"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Opini  

OTW: Kesalahan Kecil yang Terlalu Sering Diabaikan

Mengenal “OTW” dan Dampaknya yang Tidak Terduga

Jujur saja, saya pernah menjadi pelaku aktif dari kejahatan kecil bernama “OTW” (On The Way). Kejahatan ini tidak merugikan negara atau masuk berita utama, tetapi dampaknya cukup terasa bagi orang-orang yang menunggu.

Pada suatu hari, seorang teman sudah menunggu di sebuah kafe. Kami dijadwalkan bertemu jam 4 sore. Pada pukul 3.55, saya masih di rumah. Bukan dalam proses bersiap, melainkan tenggelam dalam tontonan, dengan perasaan bahwa waktu masih panjang.

Lalu pesan masuk: “Udah di mana bro?” Tanpa banyak berpikir, jempol saya langsung merespons lebih cepat dari tubuh saya: “OTW ya.” Padahal, jelas belum.

Anehnya, setelah mengirim pesan itu, saya malah tambah santai. Seolah dengan bilang “OTW”, saya sudah bergerak. Padahal kenyataannya, saya masih di posisi yang sama, hanya beda status doang, dari orang yang belum berangkat jadi orang yang ngaku sudah berangkat.

Dalam lima menit berikutnya, saya masih di rumah. Hingga setengah jam kemudian, masih asik. Baru setelah itu muncul sedikit panik. Bukan karena telat, tapi karena sadar bahwa “OTW” saya sudah mulai basi.

Di situasi itu, saya langsung bergerak. Tanpa mandi dan gosok gigi. Cuma semprot parfum, seolah itu cukup. Aromanya wangi, tapi nasib tetap nekat. Yang penting berangkat dulu, urusan malu belakangan.

Sepanjang jalan, saya sibuk merancang beberapa alasan. Macet, parkiran penuh, atau alasan klasik seperti “tadi ada urusan sebentar.” Semua itu terasa lebih mudah daripada mengakui satu hal sederhana: Saya memang belum berangkat saat bilang “OTW”.

Sampai di kafe, teman saya cuma bilang, “Lama juga ya OTW-nya.” Saya cuma bisa tersenyum, tapi di dalam hati mulai merasa bersalah karena dia sudah menunggu hampir satu jam.

Dengan nada pelan, saya mencoba menjawab, “Tadi ada tamu keluarga.” Seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya. Dia ketawa, saya ikut ketawa. Tapi di dalam hati, ada rasa kecil yang agak tidak enak. Bukan karena telatnya, tapi karena saya tahu saya baru saja menjual dua huruf murah yang nilainya lebih mahal dari yang saya kira.

Kebiasaan yang Membuat Kita Tidak Jujur

Kebohongan kecil yang terlalu sering dipakai, lama-lama terasa seperti kebenaran. Dia bisa jadi jebakan. Awalnya dipakai biar aman, tapi lama-lama membuat kita terbiasa tidak jujur meskipun cuma sedikit.

Dan yang paling bahaya, kita jadi kebal dan terbiasa. Tidak merasa itu masalah lagi.

Selain itu, kebiasaan bilang “OTW” padahal belum jalan juga soal memberi harapan ke orang lain. Begitu kita bilang “OTW”, kesannya kita sudah dekat, padahal belum tentu. Jika harapan itu tidak kejadian, yang muncul bukan cuma telat, tapi juga kecewa kecil yang berulang. Jika terus begitu, lama-lama kepercayaan bisa ikut terkikis, bukan karena kesalahan besar, tapi karena kebiasaan kecil yang tidak sesuai terus diulang.

Perubahan Kebiasaan

Sekarang, saya masih kadang telat. Masih manusia. Tapi setidaknya saya berusaha mengurangi satu kebiasaan: bilang “OTW” sebelum benar-benar jalan.

Kadang saya ganti dengan, “Masih di rumah, 15 menit lagi ya.” Memang terasa lebih “nanggung”. Tidak se-keren “OTW”. Tapi entah kenapa, rasanya lebih lega. Tidak perlu kejar-kejaran sama kebohongan sendiri di jalan.

Karena ternyata, yang bikin capek itu bukan telatnya. Tapi menjaga cerita supaya terlihat tepat waktu.

Pelajaran yang Didapat

Dari semua pelajaran kecil itu, saya akhirnya paham: “OTW” itu bukan sekadar perjalanan. “OTW” mungkin terdengar sepele. Namun dalam konteks tertentu, ia adalah cermin: tentang seberapa jauh kita bersedia jujur, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menuntutnya.

Kalau dipikir-pikir, mungkin suatu hari nanti akan ada kamus versi jujur: OTW = “Orang Tunda Waktu”. Dan kalau itu benar terjadi, saya rasa kita semua pernah jadi penulisnya minimal satu dua kali, dengan wajah santai dan jempol yang terlalu percaya diri.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *