Inovasi Unik untuk Menegakkan Aturan Kawasan Tanpa Rokok di Malioboro
Pada libur Lebaran 2026, UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (PKCB) Kota Yogyakarta menghadirkan inovasi unik dalam upaya menegakkan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sepanjang Jalan Malioboro. Salah satu metode yang digunakan adalah tari edan-edanan, yang bertujuan untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat serta pelaku usaha.
Menurut Kepala UPT PKCB Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, tari edan-edanan pertama kali diperkenalkan saat libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 lalu. Kemudian, tarian ini kembali digunakan pada libur Lebaran tahun ini sebagai bagian dari strategi penegakan aturan KTR. Meski sudah ada peraturan KTR di Malioboro, masih banyak wisatawan maupun pelaku usaha yang melanggar aturan tersebut.
Tari edan-edanan menjadi cara yang humanis untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan bebas rokok. Setiap malam, seniman yang berpakaian ala edan-edanan turun ke jalan untuk memberikan edukasi dan mengingatkan pengunjung serta pelaku usaha agar tidak merokok di kawasan tersebut. Mereka juga membawa poster dan wadah yang berfungsi sebagai asbak.
Selain itu, para seniman ini juga menyosialisasikan tempat khusus merokok (TKM) di sekitar Malioboro. “Kami mencoba menggunakan filosofi-filosofi yang sesuai dengan budaya lokal,” ujarnya. Dengan demikian, mereka berharap masyarakat lebih mudah memahami larangan merokok di kawasan tersebut.
Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat juga dilakukan dengan kolaborasi dengan Jogomaton, Satpol PP Kota Yogyakarta, dan Radio Widoro. Namun, ancaman sanksi yustisi tetap diberlakukan bagi pelaku usaha atau warga lokal yang terbukti sering melanggar aturan KTR. Sanksi denda hingga Rp7,5 juta dapat diberikan kepada pelanggar yang melakukan pelanggaran berulang.
Penambahan Tempat Khusus Merokok di Malioboro
Sebelumnya, Pemkot Yogyakarta telah menambah 14 titik tempat khusus merokok (TKM) di kawasan Malioboro. Deretan TKM baru ini tersebar di beberapa lokasi usaha seperti restoran, coffee shop, dan minimarket. Namun, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan bahwa jumlah tersebut masih kurang memadai dan perlu ditambah lagi.
“Kita akan identifikasi titik-titik mana saja yang memungkinkan. Sekarang sudah ada 14 (TKM baru), tapi masih ada kekurangan,” ujarnya. Ia pun menginstruksikan instansi terkait untuk memetakan titik-titik yang layak menjadi TKM. Dinas Kebudayaan dan Dinas Kesehatan harus mempresentasikan hasil pemetaan tersebut paling lambat tanggal 15 Juli.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan verifikasi terhadap 22 titik lokasi potensi TKM. Namun, hanya 14 titik yang dinilai memenuhi syarat. Syarat utama antara lain, TKM harus berada di ruang terbuka dengan sirkulasi udara yang baik, terpisah dari ruang utama bangunan, serta jauh dari pintu masuk dan keluar.
Kritik Terhadap Tempat Khusus Merokok
Di sisi lain, pelaku usaha di kawasan Malioboro menyebut tempat khusus merokok yang disediakan Pemkot Yogyakarta masih kurang representatif. Selain jarak antar TKM yang jauh, keberadaannya dominan di tempat-tempat usaha yang membutuhkan pengunjung untuk memesan makanan terlebih dahulu.
Ketua Paguyuban Becak Yogyakarta, Parmin, mengapresiasi langkah Pemkot Yogyakarta dalam menambah 14 TKM di Malioboro. Namun, ia mengeluhkan sulitnya akses TKM bagi rekan-rekannya sesama tukang becak, yang sebagian besar adalah perokok aktif. “Di lapangan, perokok kebanyakan ya di tempat, karena kalau untuk ke tempat khusus kan jaraknya jauh, masih harus naik ke lantai berapa, misalnya,” katanya.
Ia berharap TKM dapat disediakan di dekat pedestrian atau tempat parkir becak. “Apalagi kalau konsekuensi denda diterapkan, pasti banyak yang keberatan. Karena teman-teman becak banyak yang mangkal 24 jam di sini, dan yang merokok banyak,” ujarnya.
Meskipun masih ada pelanggaran, Parmin menegaskan bahwa paguyuban telah melakukan sosialisasi berkala kepada anggota yang beraktivitas di Malioboro. “Toh, pelanggaran yang terjadi tidak semuanya dari teman-teman becak. Setiap sosialisasi, kami sampaikan aturan mengenai KTR. Bahkan, penumpang kalau ada yang merokok, kami menegur,” pungkasnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











