 12 Februari 2026, Ressa mengaku masih merasa canggung dan asing. Ia bahkan belum sanggup memanggil Denada dengan sebutan “Ibu” atau “Mama”, melainkan masih memanggilnya “Mbak”. Pihak kuasa hukum Ressa menuding pengakuan Denada di media sosial tidak tulus dan hanya dilakukan demi menyelamatkan kariernya. Mereka menuntut permintaan maaf secara langsung dan tatap muka, bukan hanya lewat dunia maya.

Sosok Ayah Biologis

Dalam perjalanan kasus ini, Denada akhirnya bicara tentang sosok ayah biologis Ressa. Saat hadir dalam podcast Feni Rose Official, Senin (16/3/2026), Denada menceritakan momen pertama kali dirinya mengetahui sedang hamil. Ia mengatakan, “Aku takut, bingung, saat itu secara mental aku mungkin masih belum cukup dewasa, meski usia 20 tahun lebih.” Meski begitu, Denada mengaku tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya untuk menggugurkan kehamilannya.

“Dari pertama kali aku tahu aku hamil, aku tidak pernah ada keraguan untuk meneruskan kehamilan itu dan melahirkan,” tegasnya. Lebih lanjut, Feni pun menanyakan sosok ayah biologis Ressa. Denada mengaku sejak tahu dirinya hamil, ia sudah memperkirakan kalau ayah biologis Ressa tidak akan mau bertanggung jawab.

“Jadi kamu tahu bahwa bapaknya tidak ingin bertanggung jawab?” tanya Feni Rose. Denada mengakui risiko yang akan diterimanya, meski begitu ia tidak menyalahkan ayah biologis Ressa. “Iya, aku tahu risiko itu. Dan aku sudah sedikit memperkirakan akan terjadi. Dia tahu, aku enggak menyalahkan,” ucapnya. Kendati begitu, ia pun tetap meneruskan kehamilannya meski ayah Ressa tak mau tanggung jawab.

“Bagi aku keputusan itu aku ambil dengan kesadaran penuh, tanpa ada keraguan. Buat aku dengan kehadiran bapaknya atau tidak, aku tetap pertahankan,” ucap Denada.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *