Perbedaan dalam Kehidupan Beragama
Pernahkah kita berdiri di bawah langit senja menjelang Idulfitri dan merasakan suasana yang lebih riuh dari biasanya? Riuh itu bukan karena gema takbir yang mulai bersahutan, melainkan oleh sebuah tanya yang berulang di ruang publik: “Besok kita Lebaran, atau lusa?” Fenomena ini sering kali menjebak kita dalam sekat-sekat angka dan kalender. Padahal, jika kita meresapi seloroh bernas almarhum KH. Hasyim Muzadi, yang berbeda itu hanyalah tanggalnya—bukan Tuhan yang kita sembah, bukan kiblat yang kita tuju, dan bukan pula esensi sujud yang kita lakukan.
Kita bersujud di bawah langit yang sama, menghadap titik pusat yang sama, dan mengharap rida dari Zat yang Maha Tunggal. Perbedaan itu, sejatinya, hanyalah tentang bagaimana manusia mengeja waktu.
Dua Cara Membaca Rindu
Dalam khazanah keislaman di Indonesia, kita mengenal dua “kekasih” besar: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Keduanya memiliki cara unik dalam menanti datangnya bulan suci.
- Nahdlatul Ulama (NU) menatap langit dengan penuh rindu, ibarat seorang tuan rumah yang setia menanti tamu di ambang pintu. Sang rembulan harus tampak nyata di pelupuk mata (rukyah) sebelum dipersilakan masuk. Ada kehati-hatian dan kerinduan fisik yang harus dituntaskan.
- Muhammadiyah melangkah dengan kepastian ilmu. Melalui perhitungan (hisab) yang presisi, jika tamu itu dipastikan sudah berada dalam perjalanan dan garis waktu telah terlewati, maka pintu segera dibuka seluas-luasnya.
Ini adalah dua metodologi, dua cara pandang ilmiah, namun tetap berada dalam satu napas keimanan. Keduanya adalah ijtihad yang terhormat. Kita harus menyadari bahwa kebenaran metodologis tidak selalu harus seragam untuk menjadi sah.
Logika Pasar vs Kedalaman Fikih
Ada sebuah fragmen menarik saat Bapak Jusuf Kalla, dengan logika saudagar yang praktis, mencoba menawarkan jalan tengah agar umat tidak bingung: “Bagaimana kalau Muhammadiyah turun satu derajat, dan NU naik satu derajat?” Sebuah usul kompromi yang jenaka dan penuh keakraban. Namun, fikih bukanlah komoditas pasar yang bisa ditawar dengan diskon di tengah jalan. Logika dagang yang mengedepankan profit-loss tak selalu bisa menjamah kedalaman ilmu falak dan keteguhan prinsip ijtihad.
Pelajaran besarnya bukan tentang menyeragamkan angka, melainkan menyatukan pemahaman bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Di alam semesta ini, waktu tidak pernah seragam. Seseorang bisa terbang dari Narita pada Jumat sore dan mendarat di California tetap di Jumat pagi. Waktu hanyalah kesepakatan manusia dalam membaca gerak bumi; ia tidak absolut. Maka perbedaan satu hari dalam 1 Syawal seharusnya tidak dipandang lebih besar daripada perbedaan zona waktu dunia.
Kekuatan dalam Keberpasangan
Jika kita melihat lebih dalam, NU dan Muhammadiyah bukan hadir untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling menggenapi:
- NU (Kekuatan Akar Rumput): Mengakar kuat di denyut nadi kampung, langgar-langgar tua, dan merawat tradisi yang menghidupkan spiritualitas lokal. NU adalah penjaga “rasa” dan budaya.
- Muhammadiyah (Kekuatan Sistem): Kokoh dalam organisasi yang rapi, universitas yang megah, dan manajemen modern yang melayani umat secara profesional. Muhammadiyah adalah penggerak “logika” dan kemajuan.
NU mungkin sulit untuk seformal Muhammadiyah, dan Muhammadiyah mungkin tak se-organik NU. Namun, bukankah keindahan peradaban justru lahir dari keberagaman peran ini?
Filosofi Sepasang Sandal
Bayangkanlah kedua organisasi besar ini sebagai sepasang sandal. Sandal kanan dan kiri tidak akan pernah sama bentuknya. Jika keduanya sama-sama kanan, mereka tidak akan pernah bisa dipakai untuk melangkah. Justru karena perbedaan lengkungan dan bentuk itulah, mereka menjadi fungsional. Mereka diciptakan berbeda untuk satu tujuan mulia: agar sang pemilik bisa berjalan menuju tujuannya.
Sejarah Republik Indonesia tegak di atas jejak dua sandal tersebut. Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan Kiai Ahmad Dahlan adalah dua nama besar dengan satu arah kompas yang sama: Indonesia. Mereka tidak mendirikan organisasi untuk memenangkan ego kelompok, melainkan untuk menanam fondasi rumah bersama bernama bangsa.
Penutup: Berjalan Lebih Jauh
Setiap kali kita mulai merasa gerah dengan perbedaan tanggal atau khilafiyah lainnya, ingatlah bahwa kita sedang mengenakan sepasang sandal yang berbeda sisi. Kita boleh saja mencoba melepas salah satunya dan berdiri dengan satu kaki, tapi ingatlah satu hal: kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika hanya menggunakan sebelah saja.
Mari terus melangkah dalam harmoni. Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang seragam, melainkan bangsa yang mampu membuat langkah kanan dan kiri saling menopang dalam irama yang sama menuju rida Ilahi.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











