"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Transformasi Transportasi Umum untuk Kemandirian Energi RI

Ketergantungan pada BBM dan Strategi Elektrifikasi untuk Swasembada Energi

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi mencapai 91,2 persen dari total konsumsi BBM nasional. Dari porsi tersebut, sebanyak 93 persen penyaluran BBM subsidi digunakan oleh kendaraan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa sektor transportasi menjadi pengguna terbesar BBM di Indonesia. Untuk mengatasi ketergantungan ini, Presiden Prabowo Subianto berencana menggencarkan program elektrifikasi guna mewujudkan swasembada energi.

Beberapa program yang akan dilaksanakan antara lain pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan pabrik kendaraan listrik. Dengan adanya program-program ini, diharapkan Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar minyak dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Tren Konsumsi BBM di Indonesia

Berdasarkan data dari Handbook Statistik Energi dan Ekonomi Indonesia 2024 yang dirilis oleh Kementerian ESDM, konsumsi BBM di Indonesia selama satu dekade terakhir (2014–2024) menunjukkan tren yang fluktuatif. Meski sempat terkontraksi ke angka 65.290 ribu kiloliter pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, konsumsi segera bangkit dan terus meningkat secara bertahap dari tahun 2021. Pada tahun 2021, konsumsinya mencapai 69.766 ribu kiloliter, lalu meningkat menjadi 77.793 ribu kiloliter pada tahun 2022, 79.837 ribu kiloliter pada tahun 2023, dan mencapai puncaknya di angka 82.319 ribu kiloliter pada tahun 2024.

Sektor transportasi tetap menjadi pengguna BBM terbesar di Indonesia. Dominasi sektor ini semakin menguat; pada tahun 2014, transportasi menyerap 79,5 persen dari total konsumsi (setara 56.235 ribu kiloliter). Angka ini melonjak tajam dalam sepuluh tahun kemudian, sehingga pada tahun 2024 porsinya meningkat menjadi 91,2 persen atau mencapai 75.098 ribu kiloliter. Dari porsi itu, transportasi darat menyumbang 90 persen, transportasi perairan 6 persen, dan transportasi udara 4 persen.

Langkah Strategis untuk Mengurangi Konsumsi BBM

Untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, diperlukan langkah-langkah strategis yang efektif. Berikut beberapa langkah utama:

  • Percepatan migrasi ke transportasi umum berbasis listrik

    Membawa pengguna kendaraan pribadi ke transportasi publik adalah langkah efektif untuk mengurangi konsumsi BBM. Di Kota Medan, semua armada Trans Metro Deli sudah menggunakan kendaraan listrik. Selain itu, integrasi antarmoda dengan memastikan konektivitas yang mulus antara KRL, MRT, LRT, dan pengumpan (feeder) agar masyarakat tidak punya alasan untuk menggunakan kendaraan pribadi.

  • Format ulang subsidi energi yang tepat sasaran

    Subsidi BBM seringkali dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi. Digitalisasi penyaluran menggunakan sistem verifikasi berbasis data (seperti aplikasi atau sensor plat nomor kendaraan) dapat memastikan BBM bersubsidi hanya dikonsumsi oleh angkutan umum dan logistik. Selain itu, relokasi anggaran dengan mengalihkan sebagian anggaran subsidi BBM untuk membangun infrastruktur pengisian daya listrik (SPKLU), jalur sepeda, dan perbaikan trotoar bagi pejalan kaki.

  • Insentif kendaraan listrik (EV) dan Mikro-Mobilitas

    Pemerintah perlu mendorong adopsi kendaraan listrik di level individu, terutama motor listrik yang populasi dan konsumsi energinya sangat besar di Indonesia. Subsidi konversi dengan memberikan bantuan dana yang lebih besar bagi masyarakat yang ingin mengubah motor bensinnya menjadi motor listrik. Fasilitas jalur khusus juga diperlukan untuk mendukung penggunaan sepeda listrik dan skuter sebagai solusi last-mile.

  • Optimalisasi logistik jalur rel

    Krisis energi berdampak besar pada harga pangan karena biaya distribusi menggunakan truk sangat bergantung pada harga solar. Rel ganda (double track) mempercepat pembangunan rel ganda untuk angkutan barang agar beban logistik berpindah dari jalan raya ke kereta api yang jauh lebih efisien secara energi. Mengaktifkan jalur rel yang pernah beroperasi, baik di Pulau Jawa maupun di Pulau Sumatera, juga penting.

  • Pengembangan bahan bakar nabati (biofuel)

    Memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk mengurangi impor energi. Peningkatan kadar campuran, seperti B40 atau B50 (biodiesel), harus tetap menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan dan energi (food vs fuel).

Penambahan Anggaran untuk Transportasi Umum

Sejak diluncurkan pada 2020, program subsidi layanan transportasi darat kini telah beroperasi di 15 kota. Namun, alokasi anggaran yang terbatas membuat realisasi program ini diragukan. Diperlukan alokasi anggaran yang lebih besar serta pemberian stimulan atau DAK dari Ditjen Perhubungan Darat bagi daerah-daerah baru.

Dukungan Pengembangan Produksi Nasional

Pengembangan bus listrik nasional yang diinisiasi oleh PT Inka melalui kolaborasi 4 perguruan tinggi (UGM, ITS, Universitas Airlangga dan ISI Denpasar) dan industri karoseri lokal Piala Mas telah membuktikan kemampuannya sejak pertemuan G20 Bali 2022. Armada tersebut kini dioperasikan sebagai transportasi publik di Bandung, Surabaya, dan kawasan TMII. Dengan potensi yang besar, pemerintah perlu memberikan dukungan strategis untuk memastikan pengembangan bus listrik produksi PT Inka ini terus berlanjut.

Melalui integrasi kebijakan yang komprehensif, mulai dari reformasi subsidi, dukungan terhadap produksi bus listrik nasional, hingga optimalisasi logistik jalur rel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari krisis energi. Langkah strategis ini bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, melainkan investasi jangka panjang demi stabilitas fiskal dan kesejahteraan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *