"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Bisnis  

NPF Multifinance 2026 Naik, Industri Perketat Mitigasi Risiko



JAKARTA — Perusahaan pembiayaan perlu lebih selektif dalam memilih calon debitur untuk menjaga kinerja keuangan di tengah langkah efisiensi yang dilakukan pemerintah. Dalam kebijakan terbaru, pemerintah akan melakukan penghematan subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp65,2 triliun dan penyesuaian anggaran hingga Rp130,2 triliun di tengah tekanan daya beli masyarakat.

Sebelum langkah penghematan dilakukan, tekanan pada daya beli masyarakat juga sudah terlihat terlebih dahulu pada segmen kemampuan bayar angsuran kendaraan bermotor. Pada Januari 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat non-performing finance (NPF) industri multifinance meningkat menjadi 2,72%. Angka ini meningkat dibandingkan posisi Desember 2025 yang berada di level 2,51%.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menyampaikan bahwa ada sejumlah perusahaan pembiayaan yang NPF-nya di atas 5%. Kondisi ini terus menjadi perhatian dalam pengawasan pihaknya. Meski demikian, dia tidak merincikan berapa jumlah pasti perusahaan yang NPF-nya di atas 5% tersebut. Agusman hanya mengungkapkan bahwa tingginya NPF tersebut terjadi pada proyek-proyek di wilayah tertentu.

“Dari sisi lokasi proyek, pada Desember 2025, NPF bruto tertinggi tercatat di Sukoharjo, sedangkan per Januari 2026, NPF bruto tertinggi berada di Kabupaten Kerinci,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK OJK Februari 2026.

Untuk menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat, dia mendorong perusahaan pembiayaan untuk memperkuat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran, meningkatkan kualitas manajemen risiko dan pemantauan piutang secara berkelanjutan, serta mengoptimalkan upaya penagihan.

Senada dengan pendapat Agusman, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai agar NPF tetap terjaga, perusahaan pembiayaan perlu lebih selektif memilih calon debitur. Menurutnya, perusahaan bisa menggunakan peer review dari wawancara tetangga atau kolega debitur di tempat kerja. Kemudian, lanjutnya, perusahaan juga bisa memanfaatkan teknologi credit scoring berbasis geografis untuk mengecek apakah lokasi sekitar domisili debitur banyak kredit macetnya atau tidak, hal ini untuk menjadi pertimbangan pemberian kredit.

“Kemudian lebih aktif jemput bola untuk collection ke debitur yang mulai menunjukkan keterlambatan pembayaran cicilan. Penetapan limit sektor kredit juga bisa membantu mitigasi risiko, misalnya sektor sepeda motor jenis tertentu yang data NPF nya tinggi, mungkin bisa dibatasi,” katanya kepada Bisnis.

Baginya, NPF pada awal tahun menyentuh 2,72% dikarenakan faktor daya beli masyarakat yang melemah, terutama kelompok debitur menengah rentan dan bawah. Misalnya, di sektor kendaraan bermotor meski ada banyak promo uang muka (DP) yang murah, tapi cicilan bulanan dan bunga nya dirasa jadi tantangan. Selain karena hal itu, Bhima turut menyebut pendapatan masyarakat kian tergerus seiring inflasi pangan yang naik dan sulitnya lapangan kerja di sektor formal. Bahkan, PHK juga turut memengaruhi NPF yang naik secara bulanan pada awal 2026.

“Tahun 2025 jumlah PHK juga melonjak 88.519 orang, dan sebagian korban PHK kreditnya pasti jadi NPF. Ada juga fenomena jual beli motor STNK only tanpa BPKB, karena belum lunas, ini praktik yang mendorong NPF naik juga di sektor pembiayaan kendaraan bermotor,” bebernya.

Lebih jauh, dia berpendapat apabila NPF di industri pembiayaan terus naik, maka profitabilitas multifinance akan terganggu, yang dibarengi dengan kekhawatiran risiko menular ke sektor jasa keuangan lain termasuk ke asuransi kredit dan perbankan.

Sementara itu, praktisi dan pengamat industri pembiayaan Jodjana Jody menilai kenaikan NPF pada awal tahun adalah pola musiman yang lazim terjadi di industri. Pada akhir tahun, rasio NPF umumnya mengalami penurunan seiring upaya perusahaan mengejar kinerja. “Namun yg perlu dicatat adalah NPF sekitar 2,7% itu sudah cukup lama bertengger selama setahun terakhir ini, artinya secara rata-rata industri masih mengalami pemburukan portofolio,” ucapnya.

Jodjana meneruskan, apalagi tahun ini industri pembiayaan dihadapi tantangan kenaikan biaya hidup akibat perang di Iran dengan Israel-AS, yang sudah terlihat menyebabkan disrupsi supply chain, inflasi yang juga akan memperburuk keadaan di Indonesia. “Strategi untuk menjaga kualitas kredit adalah tetap harus memfokuskan pembiayaan di sektor yang lebih tahan guncangan akibat situasi global ini,” jelasnya.

Di lain sisi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno berpendapat NPF industri di level sekitar 2,5%—2,7% menunjukkan bahwa kredit-kredit bermasalah yang ada di perusahaan sebenarnya sudah tertangani cukup baik. Dia menjelaskan pada 2025 hampir semua perusahaan pembiayaan mengetatkan proses persetujuan kredit, terutama untuk pembiayaan mobil dan motor. Hal ini karena setelah pandemi Covid-19 berakhir atau pada 2022-2024 pertumbuhan industri cukup baik dan cepat. Namun, pada 2025, pihaknya melihat tren pembayaran cicilan dari debitur yang booking pada 2022-2024 mulai mengalami keterlambatan.

