Analisis Narasi Media tentang Kelas Menengah
Sebuah analisis yang dilakukan oleh Databoks pada periode 1 Januari 2025 hingga 20 Februari 2026 mengungkapkan enam temuan utama terkait narasi media mengenai kelas menengah. Salah satu poin utamanya adalah bahwa kelas menengah sering kali dilihat sebagai motor konsumsi, namun rentan terhadap tekanan ekonomi. Pemberitaan media sering kali menghubungkan kondisi kelas menengah dengan dinamika konsumsi rumah tangga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.
“Perlambatan konsumsi dari kelompok ini dipandang sebagai indikator penting bagi stabilitas ekonomi nasional,” kata tim Databoks dalam laporan bertajuk “Kelas Menengah di Ambang Kerentanan”. Laporan tersebut merupakan hasil dari analisis sentimen di media sosial.
Kelas menengah didefinisikan sebagai rumah tangga yang memiliki pengeluaran antara Rp 8,5 juta hingga Rp 41,4 juta per bulan. Pada periode 2019 hingga 2025, jumlah kelas menengah menurun dari 57,3 juta jiwa menjadi sekitar 46,7 juta jiwa. Sebagian dari mereka berpindah ke kelompok aspiring middle class.
Perubahan Pola Belanja Kelas Menengah
Pola belanja kelas menengah Indonesia mengalami perubahan. Banyak dari mereka mulai memilih barang diskon atau merek lokal. Survei menunjukkan bahwa 37% kelas menengah merasa kebijakan pemerintah tidak berpihak kepada mereka. Ekonom juga menyebutkan bahwa biang kerok kelas menengah tergerus adalah polarisasi ekonomi.
Isu Utama yang Menggerus Stabilitas Ekonomi Rumah Tangga
Temuan kedua dari analisis Databoks menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup menjadi isu utama yang menggerus stabilitas ekonomi rumah tangga. Inflasi pada Januari 2026 mencapai 3,55% secara tahunan (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam delapan kuartal terakhir berada di bawah 5%. Hal ini mencerminkan pemulihan yang berlangsung bertahap di tengah tekanan harga dan dinamika pasar tenaga kerja.
“Media menyoroti meningkatnya biaya pangan, pendidikan, kesehatan, dan perumahan yang semakin menekan daya beli kelas menengah dalam memenuhi kebutuhan jangka panjang,” ujar tim Databoks dalam riset tersebut.
Tantangan Mobilitas Ekonomi Kelas Menengah
Temuan ketiga menunjukkan bahwa kelas menengah menghadapi tantangan utama dalam mobilitas ekonomi karena terbatasnya akses kepemilikan rumah. Kenaikan harga properti dan keterbatasan akses pembiayaan perumahan membuat kelas menengah berada di posisi antara tidak memenuhi syarat subsidi dan kesulitan mengakses pasar properti komersial.
Dampak Kebijakan Jaminan Kesehatan
Pada temuan keempat, kebijakan jaminan kesehatan dipersepsikan berdampak langsung pada keuangan rumah tangga. Isu BPJS Kesehatan dan keberlanjutan pembiayaan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sering dikaitkan dengan kontribusi kelas menengah sebagai pembayar iuran yang menanggung sebagian besar pembiayaan sistem kesehatan nasional.
Stabilitas Pekerjaan sebagai Faktor Penentu Ketahanan Kelas Menengah
Temuan kelima menunjukkan bahwa stabilitas pekerjaan diposisikan sebagai faktor penentu ketahanan kelas menengah. Isu pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian pasar kerja, dan perubahan struktur ketenagakerjaan sering dikaitkan dengan risiko penurunan status ekonomi rumah tangga kelas menengah.
Peran Kelas Menengah dalam Diskursus Kebijakan Ekonomi
Poin keenam dari analisis Databoks menyebutkan bahwa kelas menengah juga dipandang sebagai kelompok yang strategis dalam diskursus kebijakan ekonomi. Media sering menempatkan kelas menengah dalam pembahasan kebijakan pajak, perlindungan sosial, serta strategi pertumbuhan ekonomi. Hal ini terkait dengan peran kelas menengah dalam kontribusi fiskal dan konsumsi domestik.
Pembicaraan di Media Sosial Didominasi Sentimen Negatif
Selama periode 1 Januari 2025 hingga 20 Februari 2026, analisis Databoks menunjukkan total percakapan di media sosial tentang kelas menengah didominasi sentimen negatif sebesar 51%. Pemberitaan media didominasi laporan tentang tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat, terutama terkait pelemahan daya beli akibat kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan dan ancaman PHK, serta stagnasi pendapatan.
Hal lain yang menambah sentimen negatif adalah beban kebijakan pajak, persoalan pembiayaan layanan kesehatan (BPJS Kesehatan), dan kesulitan akses perumahan.
Sementara itu, sentimen positif ditunjukkan 28,9% pengguna media sosial. Pemberitaan media yang mengundang sentimen positif menunjukkan narasi mengenai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yang terlihat dari pembahasan tentang penurunan kemiskinan dan ketimpangan, program bantuan pemerintah dan bantuan sosial, akses layanan kesehatan lewat BPJS, serta perlindungan pasien dan perlindungan konsumen dalam layanan publik.
Adapun pengguna media sosial yang menunjukkan sentimen netral sebesar 20,2%.
Analisis ini dilakukan terhadap 6.928 artikel media pada periode Januari 2025 hingga Februari 2026. Analisis menggunakan metode digital data collection di media online, Instagram, TikTok, dan X (Twitter) dengan total data mencapai 54.434.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











