"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Ibu-ibu pingsan antre beli LPG 3 kg di Lombok Timur

Warga Pingsan Saat Antre Gas Elpiji di Lombok Timur

Seorang ibu rumah tangga pingsan saat sedang berada dalam antrean membeli gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg) di Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, pada Sabtu (4/4/2026). Insiden ini terjadi di tengah antrean panjang yang dilakukan oleh warga setempat. Saat itu, korban sempat jatuh pingsan dan harus segera mendapat pertolongan pertama dari warga sekitar.

Belum diketahui pasti identitas wanita tersebut, namun video yang beredar menunjukkan bahwa ia pingsan di tengah antrean. Kejadian ini membuat warga menjadi panik dan langsung memberikan pertolongan awal kepada korban. Namun, tidak semua warga memberikan perhatian penuh terhadap kejadian tersebut karena antrean yang sangat panjang dan situasi yang terasa kacau.

Penyebab Antrean Panjang dan Kelangkaan Gas Elpiji

Suratturahman, salah seorang warga yang berada di lokasi kejadian, menceritakan bahwa warga sudah menunggu sejak pagi hari demi mendapatkan bahan bakar elpiji. Ia mengatakan bahwa antrean begitu padat hingga terjadi dorong-dorongan dan kesulitan dalam bernapas.

“Kami menunggu sejak jam 9 pagi, berdesak-desakan karena antreannya panjang. Semua ingin membeli gas LPG 3 kg,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa cuaca yang cukup panas memperparah kondisi para pengantre. Banyak warga yang merasa sulit bernapas akibat panas dan kepadatan antrean. Dalam kejadian ini, seorang perempuan pingsan dan tidak sadarkan diri. Meski ada beberapa warga yang memberikan pertolongan, banyak dari mereka masih fokus dengan posisi anterannya.

Keluhan Warga Terkait Sulitnya Mendapatkan Gas Elpiji

Suratturahman mengaku terpaksa mengantri agar usahanya tetap berjalan. Ia harus mendapatkan gas elpiji hari itu, jika tidak usaha kecil-kecilannya bisa terganggu karena sulitnya mendapatkan gas LPG 3 kg.

“Saya terpaksa memakai gas dapur untuk berjualan. Makan, kami pakai nasi bungkus (beli), yang penting jualan tetap jalan. Hari ini gas habis, sudah cari ke pangkalan tapi tidak ada,” keluhnya.

Demi mendapatkan gas LPG 3 kg, Suratturahman mengaku siap membayar berapa pun harga karena usaha kue terang bulan mininya harus tetap jalan.

“Berapa pun saya siap beli asalkan ada. Tapi ini malah tidak ada yang bisa dibeli,” tambahnya.

Fitri, warga lainnya yang ikut antre bersama korban pingsan, mengaku mengantre lebih dari dua jam namun belum berhasil mendapat gas LPG 3 kg. Ia menjelaskan bahwa syaratnya harus membawa KTP untuk membeli di pangkalan. Meskipun sudah antre dua jam lebih, tetap tidak kebagian jika tidak mempunyai KTP.

Antrean Juga Terjadi di Kecamatan Aikmel

Di Kecamatan Aikmel, warga juga terlihat mengantri di kantor desa. Gibran Senjaya, warga Desa Aikmel Utara, mengaku heran dengan kelangkaan gas LPG 3 kg tersebut, padahal dahulu tidak ada kelangkaan.

“Kami heran kenapa sangat sulit gas LPG 3 kg ini, kami minta masalah ini segera ditangani oleh pemerintah ataupun pihak Pertamina,” pungkasnya.

Kesimpulan

Insiden pingsannya seorang ibu rumah tangga saat antre gas elpiji menjadi bukti nyata betapa sulitnya akses terhadap kebutuhan pokok ini. Antrean panjang, cuaca panas, dan ketidakpastian pasokan gas LPG 3 kg telah menciptakan situasi yang memicu rasa frustrasi dan kekhawatiran di kalangan warga. Hal ini memunculkan tuntutan agar pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah ini.


Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *