"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Jalan Raya Sentani Tenggelam, Warga Berperahu di Aspal

Banjir di Danau Sentani Mengganggu Kehidupan Warga

Luapan air Danau Sentani telah berlangsung selama sepekan terakhir, menyebabkan beberapa wilayah di kawasan tersebut tenggelam. Salah satu titik yang terdampak adalah Dermaga Kalkhote, yang kini tertutup air dan menghambat akses jalan raya. Akibatnya, warga harus menggunakan perahu atau sampan untuk beraktivitas sehari-hari.

Akses Jalan Terganggu

Jalanan aspal yang dahulu digunakan oleh kendaraan roda dua dan empat, serta pejalan kaki, kini tidak dapat dilalui. Di kawasan Distrik Sentani Timur, termasuk jalur utama dan lokasi pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS), warga harus mendayung perahu hingga ke atas badan jalan raya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi warga pesisir, seperti Oktovianus Pepuho dari Kampung Asei.

“Kami khawatir kejadian 2019 terulang kembali. Beberapa hari ini air terus naik, jangan sampai banjir bandang kembali melanda,” ujar Oktovianus pada Senin (6/4/2026).

Naiknya debit air telah mengubah pola aktivitas warga. Perahu yang biasanya disandarkan di pelabuhan, kini harus didayung hingga ke pinggir jalan raya. Di Kampung Asei sendiri, warga mulai membangun jalan setapak di area perbukitan sebagai jalur alternatif untuk beraktivitas, termasuk akses menuju gereja.

“Jadi kalau ke gereja naik dari lapangan,” ujarnya.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Selain mengganggu kehidupan sehari-hari, banjir juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sektor pariwisata lumpuh dan pendapatan motoris perahu turun drastis hingga 80 persen karena sepinya penumpang.

Marthen Luter Eha, seorang motoris perahu, mengeluhkan penurunan pendapatan yang drastis akibat sepinya penumpang dan wisatawan yang datang.

“Dari pendapatan setiap hari Rp 600 ribu, turun hingga Rp 200 ribu bahkan Rp 100 ribu. Penumpang juga minum dari Kampung,” ungkapnya.

Marthen menjelaskan bahwa kondisi air tergenang terjadi di hampir setiap kampung yang dilewatinya. Di Kampung Ayapo misalnya, air yang naik sudah melebihi lutut orang dewasa.

“Di Kampung Ayapo bagian sebelah barat, air hingga tertutup karena kebetulan ini musim angin barat. Sementara bangunan sekolah dan pustu masih dalam kondisi aman karena berdiri di ketinggian,” ujarnya.

Fasilitas Sanitasi Terancam

Selain mengancam pemukiman, luapan air mulai merusak fasilitas sanitasi. Beberapa jembatan milik warga terendam dan tidak dapat digunakan lagi. Meskipun akses air bersih tidak menjadi masalah karena sebagian rumah warga sudah tersambung dengan pipa-pipa air, ada juga yang mengambil dari mata air kemudian ditarik dari tangki.

Permintaan kepada Pemerintah

Oktavianua dan Marthen meminta pemerintah meninjau lokasi serta mengecek kebutuhan masyarakat. Mereka berharap pemerintah dapat menilai situasi ini dan mengambil tindakan pencegahan secepatnya.

“Kami belum terpikir dengan adanya pemerintah ini untuk apa. Pemerintah juga belum mengecek warga tetapi sebaiknya membaca situasi,” ujar Oktovianus.




Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *