"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Masih Pantau Kenaikan Harga Bahan Pokok, Pemkot Malang Belum Ambil Langkah Intervensi

Pemantauan Harga Bahan Pokok di Kota Malang

Pemerintah Kota Malang terus memantau pergerakan harga bahan kebutuhan pokok di pasar sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kenaikan harga. Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis data menjadi prioritas sebelum mengambil kebijakan.

“Kami lihat data dulu, kemudian cek langsung ke lapangan. Kalau ada kenaikan harga, kami telusuri sampai ke distributor untuk mengetahui penyebabnya,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Setelah mengetahui faktor pemicu kenaikan, hasil pemantauan tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan untuk menentukan langkah intervensi yang tepat. “Setelah itu kami laporkan ke pimpinan untuk menentukan langkah berikutnya, apakah perlu pasar murah, sembako murah, atau warung tekan inflasi,” jelasnya.

Eko menegaskan bahwa pemantauan harga dilakukan secara rutin, termasuk pengecekan langsung ke pasar untuk memastikan kondisi riil di lapangan. “Besok kami juga akan cek lagi ke lapangan,” katanya.

Menurutnya, kebijakan pengendalian harga secara menyeluruh tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat, terutama jika kenaikan dipicu oleh faktor nasional atau global. “Pemerintah pusat yang akan mengambil kebijakan besar. Daerah tugasnya memantau dan menyiapkan langkah strategis,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas yang dipengaruhi harga pabrikan. “Kalau dari pabrikan naik, itu pasti berdampak. Kita menunggu arahan lebih lanjut dari pusat,” jelasnya.

Meski demikian, ia memastikan bahwa hingga saat ini kenaikan harga sembako di Kota Malang masih dalam batas yang dapat dijangkau oleh masyarakat. “Yang penting saat ini kenaikannya masih terjangkau,” pungkasnya.

Penilaian dari DPRD Kota Malang

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji, menilai bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas saat ini tidak bisa ditangani hanya di tingkat daerah, karena dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, khususnya harga minyak dunia. “Kalau kita lihat, kenaikan sembako ini efek dari minyak dunia. Hampir semua terdampak, termasuk pupuk dan bahan pendukung lainnya,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Ia mencontohkan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pangan, tetapi juga pada komponen pendukung seperti plastik. Bayu yang juga memiliki usaha katering menceritakan kenaikan harga. “Plastik naik dua kali lipat, katering juga naik. Itu sudah terasa sejak sebulan terakhir,” katanya.

Intervensi Pemda

Menurut Bayu, intervensi yang dilakukan pemerintah daerah melalui operasi pasar hanya bersifat jangka pendek untuk menenangkan kondisi pasar. Untuk solusi yang lebih efektif, diperlukan kebijakan fiskal di tingkat nasional. “Kalau hanya mengandalkan anggaran di daerah, itu hanya untuk menenangkan pasar. Kalau ingin lebih tajam, harus ada intervensi nasional,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang tidak bisa menanggung beban tersebut sendirian karena kebijakan yang memengaruhi harga bersifat nasional bahkan internasional. “Pemkot tidak bisa sendiri, harus koordinasi dengan pemerintah pusat. Ini bukan hanya masalah daerah,” tegasnya.

Bayu menyebut, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Pemkot Malang untuk membahas langkah mitigasi yang bisa dilakukan dalam menghadapi kenaikan harga tersebut.


Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *