Aceh sebagai Poros Peradaban Islam di Nusantara
Sejarah mencatat bahwa Aceh bukan sekadar daerah yang kebetulan menjadi tempat persinggahan para pedagang asing. Ia adalah pusat gravitasi peradaban Islam di Nusantara selama berabad-abad. Para akademisi, termasuk Buya Hamka dan Syed Hussein Naquib al-Attas, meyakini bahwa syiar Islam pertama kali datang ke Indonesia langsung dari Jazirah Arab, dan Aceh adalah pintu gerbang utamanya.
Hamka dengan tegas membantah teori Gujarat yang dinilainya sebagai manipulasi orientalis untuk mengaburkan fakta historis hubungan berbilang abad antara Arab dan Aceh. Dengan kata lain, Aceh adalah “penerima” pertama dakwah Islam di seantero Nusantara, sebuah fakta yang diakui secara luas oleh para sejarawan.
Jejak peradaban Islam di Aceh dimulai jauh sebelum Kesultanan Aceh Darussalam berdiri. Kerajaan Samudera Pasai, yang didirikan oleh Marah Silu bergelar Sultan Malik as-Saleh sekitar tahun 1267 M, merupakan kerajaan Islam pertama dan tertua di Indonesia. Wilayah kekuasaannya mencapai seluruh Aceh dan menjadi pusat perdagangan penting yang sering dikunjungi pedagang dari Cina, India, Siam, Arab, dan Persia.
Bahkan musafir Maroko, Ibnu Batuthah, singgah di negeri ini pada tahun 1345 dan mencatat kejayaannya. Samudera Pasai bukan sekadar kerajaan dagang, melainkan juga pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan penyebaran agama Islam. Puncak kejayaan Islam di Aceh, bagaimanapun, terjadi pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Didirikan pada 1496 M oleh Sultan Ali Mughayat Syah, kesultanan ini menjadi regenerasi dari kerajaan-kerajaan Islam yang telah tumbuh sebelumnya.
Pada puncak keemasannya di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh mencapai status sebagai lima besar negara adidaya dunia pada zamannya. Wilayah kekuasaannya membentang luas, meliputi seluruh Aceh, Johor, Malaka, hingga negeri-negeri di timur Malaya, bahkan Pahang, Kedah, dan Patani. Tidak heran jika Aceh dijuluki “Serambi Mekkah” sebuah gelar yang mencerminkan perannya sebagai pusat kebudayaan Islam di kawasan ini.
Apa yang membuat Aceh begitu istimewa di mata dunia? Jawabannya terletak pada sistem pemerintahan yang berlandaskan syariat Islam. Pada masa itu, Aceh secara resmi meletakkan Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijmak, dan Qiyas sebagai sumber hukum negara sebuah pencapaian yang luar biasa diukur dengan standar hari ini. Islam tidak sekadar menjadi agama rakyat, tetapi menjadi fondasi negara. Dimensi keagamaan tidak dapat dipisahkan dari setiap perilaku penduduk Aceh, baik di masa silam maupun kini.
Kesultanan Aceh juga maju dalam berbagai sektor: pertanian, perdagangan, perekonomian, kelautan, astronomi, kebudayaan, obat-obatan, hingga ilmu pengetahuan lainnya. Para ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai wilayah di dunia datang ke Aceh, membawa serta keahlian mereka, dan turut berkontribusi memajukan peradaban masyarakat Aceh yang kosmopolitan. Hubungan diplomatik yang erat dengan Kesultanan Turki Utsmaniyah semakin memperkuat posisi Aceh di kancah internasional.
Utusan Aceh dikirim ke Istanbul, membawa lada putih sebagai hadiah, dan sebagai imbalannya Turki mengirim instruktur, prajurit, serta senjata untuk membantu Aceh melawan Portugis. Meriam Lada Sicupak menjadi bukti nyata hubungan erat antara dua kerajaan Islam tersebut. Tidak kalah penting, Aceh menjadi pusat perdagangan rempah-rempah internasional. Selat Malaka, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Barat dan Timur, memberikan keuntungan besar bagi Aceh.
Dari 20 titik jalur rempah Nusantara, dua pusatnya berada di Aceh, yakni Samudera Pasai dan Aceh Darussalam. Lada, timah, cengkih, dan pala menjadi komoditas utama yang diperdagangkan hingga ke Eropa. Para pedagang Koromandel menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan mereka di Asia Tenggara, membawa beras, besi, baja, tekstil, dan ditukar dengan lada, timah, gading, gajah, serta rempah-rempah lainnya. Kejayaan jalur rempah Aceh tercatat dalam peta perdagangan global dan diakui oleh bangsa Portugis, Mesir kuno, Yunani, Romawi, Cina, Arab, dan bangsa lainnya.
Aceh juga menjadi pusat intelektual dan spiritual. Para pelajar dari berbagai penjuru Nusantara datang untuk menimba ilmu, menjadikan Aceh sebagai pusat ilmu pengetahuan dan keagamaan yang terkenal di dunia Islam. Ulama-ulama besar seperti Syekh Abdur Rauf al-Sinkili (Syiah Kuala) lahir dan berkarya di Aceh, menghasilkan karya-karya monumental yang masih dikaji hingga saat ini. Kemampuan diplomasi para sultan Aceh memungkinkan kesultanan ini memiliki hubungan internasional yang mengagumkan dengan Belanda, Prancis, Inggris, dan terutama Turki Utsmaniyah.
Namun, kejayaan tidak berlangsung selamanya. Perang Aceh melawan Belanda yang berlangsung selama beberapa dekade, konflik internal, dan tekanan imperialisme Barat akhirnya membawa kemunduran. Namun, semangat perlawanan dan keberanian rakyat Aceh tetap menjadi simbol yang tak pernah pudar. Motivasi agama selalu menjadi landasan perjuangan rakyat Aceh, terutama dalam melawan penjajah. Kini, setelah masa suram berlalu, muncullah pertanyaan: siapa yang akan melanjutkan estafet peradaban ini? Jawabannya mulai terlihat di lereng Bukit Jantho.
Warisan Budaya Aceh yang Diakui Dunia: Tari Saman dan Lainnya
Kejayaan Aceh tidak hanya tercatat dalam buku-buku sejarah dan prasasti-prasasti kuno. Ia masih hidup, bernapas, dan bergerak melalui seni dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di antara sekian banyak warisan budaya Aceh, Tari Saman menjadi yang paling mendunia. Pada tanggal 24 November 2011, dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Bali, Tari Saman resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Pelindungan Mendesak.
Penetapan ini bukan sekadar piagam penghargaan, melainkan amanat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya yang sangat heroic tersebut. Apa yang membuat Tari Saman begitu istimewa? Tarian seribu tangan, demikian dunia menyebutnya berasal dari dataran tinggi Gayo, tepatnya Kabupaten Gayo Lues, dan dapat dilacak keberadaannya hingga abad ke-13.
Tarian ini awalnya merupakan permainan rakyat bernama “Pok Ane”, yang kemudian dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan Islam di Tanah Gayo. Syekh Saman menambahkan syair-syair religi berisi pujian kepada Allah SWT dan pesan-pesan moral yang diiringi kombinasi tepukan tangan para penari. Dengan demikian, Tari Saman bukan sekadar tarian hiburan, melainkan juga media dakwah Islam yang efektif.
Keunikan Tari Saman terletak pada gerakannya yang dinamis, cepat, dan kompak tanpa menggunakan alat musik apa pun. Para penari laki-laki duduk berlutut dalam barisan rapat, mengenakan kostum hitam bersulam motif Gayo warna-warni yang melambangkan alam dan nilai-nilai luhur. Gerakan utamanya meliputi tepuk tangan, tepuk dada, dan tepuk paha, serta gerakan kepala yang dinamis, semuanya mencerminkan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Posisi duduk yang mirip dengan dua sujud dalam salat menyimbolkan pengaruh Islam yang kuat dalam tarian ini.
Tari Saman bukanlah satu-satunya warisan budaya Aceh yang mendunia. Tari Seudati dari Pase, Tari Likok Pulo dari Aceh Besar, Tari Rateb Meuseukat, Tari Tarek Pukat, dan puluhan tarian tradisional lainnya turut memperkaya khazanah budaya Aceh. Bahkan, sebanyak 12 karya seni Aceh telah dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Nasional, termasuk Rumoh Aceh, berbagai tarian tradisional, dan kesenian rakyat lainnya. Keberagaman ini mencerminkan betapa kayanya budaya Aceh, sebuah provinsi yang dihuni beragam etnis dengan bahasa dan adat yang berbeda, namun tetap dibingkai dalam nilai-nilai syariat Islam.
Warisan budaya Aceh yang diakui dunia ini bukan sekadar kebanggaan masa lalu. Ia adalah aset hidup yang harus terus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan. Di sinilah peran ISBI Aceh menjadi sangat krusial. Sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni budaya di Aceh, ISBI memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk memastikan bahwa Tari Saman, Tari Seudati, dan seluruh warisan budaya Aceh lainnya tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman. Dengan kata lain, warisan budaya yang telah diakui dunia ini membutuhkan “rumah” yang layak untuk terus hidup dan rumah itu adalah ISBI Aceh.
Peran Strategis ISBI Aceh dalam Mengembalikan Kejayaan Aceh
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh didirikan pada 6 Oktober 2014 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 126 Tahun 2014, dan diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak awal berdirinya, ISBI Aceh telah berkomitmen untuk melestarikan tradisi dan warisan budaya Aceh yang kaya, sekaligus menciptakan inovasi-inovasi baru dalam seni. Dengan dua jurusan utama Jurusan Seni Pertunjukan (meliputi Seni Karawitan, Tari, Teater, Kajian Sastra dan Budaya, serta Bahasa Aceh) dan Jurusan Seni Rupa dan Desain (meliputi Kriya Seni, Seni Rupa Murni, Desain Komunikasi Visual, serta Desain Interior), ISBI Aceh menjadi pusat pendidikan tinggi seni yang komprehensif.
Namun, peran ISBI Aceh jauh melampaui fungsi pendidikan biasa. Ia diharapkan menjadi ujung tombak pengembangan budaya lokal. Bupati Aceh Besar, Mukhlis Basyah, dalam peletakan batu pertama pembangunan gedung ISBI Aceh, menyatakan bahwa kehadiran ISBI di Aceh merupakan bukti komitmen pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya sebagai warisan leluhur. Ia juga menegaskan bahwa ISBI sebagai perguruan tinggi seni budaya diharapkan dapat mengembangkan dan membumikan warisan budaya Aceh dan Nusantara.
Dalam konteks yang lebih luas, ISBI Aceh diharapkan menjadi “Bappeda” untuk bidang seni dan budaya Aceh. Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah I Aceh, Piet Rusdi, dengan tegas menyatakan bahwa ISBI Aceh harus menjadi lokomotif pembangunan seni dan budaya, bukan hanya wadah pendidikan, tetapi juga pusat riset, rekomendasi kebijakan, dan penggerak industri kreatif berbasis kearifan lokal. “Jika Aceh punya bappeda untuk ekonomi dan infrastruktur, maka seni dan budaya juga butuh arah kebijakan yang terukur. Dan siapa lagi yang paling layak memegang peran itu kalau bukan ISBI Aceh,” ujarnya.
ISBI Aceh telah menunjukkan kemampuannya dalam mengemban amanah besar ini melalui berbagai program dan kegiatan strategis. Salah satu yang paling monumental adalah penyelenggaraan Kongres Peradaban Aceh (KPA) II pada tahun 2024 di Kampus ISBI Aceh, Jantho. Kongres yang mengusung tema “Pemerkasaan Seni dan Budaya Aceh di Era Kecerdasan Buatan” ini dihadiri oleh sekitar 2.000 peserta dari dalam dan luar negeri, dan menghasilkan 21 butir rekomendasi strategis untuk kemajuan kebudayaan Aceh. Lebih penting lagi, kongres ini memutuskan bahwa KPA 2026 akan mengangkat tema “Penguatan Peradaban Gayo” dan dilaksanakan di Takengon, Aceh Tengah, serta menetapkan bahwa pelaksanaan KPA dilakukan dua tahun sekali secara berkelanjutan. ISBI Aceh dimandatkan untuk bertanggung jawab terhadap keberlanjutan pelaksanaan KPA berikutnya.
Selain KPA, ISBI Aceh juga menjadi tuan rumah International Conference on Aceh Civilization (ICoAC) ke-2 pada Oktober 2025. Konferensi internasional ini menjadi wadah dialog akademik lintas negara tentang seni, budaya, dan peradaban kontemporer secara global, dengan menghadirkan pemateri dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Menurut panitia pelaksana, kehadiran para narasumber dari luar negeri menunjukkan bahwa ISBI Aceh kini mulai dikenal sebagai pusat diskursus budaya di kawasan regional. ICoAC bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga momentum diplomasi kebudayaan.
Di ranah pendidikan dan pelestarian budaya, ISBI Aceh terus melakukan terobosan. Program studi yang ditawarkan dirancang untuk menggabungkan teori dan praktik, memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari sejarah dan teori seni, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis. Dalam Program Studi Seni Tari, mahasiswa diajarkan berbagai tarian tradisional Aceh seperti Tari Saman, Seudati, Likok Pulo, dan Ratoh Jaroe. Program Studi Seni Musik mencakup pembelajaran tentang alat musik tradisional Aceh seperti seurune kalee, rapa-i, dan gendang. Bahkan, ISBI Aceh telah membuka Program Studi Bahasa Aceh sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian bahasa daerah yang terancam punah.
Inovasi digital juga menjadi fokus ISBI Aceh. Podcast “Meudrah” adalah salah satu contoh nyata bagaimana kampus ini memanfaatkan media digital untuk menjangkau publik yang lebih luas. Dengan merekam diskusi-diskusi bermakna di berbagai lokasi di seluruh Aceh, “Meudrah” menjadi ruang belajar digital yang dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Selain itu, dosen-dosen ISBI Aceh juga menggagas berbagai program kreatif seperti Workshop Visualisasi Hikayat Aceh, yang mengolah warisan sastra klasik menjadi karya seni rupa kontemporer.
“ISBI Aceh memiliki tanggung jawab akademik sekaligus moral untuk menjaga warisan budaya,” ujar Dr. Angga Eka Karina, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISBI Aceh. Kolaborasi menjadi kunci strategi ISBI Aceh. Kampus ini secara aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, Dewan Kesenian Aceh, Balai Pelestarian Kebudayaan, komunitas seniman, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi ini melahirkan berbagai program yang saling menguatkan, mulai dari trauma healing berbasis seni bagi korban bencana hingga festival seni rupa Islam internasional.
Pada tahun 2025, misalnya, ISBI Aceh menjadi tuan rumah perayaan Hari Seni Islam Internasional yang ditetapkan UNESCO, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa kampus di lereng Bukit Jantho ini mampu menjawab panggung global. Tantangan infrastruktur dan keterbatasan fasilitas memang masih membayangi. Lahan seluas 30 hektar yang dihibahkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar masih didominasi ruang-ruang kosong. Laboratorium seni, studio, galeri, dan peralatan pendukung pembelajaran masih belum memadai. Namun, di balik keterbatasan itu, semangat untuk terus maju tetap menyala.
Dengan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, serta kerja keras kolektif seluruh sivitas akademika, ISBI Aceh perlahan tapi pasti terus membangun dirinya menjadi pusat peradaban seni di ujung barat Nusantara.