“Banyak yang mengalami kesulitan pembayaran. Nah ini kan berujungnya menjadi either di write off [dihapus buku] ataupun menjadi kredit macet. Ini mengganggu industri, perusahaan pembiayaan dan tentunya terjadi konsolidasi internal yang artinya bahwa pengetatan proses approval terjadi di tahun 2025,” jelasnya kepada Bisnis.

Sebab itu, lanjutnya, pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance pada 2025 hanya mampu tumbuh 0,61% (year on year/YoY) atau sebesar Rp506,50 triliun. Lebih lanjut, Suwandi meneruskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan gagal bayar bisa terjadi karena para debitur yang kehilangan pekerjaan dan daya belinya juga belum meningkat. Di sisi lain, perusahaan pembiayaan juga menghadapi tantangan debitur yang telah gagal bayar, tetapi tidak kooperatif. Idealnya, debitur yang tidak mampu melanjutkan cicilan dapat datang ke perusahaan untuk mengembalikan unit kendaraan.

“Kan ini kredit, sama-sama jual gitu ya malah kami mengalami kesulitan lagi di lapangan, mau melakukan eksekusi debt collector-nya dikirim malah kami yang disalahin, kan jadi bingung ya,” ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, perusahaan pembiayaan banyak yang melakukan pengetatan persetujuan kredit yang berimbas pada pertumbuhan industri juga kecil karena pembaginya tidak bertumbuh. “Nah sehingga kalau kredit macetnya meningkat itu wajar. Nah kredit macetnya meningkat dalam tingkatan 2,5%-2,7% itu kan sebenarnya sudah menunjukkan bahwa mungkin kredit-kredit yang bermasalahnya ini sudah tertangani cukup baik,” tegasnya.

Jaga NPF di Bawah 5%

Di lain sisi, Direktur Utama PT Clipan Finance Indonesia Tbk. (CFIN) atau Clipan Finance, Harjanto Tjitohardjojo menilai kenaikan NPF di level industri akan mendorong seluruh pelaku untuk lebih hati-hati dalam menyalurkan pembiayaan. “Pertumbuhan industri diperkirakan akan tetap berjalan dengan pendekatan yang lebih selektif dan berorientasi pada kualitas, guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan manajemen risiko,” katanya kepada Bisnis, Rabu (1/4/2026).

Untuk menjaga kualitas pembiayaan agar NPF tetap terkendali, CFIN konsisten menjalankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, termasuk melalui penguatan proses seleksi debitur dan pemantauan portofolio secara berkala. “Secara umum, tingkat NPF perusahaan tetap terjaga dalam batas yang aman dan sesuai dengan risk appetite yang telah ditetapkan,” bebernya.

Sementara itu, PT Mandiri Utama Finance (MUF) mencatat rasio NPF per Januari 2026 berada pada level 1,30%. Posisi tersebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,36%. Direktur sekaligus Plt. Direktur Utama MUF, Dapot Parasian S. Sinaga menyebut untuk menjaga NPF tetap berada di level terjaga, Dapot merincikan setidaknya ada beberapa faktor yang diperhatikan. Pertama, berkenaan segmentasi atau bauran portofolio (mix portfolio), yakni komposisi antara pembiayaan yang bersifat bankable dan non-bankable. “Yang kedua, ya, disiplin sebenarnya. Disiplin akuisisi dengan berbagai … kami punya underwriting macam-macam kan, ya disiplin akuisisi underwriting-nya,” ujarnya.

Selain kedua hal tersebut, Dapot turut menyoroti pentingnya penguatan fungsi collection melalui penagihan yang disiplin, mulai dari pengingat (reminder) hingga proses penarikan. Baginya, upaya itu perlu dilakukan bersamaan, sehingga NPF bisa terjaga dengan baik. “Jadi, survei nasabahnya yang benar, ngecekin nasabahnya yang benar, dan seterusnya. Kemudian yang ketiga ya handling account-nya itu tadi, mulai dari collection-nya yang disiplin,” ucapnya.

Lebih lanjut, dia menyampaikan perusahaan juga akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan di luar captive market dengan mempertimbangkan tingkat risiko di masing-masing segmen. Setali tiga uang, EVP Corporate Communication PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC), Riadi Prasodjo mengungkapkan perusahaannya konsisten menjaga kualitas pembiayaan melalui penerapan prinsip kehati-hatian. “Kemudian, memantau portofolio, menjalankan langkah mitigasi risiko dan praktik tata kelola sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kondisi NPF perusahaan masih berada dalam level yang terjaga di bawah 1%,” ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (1/4/2026).

Lebih lanjut, dia berujar bahwa secara umum kualitas pembiayaan di masing-masing segmen dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk dinamika kondisi ekonomi, perilaku konsumen, maupun karakteristik portofolio pembiayaan. “Perusahaan terus melakukan pengelolaan risiko secara menyeluruh untuk menjaga kualitas portofolio tetap terjaga di seluruh segmen,” tutupnya.

Senada, Chief Financial Officer (CFO) PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) atau Adira Finance, Sylvanus Gani menekankan pihaknya terus menerapkan prinsip manajemen risiko dengan hati-hati agar rasio NPF tetap terjadi dengan baik. “Perusahaan memberikan pembiayaan yang tersegmentasi sesuai dengan risk appetite perusahaan, dan memastikan kegiatan collection dilakukan secara efektif untuk mengurangi potensi kredit macet,” katanya kepada Bisnis. Dia meneruskan, rasio NPF Adira Finance tercatat stabil pada kisaran 2,0%. Level ini, kata Gani, relatif tidak mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya dan masih berada di bawah rata-rata industri pembiayaan.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *